Home » Listed Articles » Jurus Sukses PTPN XII Berbisnis Kopi Luwak

Jurus Sukses PTPN XII Berbisnis Kopi Luwak

Share

Kopi luwak merupakan salah satu upaya kami meningkatkan nilai tambah komoditas kopi, di samping komoditas kami lainnya seperti kopi reguler Arabika (Java coffee), kopi reguler Robusta, kakao Edel (Java cocoa), kakao bulk, karet, teh hitam, dan aneka tanaman kayu. Juga, lini usaha industri hilir (seperti teh dan kopi rolas), rumah sakit dan agrowisata.

Mengapa kami memilih kopi luwak? Karena sejak dahulu, sewaktu kita dijajah Belanda sekalipun, kopi luwak sudah menempati posisi pasar paling atas, baik dilihat dari sisi rasa maupun harga. Hanya saja, karena dulu kualitas produk belum terjaga secara kontinyu, harga – meskipun berada di posisi tertinggi — tidak bisa dikerek lebih tinggi lagi. Penyebab utamanya, kopi luwak 100% masih tergantung pada alam.

Tiap hari kami harus menyisir tempat-tempat tertentu yang bersih di kebun untuk menemukan kopi yang telah dimakan luwak dan dibuang bersama kotorannya (feces). Mengingat luwak termasuk binatang liar, apalagi luas lahan kebun kami lebih dari 80 ribu hektare, kualitas kopi luwak sulit berada pada posisi stabil. Terkadang kami temukan kopi luwak yang benar-benar baru (feces malam harinya). Tak jarang pula, kami dapatkan kopi luwak yang sudah berhari-hari berada di atas bumi (overfermented). Jadi, terus terang kami tidak memiliki kepastian akan kondisi kopi luwak yang telah kami temukan karena amat susah membedakan karakteristik kopi luwak: benar-benar baru, berumur sehari, atau lebih dari sehari.

Pada 2006, kami mulai berpikir tentang penangkaran luwak. Sempat muncul keraguan memang, terutama terhadap kualitas yang akan dihasilkan. Jangan-jangan hasil kopi luwak hasil tangkaran kualitasnya lebih rendah, karena luwak merupakan binatang liar. Kalau kualitasnya lebih bagus, mengapa tidak dilakukan sejak dulu (ketika Belanda masih menguasai perkebunan)? Ataukah, dulu pernah dilakukan, hanya saja belum bisa menuai sukses?

Daripada berdebat tentang sesuatu yang belum ada bentuknya, kami memutuskan melakukan penelitian dan kajian lebih mendalam. Waktu itu (2006), kami pilih melakukannya di kebun Kayu Mas Bondowoso. Karena luwak binatang liar, kami umumkan ke masyarakat sekitar bahwa kami membutuhkan luwak. Muncul perdebatan soal harga, mengingat tidak ada sejarah yang mencatat perdagangan harga luwak per ekor dalam berbagai usia. Kami lantas menciptakan harga. Sambil setengah bercanda, kami sampaikan, kalau ada yang sebesar kambing, kami siap beli Rp 100 ribu per ekor. Lebih kecil, lebih murah. Tentu, ukuran itu tidak ada karena luwak yang paling besar hanya sebesar kucing.

Kami mendapatkan dua ekor. Kami tangkarkan, tetapi kami bingung, bagaimana cara memelihara luwak yang baik. Karena tidak ada satu pun referensi yang membahas tentang pemiliharaan luwak, kami terpaksa trial and error. Beberapa orang menyebut bahwa makanan luwak adalah buah. Terus, kami beri makan pisang dan pepaya. Dan, memang benar luwak menyukainya. Namun kalau terus-terusan, kan biayanya menjadi mahal. Bayangkan saja, seekor luwak membutuhkan 21 biji pisang (dua sisir) per hari. Harga per sisirnya Rp 4 ribu. Maka dalam setahun, seekor luwak membutuhkan biaya pakan pisang sebesar Rp 2,92 juta. Belum lagi ditambah dengan makanan sampingannya berupa pepaya, obat-obatan yang harus diberikan kalau sakit, tenaga kerja yang memelihara, dan biaya kandang. Padahal, harga jual kopi luwak waktu itu hanya Rp 60 ribu/kg. Sementara kopi nonluwak kualitas terbaik Rp 25 ribuan. Pokoknya, waktu itu kami dibuat puyeng.

