Home » Listed Articles » Manisnya Bisnis Agrowisata Durian Keluarga Djuhari

Manisnya Bisnis Agrowisata Durian Keluarga Djuhari

Share

Di kebun durian Djuhari ini Anda bisa menikmati durian madihon alias masak di pohon. Di tempat ini para pengunjung bisa memilih buah yang masih bergelantungan di pohon. Bahkan, kalau mau mereka bisa memetik sendiri. Buah yang siap petik dijamin tidak mengecewakan, karena matang di pohon, bukan hasil karbitan. Ciri buah madihon ini apabila tangkainya terlepas sendiri dari batang pohon.

Kebun durian milik keluarga Djuhari memang bisa dibilang sebagai surganya buah durian. Di tempat ini tumbuh subur ratusan pohon durian dari berbagai varietas. Menariknya, dari koleksi tanaman durian kebun Djuhari ini banyak yang sudah berusia lebih dari seratus tahun. Meski sudah berusia tua, hampir semua pohon masih produktif. Setiap pohon bisa menghasilkan durian berkisar 150-400 buah.

Koleksi durian yang dimiliki kebun Djuhari, pada umumnya merupakan durian varietas lokal seperti durian kedondong, kuning, bagong, roti dan pogang. Saat ini, ada sekitar 450 pohon durian yang setiap tahun selalu menghasilkan buah. Pohon durian varietas kedondong dianggap sebagai maskot. Meskipun usianya sudah 120 tahun, terbilang masih cukup produktif. Pohon durian tertua ini mampu menghasilkan 300-400 buah setahun.

Kebun durian ini dirintis oleh Haji Djuhari Dwi Hadi Mulyono, salah seorang tuan tanah di Semarang yang pernah bekerja di perusahaan jawatan kereta api zaman Belanda – yang dikenal dengan Nederland Indies Spoor. ”Bapak saya bekerja di bagian pengerjaan bangunan, dengan jabatan yang lumayan tinggi,” kata Sri Mulyani Udoyo (70 tahun), anak kedua Djuhari.

Menurut Sri, tahun 1933 perusahaan kereta api tempat bapaknya bekerja itu bangkrut, sehingga karyawan di-PHK-kan. Sementara pesangon yang diterima – dalam wujud uang gulden – kala itu terbilang besar. Djuhari kemudian menggunakan uang tersebut untuk membeli tanah di Mijen. ”Sedikit demi sedikit ayah membeli tanah, yang kemudian terkumpul menjadi hektaran. Tanah itu sengaja ditanami buah-buahan, termasuk durian,” Sri menceritakan.

Dulu, luas areal kebun Djuhari mencapai 32 ha. Namun sejak beberapa tahun lalu, sudah dibagi-bagi sebagai hak waris untuk 8 anak kandungnya. Bahkan sebagian sudah ada yang dijual, karena penerima warisan tidak berminat mengembangkan usaha perkebunan.

Untungnya, Agus Jatmiko Aji memiliki pemikiran berbeda. Cucu Djuhari dari pasangan Sri Mulyani dan Udoyo ini memiliki minat untuk mengembangkan usaha perkebunan. Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro ini melihat prospek yang cerah bisnis perkebunan. Oleh karena itu, pada 2006 ia memutuskan keluar sebagai karyawan Bank Mandiri di Jakarta, pulang kampung, dan membenahi usaha perkebunan durian yang pernah dikembangkan kakeknya. “Memang, hanya Agus yang tertarik melanjutkan usaha perkebunan. Sementara kakak-kakaknya tetap memilih bekerja di Jakarta,” kata Udoyo, sang ayah. ”Saya terobsesi untuk membuat kawasan agrowisata durian yang selama ini belum ada di Jawa Tengah,’’ ujar Agus memberi alasan.

Dari total lahan yang masih tersedia, yang baru dikelola sekitar 6 ha. Menurut Agus, dari kebun buah yang dikelolanya setiap tahun minimum bisa dipanen 5.000 buah durian. Harga jual durian itu berdasarkan berat. Harga yang dipatok berkisar Rp 10-15 ribu per kilogram. Setiap buah bisa mencapai berat 3-5 kg.

Pria kelahiran 21 September 1976 ini yakin bahwa kebunnya memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata alternatif. Selain menawarkan kenikmatan durian yang dipetik langsung dari pohon, Agus juga memberi kesempatan kepada siapa saja yang ingin memanfaatkan kebunnya untuk kegiatan meeting, outbond ataupun perkemahan. ”Yang jelas memetik buah dari pohon merupakan pengalaman tersendiri yang cukup menarik,” ucap Agus, yang kini menjabat sebagai Direktur Pengelola Agrowisata Durian Haji Djuhari.

Untuk menarik pengunjung, Agus memasang iklan kecil di harian lokal. Selain itu, ia juga membuat brosur yang disebar ke berbagai tempat strategis seperti hotel dan bandara. Cara ini tampaknya cukup efektif. Terbukti, pada tahun pertama mulai banyak pengunjung yang datang dan membeli durian secara langsung. Bahkan, langkah ini bisa meningkatkan nilai jual duriannya. Sebab, durian tak lagi dijual per buah, melainkan ditimbang. Jika dijual per buah, maksimum hanya dihargai Rp 30 ribu, tapi dengan cara timbangan satu buah bisa terjual hingga Rp 50 ribu.

Selain dari penjualan buah durian, Agus juga menggaet pendapatan dari tiket masuk Rp 5 ribu per orang. Lalu, bagi yang ingin menyelenggarakan meeting, outbond atau berkemah, Agus menetapkan tarif sewa tempat Rp 500 ribu untuk 12 jam, dan Rp 600 ribu untuk menginap. Ia menyebutkan, sudah ada beberapa lembaga yang memanfaatkan kebun durian Djuhari untuk kegiatan outbond, seperti Hotel Ciputra Semarang, Undip dan beberapa PTS di Semarang. Tak hanya itu, Agus menyediakan pula pelatihan untuk pengenalan buah durian. Khususnya buat para pelajar TK hingga SMA. Tarif belajar dari alam ini per orang Rp 7.500. ”Pesertanya cukup banyak,” katanya. Namun, Agus enggan mengungkap berapa besar pendapatan kebun agrowisatanya per bulan – baik dari penjualan buah durian, tiket maupun tarif sewa tempat.

Yang masih disayangkan, fasilitas yang tersedia di Agrowisata Kebun Durian Haji Djuhari ini terbilang minim. Penginapan dan gazebo yang disebut-sebut tersedia, kenyataannya masih kurang memenuhi syarat. ”Menurut saya prasarana yang tersedia masih jauh dari sempurna,” kata Abdul Syakur (35 tahun), salah seorang pengunjung kebun durian itu. Jadi, meskipun sudah bisa menggoda, tampaknya masih perlu dibenahi lagi.

SHARE SOCIAL MEDIA

Category: Listed Articles  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


1 × three =