Home » Listed Articles » Pertaruhan Helmy di Tepi Musi

Pertaruhan Helmy di Tepi Musi

Share :

    Namun, ketertarikan Helmy pada dunia properti, rupanya tak berhenti sampai di situ. Dalam waktu dekat, ia siap membangun hotel butik di Palembang seluas 1.500 m2. Hotel?

    Benar. Diam-diam, sejak 2004 ayah empat anak ini memiliki sebidang tanah yang berlokasi di dekat Sungai Musi. Mulanya, ia berniat membangun rumah walet di sana. Akan tetapi, dalam perjalanannya, niat itu berubah. Selain melihat Palembang berkembang luar biasa, di saat bersamaan, Dinas Tata Kota Sumatera Selatan juga memerlukan bangunan yang bisa menjadi ikon ibu kota Sum-Sel.

    Di tengah situasi yang berkembang seperti ini, tanpa diduga, ia bertemu Wowiek Prasantyo, pemilik Jatiwaringin Resident, yang tanahnya bersebelahan dengan tanah miliknya. Mereka kemudian sepakat menyatukan tanah dan membangun hotel butik di atasnya. Bersatu dalam proyek ini, menurut Wowiek, memiliki kekuatan tersendiri. Menurutnya, Helmy telah mewarnai dunia properti Indonesia melalui acara Bedah Rumah yang disiarkan RCTI beberapa waktu lalu. “Sekarang orang tidak kenal lagi istilah renovasi, melainkan bedah rumah,” Wowiek menuturkan.

    Alasan lain Wowiek bergabung dengan bos PT Triwarsana itu lantaran adanya kesamaan pengetahuan tentang ibu kota Sum-Sel ini. “Saya 7 tahun tinggal di Palembang, sementara Helmy lahir di Palembang,” paparnya. Penggabungan dunia properti yang digeluti Wowiek dan dunia hiburan yang ditekuni Helmy, dinilainya akan melahirkan kerja sama yang unik. Di luar itu, proyek ini juga memberi kesempatan kepada pengusaha wong kito lainnya yang ingin berinvestasi di tanah leluhur.

    Helmy mengungkapkan, hotel ini akan dijual dalam bentuk kemitraan. Rencananya, setiap kamar akan ditawarkan kepada investor dan pengelolaannya diserahkan ke pengembang hotel. “Sistem ini telah diterapkan di beberapa hotel seperti di Anyer dan Bali. Ini memungkinkan tiap orang berinvestasi dalam bentuk kepemilikan kamar hotel,” ia menerangkan. Untuk itu, ia hendak mengundang beberapa investor lokal dan menjanjikan return tetap selama dua tahun pertama 7%-8%/tahun. Selanjutnya, diterapkan sistem bagi hasil. Selain itu, investor memperoleh fasilitas menginap gratis selama 21 malam dalam setahun. Oleh pemilik kamar, kesempatan ini bisa diberikan kepada pihak lain. “Saya percaya, banyak orang Palembang yang sukses ingin memperkenalkan Sungai Musi kepada koleganya,” tutur pria kelahiran Palembang, 6 Maret 1963 ini.

    Diperkirakan, pembangunan hotel bakal menelan dana sebesar Rp 40 miliar. Terdiri dari 51 kamar dan 7 lantai, pembangunan hotel dimulai September mendatang, dan rencananya beroperasi Maret 2008. Tujuh lantai menjadi pilihan karena punya makna mendalam: tujuh mata angin dan langit ketujuh. Adapun model bangunannya menggabungkan arsitektur modern dengan bangunan konservasi yang sudah ada sebelumnya. Kebetulan, Helmy menemukan sebuah rumah di Palembang yang umurnya diperkirakan mencapai 300 tahun dengan ukuran 13 x 47 meter. Bangunan ini rencananya akan dijadikan ikon hotel. “Saat ini perizinan sudah hampir selesai,” tandasnya.

    Dalam operasionalnya, hotel yang bakal diberi nama Mahligai ini menggunakan konsep eksotisme. Maksudnya, tamu hotel akan dijemput dengan gondola (perahu kecil) dari Benteng Kuto Besak yang terletak di seberang hotel. Pendayungnya akan mendendangkan lagu Sebiduk di Sungai Musi hingga merapat di depan hotel. Setelah itu, tamu diturunkan di lobi terapung (floating lobby) untuk menikmati welcome drink. Kemudian, diantar menuju kamar hotel. “Saya menggabungkan konsep arsitektur modern yang di atasnya terdapat heritage. Ini karena saya senang mengonservasi barang-barang bersejarah,” tutur Helmy.

    Nama Mahligai, menurutnya, memiliki arti rumah di awang-awang. “Konsepnya sudah tepat. Ketika malam redup, dari jauh hotel akan tampak seperti rumah di awang-awang. Itulah Mahligai di Sungai Musi,” ujar lelaki yang memperoleh gelar master dari University of Miami, Florida ini.

    Pria yang murah senyum ini juga optimistis proyeknya didukung banyak pihak. Meskipun di Palembang terdapat banyak hotel bintang empat dan lima seperti Novotel, Aston dan Horison, ia tak merasa gentar. Sejauh ini, hanya hotel butiknya yang menghadap langsung ke Sungai Musi. “Pak Gubernur, Wali Kota, dan masyarakat setempat sangat mendukung proyek ini, karena memberi lapangan pekerjaan dan menambah kebanggaan kota,” ujar Helmy bersemangat. Bahkan, ia berani menjanjikan, hotel yang menyasar pasar menengah-atas ini akan menjadi landmark baru kota kelahirannya itu.

    Kendati berani menjadikan hotelnya sebagai landmark, Helmy belum menghitung kapan pertaruhan modalnya akan kembali. Sejauh ini ia mengaku melihatnya dari sisi nostalgia bersama kawan lama. “Ketika kecil saya pernah telanjang mengarungi Sungai Musi demi berangkat ke sekolah,” katanya blak-blakan. Kendati demikian, ia memperkirakan investasinya akan kembali setelah mengarungi waktu empat-lima tahun. Seperti halnya Sungai Musi, investasi ini diharapkan akan mengalir sampai jauh.

    Firdanianty/Andry Mahyudi.

    Share :

      SHARE SOCIAL MEDIA

      Category: Listed Articles  |  Comment (RSS)  |  Trackback

      LEAVE A REPLY


      2 + seven =