Home » Listed Articles » Investasi di Startup Lokal Mirip ‘Jackpot’

Investasi di Startup Lokal Mirip ‘Jackpot’

Share :

    Jika berbicara soal jackpot, di benak sebagian masyarakat tentu mengaitkannya dengan kemenangan besar dalam sebuah taruhan di kasino. Hal yang sama juga terjadi saat berinvestasi di startup lokal. Keuntungan bagaikan jackpot mengingat kesuksesan startup lokal masih terbilang jarang namun sekali muncul, berkapasitas besar.

    Pernyataan tersebut diungkapkan Bernhard Soebiakto, salah satu pendiri inkubator Project Eden. “Pada praktik di lapangan, kami menyadari bahwa investasi di startup bersifat jackpot. Jika kita berinvestasi di 20 perusahaan, yang sukses mungkin cuma satu perusahaan. Namun, satu start up itu mampu menutupi seluruh kerugian yang disebabkan 19 start up lainnya.” Ia menilai bahwa investor masih harus hati-hati untuk meminimalisir risiko kerugian. Namun bila peluang bisa dimanfaatkan dengan baik, memiliki hitungan bisnis yang tepat maka dana yang digelontorkan, dinilai Ben, tidak akan sia-sia.

    “Apalagi, euforia start up saat ini cukup berbeda dari kondisi dekade lalu yang memiliki penetrasi internet sangat kecil, ekosistem internet yang tidak merata, lemahnya model bisnis online dan banyak lagi. Apalagi, dulu, media internet masih sangat bergantung pada dana pemasaran di media digital,” ujar Ben. Kini, banyak produsen ponsel yang banting harga dan penyedia jaringan telekomunikasi pun berlomba-lomba menawarkan layanan internet berbiaya rendah. “Tidak hanya itu, media sosial seperti Friendster, Kaskus, Facebook dan Twitter membantu penetrasi internet di masyarakat sehingga menumbuhkan peluang start up di Indonesia.”

    Menurut Ben, kesuksesan start up terletak di pundak sang pendiri. Pemilik start up harus memiliki kemampuan bisnis dan kejelian melihat peluang pasar yang relevan dengan idenya. “Ide memang penting sekali, tetapi menjadikan ideas menjadi marketable products itu dibutuhkan business skill dan persistence tinggi dari seorang founder. Kombinasi team dari founder juga sangat menjadi penilaian. Memiliki entrepreneur hebat tanpa produk unggul juga percuma, begitu juga sebaliknya. Ide brilian sekalipun akan berat ketika tidak ada motor business entrepreneur yang menyampaikan ideas menjadi marketable product,” tegas Ben.

    Selain itu, Ben juga menyoroti kemungkinan fenomena bubble yang terjadi bila investor tidak mampu melihat nilai investasi dan pertumbuhan yang terjadi di bisnis ini. Perlu adanya pengaturan fundamental agar industri ini dapat solid dan bernilai. “Kali ini saya ckup percaya bahwa sekarang adalah saat yang tepat (untuk berinvestasi). Apalagi, penetrasi internet sudah masif dan consumer behavior sangat dekat dengan gaya hidup digital.” (Acha)

    Share :

      SHARE SOCIAL MEDIA

      One Comment

      1. syafruddin says:

        info yang sangat berharga

      LEAVE A REPLY


      7 × = twenty eight