Omset SMESCO Capai Rp 1 Miliar Tiap Bulan

Omset SMESCO Capai Rp 1 Miliar Tiap Bulan

Kementerian Negara Koperasi dan UKM turut menjaga khasanah budaya Indonesia khususnya batik di Indonesia. Lewat SMESCO (small medium enterprises and cooperatives), kementerian ingin mengubah pandangan masyarakat yang selama ini memandang produk dari UKM adalah barang yang kualitasnya kurang bagus. “SMESCO juga bertujuan untuk mengangkat pengrajin-pengrajin yang mempunyai produk unggulan, khususnya batik,” kata Astika, Manajer UKM Gallery.

Melalui UKM Gallery ini para perajin batik dapat semakin mengembangkan usahanya. Tapi untuk bisa mendisplay barangnya di sana, harus melalui proses seleksi dan kurasi dari pihak kementerian. Dengan proses tersebut, dia mengklaim, masalah motif dan desain batik yang ada di UKM Gallery berbeda dengan yang lain.

UKM Gallery ingin menyajikan produk-produk yang eksklusif. Ini sesuai dengan target market yang dibidik kalangan middle up. Astika mengatakan bahwa batik yang ditampilkan di sini minimal batik cap. “Batik tulis pasti diinginkan atau kombinasi cap dan tulis,” ujarnya. Dengan selektif dalam pemilihan produk, pihaknya juga memberikan motivasi dan pembelajaran bagaimana batik yang bagus diproduksi.

Sejauh ini SMESCO memasarkan batik untuk pasar lokal. Galeri ini diibuka untuk mewadahi para pembatik yang kualitasnya bagus. Untuk pasar lokal, SMESCO memasarkan via website, pameran dengan kolaborasi bersama kementerian, baik di dalam maupun di luar negeri.

Saat ini pengrajin batik yang telah mendisplay produknya ada 455 UKM. SMESCO menggolongkan dua kategori yang berbentuk UKM Gallery dan UKM Propinsi. Selama berdiri 4 tahun, baru 2 tahun belakangan ini pihaknya melayani pasar retail.

Astika mengatakan bahwa batik sekarang ini masih tetap didominasi dari daerah Jawa seperti Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Madura, dan Cirebon. Hal ini karena memang infrastruktur untuk perajin batik memang sudah terbentuk dan tenaga kerjanya siap pakai. Namun, dengan diakuinya batik oleh dunia, pihak SMESCO dan Kementerian sudah mulai menggalakkan dengan membuat sentra batik di seluruh propinsi yang ada termasuk Papua.

“Batik sudah bangkit. Jadi sekarang ini mereka akan membentuk sentra-sentra batik di masing-masing propinsi. Pemerintah sedang menggalakkan program OVOP,” katanya. OVOP adalah one village one product. Program ini dibuat untuk ke depannya, setiap desa mempunyai desain dan kekhasan batik sendiri. Astika menuturkan bahwa sejauh ini khas setiap batik baru menyentuh kabupaten, belum desa. Lewat program ini, diharapkan akan muncul produk batik baru dari setiap desa. “Kami langsung berhubungan kepada perajinnya untuk menghasilkan produk batik ,” imbuhnya.

Dijelaskan, SMESCO memungut untung 25% dari para perajin batik. Astika mengatakan bahwa mereka hanya menaruh barang, lalu harga jual ditetapkan oleh pedagang. SMESCO memberikan fasilitas seperti SPG dan alat display. Karenanya, Astika berani declare bahwa di SMESCO perajin bisa menjual barang dan sangat kompetitif harganya. “Harga di sini minimal 25% lebih murah,” klaim Astika.

Astika mengatakan bahwa sudah ada beberapa bantuan dari asing untuk melakukan training-training di daerah Indonesia Timur dalam pembuatan batik.

Penjualan SMESCO hingga kini naik 67% dibandingkan tahun 2010. Komposisi penjualannya, dari batik mendominasi 70%, handycraft 20%, aksesoris 5%, dan 5% lainnya. Total omset sekitar Rp 1 miliar per bulan selama tahun 2011. (EVA)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag