Home » Listed Articles » Memotret Bisnis Jasa Logistik

Memotret Bisnis Jasa Logistik

Share

Berapa market size bisnis logistik? Pertanyaan itu sulit dijawab secara akurat. Coba Anda tanyakan ke sejumlah pelaku bisnis logistik, pastilah banyak yang menggelengkan kepala. Maklumlah, seperti yang disebutkan Ananta Dewandhono, Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), hingga saat ini belum ada survei independen yang menelusuri nilai transaksi bisnis logistik dari hulu ke hilir. Terlebih, cakupan bidang usaha dan pemain logistik sangat luas, dari pelaku kelas pinggir jalan sampai yang mentereng bertaraf multinasional.

Namun, beberapa informasi yang dihimpun SWA mungkin bisa memberi gambaran. Menurut Stefanus Didi Hartanto, Manajer Pengembangan Bisnis PT Cipta Krida Bahari Logistics, bila mengacu pada data total paid in country market untuk transportasi dan logistik tahun 2003 sebesar Rp 30,4 triliun, dengan asumsi pertumbuhan tiap tahun 15%, ia memperkirakan tahun 2007 nilainya menjadi Rp 53,2 triliun. Kemudian, tahun 2011 akan menjadi Rp 93,1 triliun. “Dari total angka itu, diperkirakan market size segmen logistik masih berkisar 6%-7% atau Rp 3,7 triliun di tahun 2007. Sisanya, untuk segmen transportasi tradisional (pengiriman point to point) yang berskala internasional dan dalam negeri,” ujarnya. “Market size jasa ekspres atau kurir (distribusi level door-to-door) saja mencapai Rp 6 triliun tahun 2006,” kata M. Johari Zein, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Express Indonesia (Asperindo), menimpali.

Selain belum adanya angka pasti market size total bisnis logistik, penggolongan jenis usaha juga ada beberapa versi. Mengacu pada data ALI, jika dilihat dari layanan yang ditawarkan, perusahaan logistik dibedakan menjadi empat tipe layaknya piramida. Pada lapisan pertama disebut basic service atau outsourcing model yang dikenal dengan istilah logistic service provider (LSP). Rata-rata perusahaan logistik lokal di Indonesia baru memasuki tahap ini. Kedua, value added atau dikenal sebagai third party logistic (3PL). Perusahaan asing atau swasta nasional yang terkenal di Indonesia, dinilai Ananta, baru mencapai tahap ini. Ketiga, lead logistic/lead logistic provider (LLP). Perusahaan yang mencapai level ini sudah sangat canggih dan terintegrasi bisnis logistiknya. Contoh level ini hanya dijumpai di perusahaan logistik luar negeri. Keempat, atau tahap tertinggi adalah advanced service atau fourth party logistic provider (4PL).

Lain lagi dengan versi M. Kadrial, Sekjen Asperindo, yang mengungkapkan bahwa ada empat kategori perusahaan logistik. Pertama, port to port sebagai piramida di level terbawah. Cirinya tidak ada implementasi teknologi informasi (TI), dan biasanya mengurus jasa shipping saja. Kedua, door-to-door. Pada tahap ini sudah menguasai keterampilan TI secara basis (hanya tahu posisi barang), dan biasanya mengurus jasa distribusi (tracking). Ketiga, logistik. Di sini sistem TI sudah terintegrasi dan menguasai beberapa jasa logistik, seperti warehousing, distribusi, dan clearance. Keempat, supply chain management (SCM). Pada tahap puncak ini sistem TI sudah terintegrasi dengan yang lain, bisa melakukan perencanaan, pengadaan, dan distribusi sampai end customer.

Untuk perusahaan lokal (Indonesia): sebanyak 80% perusahaan masih berada pada titik door-to-door; 15% level logistik; dan 1% saja yang berhasil mencapai titik SCM. Mengapa? Lagi-lagi soal ketertinggalan teknologi yang membuat perusahaan lokal berada di urutan belakang. Ini disebabkan penerapan TI canggih dan terintegrasi membutuhkan kapital besar. Sementara itu, dominasi perusahaan asing di industri logistik nasional, ditengarai Johari lebih pada pengiriman barang ke luar negeri. Dengan kata lain, bila bicara soal distribusi pada skala domestik, sebesar 99,99% justru dikuasai oleh pemain lokal.

“Kalau kami lebih tertarik dengan memilah menjadi tiga: jasa kiriman internasional, nasional, dan dalam kota,” tukas Rudy J. Pesik, Dirut PT Birotika Semesta, mengenai kategorisasi bidang usaha yang ditekuni perusahaan logistik. Dan, menurut data Asperindo, rata-rata pertumbuhan industri kiriman ini saban tahun berkisar 15%.

Siapa saja raja-raja bisnis logistik di tiap kategori? Untuk mengungkapkannya tentu tidak mudah. Yang jelas, sebagaimana diungkapkan Ananta, kategori bisnis logistik meliputi: pelayaran domestik, freight forwarder, transportasi, kurir, value added warehouse, dan distributor. Nah, untuk pelayaran domestik ada PT Samudera Indonesia, Tempuran Emas, Tanto Lines, Meratus Lines, dan perusahaan pelayaran lain yang menjadi anggota INSA. Di kategori freight forwarder (air/ocean international), pemainnya antara lain: MSA Cargo, Ritra Cargo, Fin Logistics, NYK, Maerks, APL, SQ, KLM.

Adapun perusahaan freight forwarder lokal meliputi sekitar tiga ribu perusahaan di bawah bendera INFA. Untuk kategori transportasi ada Jawa Indah, Sipure, Puninar Jaya, Go Trans, Kamdjaja, dan sebagainya. Sementara pemain di bisnis value added warehouse, antara lain: Ceva Logistics, Linfox, GAC, YCH, Exel, Wira Logitama, CML dan lainnya. Di kategori distributor diramaikan oleh PT Indomarco, Roda Mas, Wicaksana, Enseval dan lainnya. Untuk kurir, ada Tiki/JNE, DHL, Pandu Siwi, FeDex/Repex, UPS/Cardig, dan sekitar 1.500 perusahaan jasa titipan (lihat: Tabel).

Menurut Presdir Fin Logistics Soejarwo Soedarmo, kini persaingan bisnis logistik tidak lagi pada perebutan pasar yang sama dari masing-masing pelaku, melainkan mengarah ke seberapa efisien proses produksi yang dilakukan perusahaan pada setiap tahapan aktivitasnya. Artinya, persaingan terjadi di tingkat mutu SDM, penguasaan TI yang tidak sekadar memberikan solusi, tapi juga nilai tambah bagi klien. Siap atau tidak siap bisnis logistik akan mengarah pada total logistik dan sistem TI yang makin canggih.

Lantas bagaimana strategi mereka menghadapi ketatnya kompetisi? “Kami memperkuat bisnis downstream-nya. Yaitu, membentuk jaringan layanan yang kuat mulai dari pergudangan, tracking, hingga administrasi kepabeanan,” Chairman MSA Cargo, Monang Sianipar, menjelaskan. Sementara itu, PT UPS Cardig International mencoba unggul dalam infrastruktur dan teknologi. Selain itu, UPS Cardig juga didukung oleh orang-orang yang disebut key component karena melakukan deal langsung dengan pelanggan. “Salah satu cara kami dengan memasang bar code di setiap paket yang dikirim. Bar code itu akan dicek di setiap tempat, mulai dari Bandara Halim Perdanakusuma hingga sampai di tempat tujuan, dan informasi keberadaan barang itu akan diinformasikan kepada pelanggan yang menginginkan,” papar Rachmat Atmadja, Direktur Pengembangan Bisnis dan Pemasaran UPS Cardig. Tidak tanggung-tanggung, untuk pengembangan TI, UPS global membelanjakan dana US$ 1 miliar per tahun.

DHL Express tak mau ketinggalan dengan jurus layanan door-to-door eskpres internasional. “Belum lama ini kami juga memperkenalkan solusi pengiriman batu bara dengan beragam model. Ada paket model drum, kaleng, tupperware ataupun kotak palet kayu. Sistem paket ini melindungi contoh batu bara dari air, kelembaban atau panas berlebihan yang memengaruhi spesifikasi sampel,” Edi Prayitno, Manajer Pemasaran Nasional PT Birotika Semesta/DHL Express, menjelaskan. Adapun PT Wira Logitama Saksama (WLS) membuat beberapa terobosan untuk mengguncang pasar, antara lain, menawarkan inovasi integrated in-plant logistic, yaitu penanganan alur barang produksi suatu perusahaan. “Juga ada program cross-docking untuk pengurusan kiriman barang perusahaan dari Jakarta ke Bandung,” ungkap Taufik Harsono, Direktur WLS.

Bisnis logistik akan terus tumbuh. Kendati begitu, karena melibatkan banyak pemain, persaingan pun tak terhindarkan. Berbicara mengenai persaingan, maka fokusnya adalah berlomba bagaimana memenuhi kebutuhan konsumen/pelanggan. Bagi Gagan, Direktur Pengelola Trimed – produsen alat-alat kedokteran – yang menggunakan jasa logistik untuk mengekspor produknya, harga merupakan aspek yang paling diperhatikan dalam memilih jasa logistik. Sayang, ia menyebutkan, tarif pengiriman ke Eropa masih terlalu tinggi. Padahal, pihaknya banyak mengekspor produk ke Eropa, selain Malaysia dan Singapura.

Hal lain yang menjadi perhatian konsumen adalah kualitas, kecepatan, sampai di tempat tujuan dengan tuntas (dokumen semua beres), dan keamanan. Dengan pertimbangan itu, setahun terakhir ini, A. Djunaedi, CEO PT Indah Global Semesta, memakai jasa logistik Richland (asal Singapura). Pasalnya, ia menerangkan, sistem teknologinya bagus, mudah klaim jika terjadi kesalahan, kecepatan kiriman sampai di tujuan, dan dokumentasi baik. Bahkan, konsumen bisa menoleransi harga yang agak mahal jika pelayanannya memang bagus. “Bagi saya, meski agak mahal tidak apa-apa asalkan masih terjangkau. Yang penting, pelayanan memuaskan,” ujar Herry Cahyono, Praktisi Komunikasi.

Reportase: Andry Mahyudi, Abraham Susanto, Eddy Dwinanto Iskandar, Herning Banirestu, Rias Andriati, Wini Angraeni. Riset: Thesa Vance Nuansyah.

SHARE SOCIAL MEDIA

Category: Listed Articles  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


× 1 = four