Home » Listed Articles » Hadapi Tantangan Bisnis, CSP Butuh Outsourcing

Hadapi Tantangan Bisnis, CSP Butuh Outsourcing

Share :

    Proses alih daya (outsourcing) merupakan cara efektif yang dapat dilakukan oleh Communication Service Provider (CSP) untuk menangkap peluang dan meraih keunggulan kompetitif. Demikian dikemukakan oleh Dharmesh Malhotra, Head of Services Nokia Siemens Networks (NSN), Sub Region Indonesia, saat roundtable discussion di Jakarta, Senin (5/4).

    “Saat ini penyedia layanan menghadapi tantangan signifikan secara bersamaan yaitu pasar, teknologi, operasional, dan finansial. Mereka perlu menjalankan model bisnis mereka secara cepat dan hemat biaya agar menjadi kompetitif,” ujarnya.

    Layanan baru pun perlu diperkenalkan untuk mengimbangi kompetisi dan menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru yang muncul. Penggunaan mobile broadband telah meningkat pesat, sehingga meningkatkan kebutuhan terhadap kapasitas yang lebih besar dan aplikasi-aplikasi baru. “Hal ini mengarahkan pada model bisnis baru, yang terkadang dikelola bersama dengan pihak ketiga,” ujar Malhotra. Ia menambahkan, CSP dapat bekerja sama dengan multi vendor untuk keseluruhan bisnisnya.

    Head of Managed Services Asia Pasific Nokia Siemens Network, Stephen McFeeley, mengungkapkan, untuk sukses, CSP harus dapat melakukan hal-hal yang mendukung usahanya, di antaranya mempercepat sampainya solusi di pasar (time-to-market), meningkatkan efisiensi dan kualitas, menghadirkan pengalaman pengguna, serta mengembangkan dan menumbuhkan bisnis. “Market Indonesia cukup besar dan terus tumbuh. Sekitar 60%-70% operator di Indonesia berpeluang untuk melakukan proses outsourcing,” ujar Stephen. Salah satu operator di Indonesia yang telah melakukan proses outsourcing secara keseluruhan adalah Hutchison CP Telecom, operator pemegang merek 3. Sedangkan operator lain yang juga memanfaatkan jasa NSN misalnya adalah Indosat, Telkomsel, dan XL.

    NSN membantu pelanggan agar fokus pada bisnis intinya sehingga mereka dapat menempatkan diri pada peran yang mereka inginkan dalam rantai nilai (value chain) industri telekomunikasi. Dengan mengalihtugaskan beberapa aktivitas yang penting, para operator dapat berkonsentrasi pada berbagai upaya mereka di area-area penting untuk menjaga kepuasan portofolio pelanggan. “Lebih lanjut lagi kami akan mengembangkan servis, network, serta kapabilitas untuk melayani customer,” ujar Stephen.

    Share :

      SHARE SOCIAL MEDIA

      LEAVE A REPLY


      eight × 2 =