Namun, kami tidak mau menyerah. Kami berpikir memberi makanan lain yang biayanya lebih murah. Muncul ide. Karena mirip kucing, kami beli ikan asin. Kami giling. Terus kami campur dengan nasi. Ternyata mau. Bahkan ketika kami dapatkan 10 ekor, yang semula kurus-kurus, begitu diberi makan nasi campur ikan asin, berubah menjadi gemuk.

Permasalahan ternyata tidak hanya berhenti di situ. Suatu ketika, 10 ekor luwak tersebut terserang penyakit. Kami bawa luwak tersebut ke dokter hewan di Situbondo. Kami pikir masalah sudah beres. Kenyataannya malah sebaliknya. Begitu sampai di Kayu Mas, 7 ekor malah mati. Belakangan ketahuan, si dokter hewan ternyata tidak memiliki informasi lengkap tentang luwak. Pemahaman dokter hewan hanya terbatas pada binatang yang dilindungi. Dan, serum suntikan yang diberikan ternyata disamakan dengan suntikan kepada kucing.

Karena perlakuan-perlakuan demikian, kami membuat keputusan: Balai Kesehatan yang berada di kebun, selain bertanggung jawab atas kesehatan karyawan, juga harus memantau perkembangan kesehatan luwak. Setidaknya seminggu sekali, orang Balai Kesehatan aktif mengunjungi kandang untuk melihat kesehatan luwak, memberi vitamin kalau dibutuhkan.

Itu masih di sisi pemeliharaan. Pada sisi upaya memberi makanan kopi, kami juga sempat bingung. Karena luwak menyantap kopi di atas pohon, semula kandangnya kami letakkan di pohon kopi. Terus kami berikan biji-biji kopi merah-merah yang kami letakkan pada tempayan anyaman bambu (kalo). Ternyata, yang dimakan cuma sedikit. Kami coba cara lain. Memberi makanan di kandang (tangkaran) dalam kondisi kopi merah-merah kami hampar. Ternyata, yang dimakan jauh lebih banyak. Ini temuan paling menakjubkan. Akan tetapi, perlu diingat juga, kalau terus diberi makan kopi, luwak bisa terkena penyakit ambeien. Jadi, kami mesti hati-hati memberi makanan. Begitulah. Dari trial and error, akhirnya kami memperoleh pemahaman – meskipun belum utuh — bagaimana cara memelihara luwak.

Pembeli kopi luwak hasil tangkaran kami yang pertama adalah sebuah perusahaan di Semarang. Dari semula hanya Rp 60 ribu/kg, terus kami naikkan menjadi Rp 125 ribu/kg, mengingat tingkat kesulitan memelihara dan biaya yang harus dikeluarkan. Tahun 2007, kami naikkan lagi menjadi US$ 40/kg, mereka tidak keberatan. Dan, terus melakukan serapan. Beberapa bulan kemudian, kami naikkan lagi menjadi US$ 75/kg. Itu pun diserap pasar.

Pada awal 2008, tanpa kami duga, sebuah perusahaan dari Jerman melakukan pemesanan unik. Mereka membeli dalam bentuk prongkolan (berupa feces, kopi masih lengket berbentuk bulat panjang), seharga US$ 100/kg. Tampaknya mereka ingin memperoleh kepastian, bahwa kopi luwak kami benar-benar hasil dari hewan luwak. Bukan karena proses kimiawi, atau proses-proses lain. Dari situlah, kami mulai mengetahui bahwa kopi luwak kami mulai dilirik pasar internasional.

