Home » Listed Articles » Petualang Bisnis dari Tanah Dayak

Petualang Bisnis dari Tanah Dayak

Sepi dan lengang.  Begitulah suasana yang tampak dari sebuah rumah berpenampilan kusam di Jl. H.O.S. Cokroaminto 100, Menteng, Jakarta siang itu.  Asal tahu saja, rumah  di atas lahan  800 m2 dengan pintu pagar yang selalu tertutup ini sebenarnya sebuah kantor. Meskipun tampak lengang,  Sari Putra Joseph, pemilik PT Sarindo Nusa Perdana (SNP) diperkirakan ada di kantor itu. Maklum, mobil  yang kerap digunakannya terparkir di halaman, yakni Mercedes-Benz hitam seri S-500 dengan nopol B 5 PJ (tiga karakter terakhir menunjukkan inisial Sari Putra Joseph).

 

Tak banyak orang mengenal sosok Sari Putra Joseph dengan baik. Maklum, sebelumnya pria kelahiran Jakarta, 41 tahun lalu ini tak pernah mau diwawancarai media mana pun.  Yang jelas, namanya mulai disebut-sebut sejak sukses menjadi distributor  ponsel Samsung. Tak mengherankan, nama Sari dan SNP identik dengan ponsel Samsung.

Keberhasilan ponsel Samsung di Tanah Air memang  tak bisa dilepaskan dari peran Sari dan SNP-nya. Sebab, di tangan SNP sebagai distributor tunggal, Samsung boleh dibilang cukup sukses di pasar ponsel  Indonesia.  Ini bisa dilihat dari posisi Samsung di pasar ponsel yang sempat berada di posisi kedua setelah Nokia pada 2001. Padahal, siapa pun tahu,  persaingan di produk ponsel amatlah ketat.

 

Menurut Sari,  ada sejumlah kunci keberhasilannya  memasarkan ponsel Samsung. Yang pertama,   “Fokus dan cepat mengambil keputusan dalam harga dan program pemasaran,” ujar pria lulusan SMA K.H. Dewantoro, Samarinda ini.  Padahal tak mudah menjual ponsel Samsung  waktu itu,  karena merek Samsung identik dengan mesin cuci. Toh, pihak Samsung terus berusaha  meyakinkan bahwa ponsel Samsung adalah produk bagus.  Alhasil, “Kami yakin dengan komitmen mereka, apalagi segmen yang dibidik kelompok menengah hingga atas,” ujarnya. Untungnya, tak seperti SNP yang kukuh menjadi distributor Samsung, tiga distributor lain malah mundur, yakni  Megantra, TelExpress, dan Komunika Citra.

 

Selain fokus, pria yang senang mengenakan celana jins dipadu dengan  T-shirt atau kemeja ini menerapkan sistem subsidi.  Ia menjelaskan, untuk menjual ponsel Samsung tipe tertentu di bawah harga Rp 1,5 juta, SNP harus menyubsidi Rp 50 ribu/unit.  “Ini kami lakukan untuk memperbesar pangsa pasar,” ujarnya. SNP memberikan  subsidi untuk tipe-tipe ponsel low end guna merebut pangsa pasar.

 

Sayang, hubungan bisnis antara SNP dan prinsipalnya, Samsung,  terputus pertengahan tahun ini. Alasannya, pihak Samsung ingin menerapkan pola  multidistributor dalam penjualan ponsel Samsung. Dengan kata lain, SNP bukan lagi menjadi distributor tunggal/eksklusif.  Tampaknya, niat pihak Samsung itu tak berkenan di hati Sari, sehingga SNP memutuskan mundur dari posisi distributor.

 

Kini, setelah beberapa bulan ”bercerai” dari Samsung, Sari sudah punya gandengan baru, yakni Motorola. Pilihan kepada Motorola tentu ada alasan sendiri. Pasalnya, sebelumnya SNP dikabarkan akan menjadi distributor ponsel LG asal Korea juga. Sung Khiun,  Direktur Pemasaran dan Penjualan SNP,   mengungkapkan pilihan kepada Motorola karena  Motorola merupakan pemain nomor dua  terbesar di dunia. Sementara di Indonesia posisinya berada di peringkat ketiga dengan pangsa pasar 15%. ”Merek ini punya ambisi untuk menduduki posisi kedua,” ujar Sung Khiun. 

 

Yang mengejutkan, setelah sempat bersitegang dengan pihak  Samsung, belakangan SNP berniat ”rujuk” dengan Samsung. Hal ini diungkapkan Sari sendiri kepada SWA.  Artinya, SNP akan menjadi salah satu distributor Samsung. Namun, sejalan dengan  kerja sama ini Sari mundur dari posisi Presdir SNP dan menjadi Komisaris SNP.  Sebagai penggantinya untuk posisi Presdir SNP adalah Adi Saputra. ”Kami belum memutuskan waktunya, tak menutup kemungkinan September ini,”  ujar Lee Kang Hyun, Direktur PT Samsung Electronics Indonesia.

