Home » Listed Articles » Juragan Replika Kayu dari Boyolali

Juragan Replika Kayu dari Boyolali

Share

Asal tahu saja, replika moge itu karya para perajin di Boyolali yang dikomandani Widodo Hartosudarmo. Pria kelahiran Klaten 1947 ini mengembangkan bisnis replika moge sejak 1993.

Setelah berkarier selama 26 tahun sebagai karyawan di pabrik karung Delanggu di Boyolali, Widodo memutuskan pindah kuadran sebagai wirausaha. “Tadinya sekadar coba-coba. Kebetulan saya mempunyai bakat di bidang seni lukis dan patung,” ujarnya memberi alasan. Alasan lainnya, karena saat itu belum ada perajin yang menekuni bisnis ini.

Dibantu anak sulungnya Eko Luristyanto dan lima orang tenaga lepas, Widodo memulai bisnis replikanya dengan bendera PT Tetap Jaya Art. Uang tabungan sebesar Rp 7 juta dibenamkannya sebagai modal untuk membeli mesin dan peralatan lainnya. Awalnya, produksinya hanya berupa replika mini dengan rata-rata tingkat produksi 200 unit per bulan. Jenis replika mini yang diproduksinya mencakup model moge, mobil, becak, perahu, lampu hias, delman, pesawat terbang, lokomotif, dan sebagainya.

Ukurannya ada tiga macam, yakni: small (panjang 10 cm) dengan harga Rp 15-50 ribu per unit; medium (20 cm) harganya Rp 75-150 ribu per unit; dan big (35 cm) dengan harga Rp 150-300 ribu per unit. Dua tahun berikutnya, Widodo mulai memproduksi replika berukuran sekitar 1 meter, yang dijual mulai harga Rp 2,7 juta/unit. Ia juga mulai membuat replika berukuran riil (khusus untuk moge), dengan harga jual Rp 10-15 juta/unit.

Untuk memperkenalkan dan memasarkan produknya, Widodo memanfaatkan fasilitas Internet (lewat website ). Ia pun rutin mengikuti pameran furnitur dan kerajinan besar seperti Furnicraft dan Pameran Produk Ekspor. Tentu saja, ia juga memajang sebagian replika buatannya di showroom miliknya di Jl. Raya Boyolali, Jatinom Km 4 Tempurejo. Dengan ekspose luas seperti itu, tak mengherankan kini lebih dari 80% pembeli replika produksinya berasal dari mancanegara, terutama Eropa.

Bahan baku pembuatan replika tersebut berasal dari limbah kayu jati, yang diperoleh dari sejumlah pabrikan furnitur di Semarang. Harga limbah kayu berkisar Rp 100-150 ribu per kuintal, tergantung pada kualitas kayu. Dari satu kuintal kayu bisa menghasilkan 50 unit replika berukuran kecil, atau 20 unit replika berukuran sedang. Adapun untuk replika moge berukuran riil butuh dua kuintal kayu.

Perlahan tapi pasti, bisnis replika yang dikembangkan bapak tiga anak dan lima cucu ini terus berkembang. Terutama sejak Eko terjun total di perusahaan ini pada 2001 setelah merampungkan kuliah bidang Seni Rupa di Universitas Negeri Sebelas Maret. Menantunya, Sardjono, kemudian ikut bergabung. Bahkan, dalam setahun terakhir, Widodo sudah tidak terlibat lagi dalam operasional. Posisi pemimpin diserahkan kepada Sardjono, sementara Eko dipercaya menangani semua urusan pemasaran. “Biarlah anak-anak yang meneruskan supaya perusahaan ini bisa terus bertahan dan berkembang. Kan perlu ada regenerasi,” ujar Widodo.

Diakui Widodo, usahanya pun menghadapi sejumlah rintangan. Selain kesulitan mengembangkan pasar di dalam negeri, bisnisnya sempat limbung pada masa krisis moneter. “Banyak order yang tidak jadi atau tidak dibayar,” Widodo mengenang. Toh, berkat keuletan dan kesabarannya, bisnis replikanya bisa tetap bertahan hingga sekarang.

Kini, ditopang sekitar 35 orang perajin lepas, jumlah produksi replika yang berukuran 10-35 cm mencapai 2-3 ribu unit per bulan. Untuk replika berukuran satu meter, jumlah produksinya 10-20 unit/bulan. Sementara yang berukuran riil, produksinya 5-10 unit/bulan, tergantung pada pemesanan. Dan, untuk replika moge berukuran riil, ia tidak menyediakan ready stock.

Diklaim Eko, setiap tahun bisnisnya mampu tumbuh 15%-20%. “Kami terus melakukan inovasi produk dan tetap menjaga kualitas,” ucap Eko mengungkap salah satu kiat sukses bisnis replikanya. Selain itu, lanjut Eko, untuk lebih mengembangkan bisnisnya, ia mengembangkan varian produk. Antara lain, dengan cara menyiasati supaya replika itu tidak sekadar hiasan, tapi memiliki fungsi. Oleh karena itu, kini selain memproduksi replika hiasan, juga ada produk berbentuk cermin, lemari, tempat lampu, gelang, tempat tisu, dan sebagainya.

Secara keseluruhan, sekarang sudah lebih dari 10 jenis model replika yang diproduksi. Khusus replika moge sudah 40 lebih variannya. “Saya tetap optimistis bisnis replika ini bisa terus berkembang, asalkan terus melakukan inovasi dan mencari peluang pasar,” katanya menandaskan.

A. Mohammad B.S.

SHARE SOCIAL MEDIA

Category: Listed Articles  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


five + = 13