Dan benar, ketika kami buka website-nya, kopi luwak PTPN XII ditempatkan pada posisi sebagai kopi luwak terbaik di Jerman. Sungguh, kami tidak menyangka. Dalam waktu singkat (dua tahun), harga bisa melonjak tajam. Dari hanya US$ 6/kg (Rp 60 ribu) naik menjadi US$ 100/kg. Bahkan, sekarang US$ 125/kg. Itu dalam bentuk biji kering (kadar air 11,5%). Bandingkan dengan harga kopi biasa kualitas nomor 1 yang hanya US$ 4,5/kg. Kalau dirupiahkan, harga kopi luwak kami (dalam bentuk biji kopi kering) senilai Rp 1,9 juta/kg.

Saat ini, kami telah menangkar 656 luwak dewasa. Sebanyak 405 ekor berada di area kebun kopi Arabika (Kebun Kalijampit sebanyak 80 ekor, Pancur Angkrek 55, Kayu Mas 92, dan Belawan 178, semuanya di Bondowoso). Sisanya (251 ekor) berada di kebun kopi Robusta (Malangsari Bondowoso 75, Rayap/Renteng Bondowoso 20, Bangela Malang 26, Ngrangkah Pawon Kediri 30, Silos Sanen Jember, 100). Jadi, kalau ditotal, produksi kopi luwak kami bisa sampai 131,2 kg. Akan tetapi, masa panen kopi luwak terbatas. Karena itu, kami menargetkan dalam setahun memproduksi kopi luwak sekitar 2 ton. Sekarang kami sedang dalam proses penelitian untuk mengembangkan produksi kopi luwak yang tidak tergantung pada musim panen. Sehingga, produksi dapat terus berlangsung. Namun, tetap dalam jumlah terbatas, mengingat kemampuan luwak dan keunikan produk kopi luwak.

Kami memahami, perusahaan lain bisa juga melakukan hal serupa (menangkar luwak). Bagi kami, itu wajar. Dan, kami welcome terhadap persaingan ke depan yang mungkin muncul. Kami tidak gentar menghadapinya. Yang perlu diingat, kamilah pencipta pertama kopi luwak kualitas terbaik. Ini tidak akan menggoyahkan posisi kami. Pemain lain yang masuk kemungkinan besar akan melalui celah rasa yang berbeda. Sehingga, yang terjadi, kami bakal tetap pada posisi nomor wahid. Pemain lain akan berada di bawah kami. Jadi, harga kopi luwak produksi PTPN XII akan tetap tertinggi. Tidak akan goyah oleh terpaan angin persaingan yang mungkin muncul di masa mendatang.

Kutipan:

Jumlah luwak : 656 ekor
Target produksi kopi luwak: 2 ton per tahun
Harga kopi luwak: US$ 125/kg
Harga kopi biasa kualitas nomor satu US$ 4,5/kg

BOKS

PTPN XII Memberikan “Nilai Kali”

Handito Joewono, Presdir Arrbey Indonesia, mengacungkan jempol terhadap terobosan PTPN XII dalam mengembangkan kopi luwak. Kopi dari feces luwak ini memang sudah lama diketahui kualitasnya, tetapi PTPN XII berhasil mendongkrak pamor kopi ini. Perusahaan ini berhasil menangkarkan luwak sehingga bisa menjamin kelangsungan produksi.

“Kalau biasanya dikenal istilah value added, PTPN XII saya katakan bisa memberikan ‘nilai kali’ pada kopi,” kata pengamat dari Arrbey Indonesia itu. Bayangkan saja, harga kopi yang mencapai kurang-lebih Rp 1 juta/kg merupakan prestasi tersendiri. Dengan demikian, PTPN XII mampu meningkatkan daya saing untuk produknya.

Yang membuat Handito terkesan adalah terobosan cukup inovatif ini dilakukan BUMN. Pasalnya, banyak pandangan miring tentang BUMN. Anggapan bahwa BUMN tidak kreatif, kurang inovatif, monoton, dan sederet komentar miring lainnya seperti dilawan oleh PTPN XII. “Saya melihat PTPN XII sebagai bukti bahwa BUMN juga sama dengan perusahaan swasta yang bisa bersaing,” ia menegaskan.

Ke depan, Handito menyarankan agar PTPN XII terus menginovasi produknya. Dan yang terpenting, bagaimana men-delivery produk ke konsumen, misalnya membuka gerai khusus di berbagai tempat eksklusif, seperti di bandara.

Sigit A. Nugroho

SHARE SOCIAL MEDIA

Category: Listed Articles  |  Comment (RSS)  |  Trackback

11 Comments

  1. Robert Yonas says:

    Saya pemain baru dalam hal kopi luwak dan saya bukan disebut pesaing dalam hal pengadaan kopi luwak.
    Saat ini saya sedang kesulitan dalam memasarkan kopi luwak yang bukan dari penangkarang atau dengan kata lain kopi luwak liar.
    Kopi luwak yang saya miliki biasa disebut kopi luwak jenis mocha.
    Sebelumnya saya berterima kasih apabila saya dapat dibantu dalam memasarkan kopi luwak yang saya miliki ini.

  2. saya tertarik dengan kisah yang menginspirasi ini,sekarang saya sedang memproduksi kopi luwak di daerah Bandung Selatan dari hasil penangkaran,apabila memungkinkan saya bermaksud menginduk atau menjadi plasma produsen kopi luwak PTPN XII,atas segala perhatiannya saya haturkan banyak-banyak terima kasih !

  3. dollah says:

    permisi mas saya mau jual kopi luwak mentah ,langsung dri petani kopi luwak. tpi saya kesusahan karna belum buat sertifaikat. harga per kilonya 60 rb.bila berminat hub. bapak dollah 087839355038

  4. Sukeng says:

    Saya juga sudah produksi kopi luwak robusta dan arabika. Bagai mana pemasaranya, setiap ada yang nawar kok mesti murah.
    kami ingin pembeli yang serius, biar terjalin kerja sama.
    Thanks

  5. AHMAD MUSTOFA says:

    SAYA SANGAT TERTARIK UNTUK MEMPRODUKSI KOPI LUWAK, BAGAIMANA CARANYA UNTUK MENDAPATKAN LUWAKNYA. APAKAH SAYA BISA/BOLEH MEMBELI LUWAK DARI PTPN.

  6. lian says:

    saya Lian Sofyan p, berasal dari takengon GAYO Aceh tengah..
    kami saat ini telah memiliki 14 ekor musang (luwak) yang kami pelihara dalam penangkaran masing2 2 x 3 meter,mohon bimbingan untuk penampungan hasil panen kami ( bisa kami kirimkan contoh barangnya )
    cp. 081360123465

  7. kopi says:

    Kopi luwak memang mantap.!!

  8. civeto says:

    infonya menarik sekali, saya jadi semakin bersemangat untuk menjual kopi luwak. makasih info ya gan. :)

  9. hendra says:

    mas, di tempat kami di Lampung Barat banyak penangkar kopi luwak. Kami mencari distributor yang membutuhkan pasokan kopi luwak secara kontinyu. kami siap dengan produk kopi luwak berupa gumpalan biji kopi luwak kering, biji yang sudah terlepas dari kulit arinya maupun bubuk kopi luwak asli. bagi yang berminat silakan hubungi 085279029465. terimakasih

  10. khaliq dian says:

    saya mau jual kopi luawak asliar masih mentah jumlah 4ton redy stock jika minat hub:085235976710

LEAVE A REPLY


four − 2 =