 

Yang pasti, bagi Sari, bisnis telekomunikasi merupakan salah satu pilar dari sejumlah bisnisnya. Saat ini ia memiliki empat bidang bisnis yang serius ditekuni. Yang berkontribusi terbesar terhadap pendapatannya adalah properti. Nilainya mencapai 60%. Sari pertama kali terjun ke bisnis properti tahun 1986. Waktu itu ia membangun 20-30 unit ruko. Pada 1989 ia mendirikan PT Sarindo Nusa Pertiwi  yang membangun rumah menengah-atas.  Proyeknya antara lain Perumahan Harapan Indah seluas 120 hektare  di Sulawesi dan Samarinda yang merupakan kombinasi ruko dan rumah. ”Saat ini Sarindo Nusa Pertiwi merupakan salah satu pengembang  terbesar di Samarinda,” ujar Komisaris Utama Sarindo Nusa Pertiwi ini.

 

Tangan kanan Sari di properti, Weelee  Joe Ay Wie, Direktur PT Sarindo Nusa Pertiwi, menerangkan,   Sari masih memiliki sejumlah lahan di Samarinda. Luasnya sekitar 1,1 hektare.  Saat ini mereka sedang mempersiapkan pembangunan 40 unit ruko. ”Lahannya siap dibangun pada Oktober ini,” ujar Weelee.

 

Kontributor penting  kedua berasal dari  Simpatindo (dealer resmi Telkomsel) dan bisnis  handset yang masing-masing menyumbang 15%. Seperti diketahui, Sari pertama kali terjun ke bisnis telekomunikasi  di tahun 1999  dengan mendirikan SNP. Setelah sukses ia mendirikan Simpatindo yang merupakan dealer resmi kartu  Telkomsel di wilayah Jabotabek, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara dan Kalimantan. Ia mengklaim, penjualan  Simpatindo tiap tahun mencapai ratusan miliar rupiah. Sekadar diketahui, penjualan kartu perdana dan vocer mencapai kisaran 6 juta unit/tahun (vocer 4,5 juta unit/tahun dan kartu perdana 1,5 juta unit/tahun). Karenanya, ia optimistis dengan masa depan  bisnis kartu seluler, meskipun harga kartu prabayar saat ini murah. ”Kami akan mengandalkan volume, meskipun keuntungannya kecil,” ujar Sari. Ia menambahkan,  untuk masuk ke bisnis kartu perdana dan vocer dibutuhkan modal yang cukup dan jaringan yang kuat.

 

Lalu, bagaimana dengan handset? Pada saat vakum (Mei-September 2005) SNP hanya menjual sisa stok Samsung yang jumlahnya mencapai 50 ribu unit/bulan. Sung Khiun menyebutkan, selain menjual stok sebenarnya mereka masih menjual seri-seri terbaru Samsung. Caranya, mereka membeli produk itu dari importir lain di luar negeri. Tujuannya agar hubungan SNP dan dealer tidak putus dan eksistensi SNP terjaga.

Ke depan, dengan memegang dua merek handset sekaligus Sari optimistis kontribusi handset terhadap total pendapatan SNP  akan melebihi Simpatindo, atau di atas 15%. Untuk mendukung target ini, SNP akan membuat gerai Sarindo Mobilephone Service Centre yang berfungsi menjual berbagai merek ponsel seperti Samsung dan Motorola, plus servis.  Motorola sendiri diperkirakan awal Oktober ini sudah bisa didistribusikan SNP. ”Prospek bisnis ini bagus,” ujar pria yang dalam waktu dekat berencana  menjadi dealer Telkom Flexi ini.

 

Kontribusi yang lain adalah service centre yang nilainya sekitar 10%. Perusahaan yang memiliki 23 kantor cabang ini tak hanya menerima permintaan servis ponsel Samsung tapi juga merek lain.  Di akhir 2005  Sarindo akan membuka beberapa cabang lagi seperti di Samarinda, Tangerang dan Bekasi

 

Memang, dunia bisnis bukan barang baru bagi Sari Putra Joseph.  Toh, sebenarnya  tak selalu sukses. Sejumlah bisnis yang ditekuninya malah harus ditutup karena rugi atau ada masalah lainnya. Sebutlah, bisnis tube aluminium dengan bendera PT Tubesarindo Indah. Perusahaan yang didirikan pada 1984 itu, pada 2000 terpaksa dijual. Alasannya, perusahaan tidak mampu berkompetisi lagi karena perkembangan teknologi di bisnis ini terus berkembang.

 

Bahkan sebelumnya pada 1983-89, Sari pernah berbisnis penyewaan  heavy equipment, seperti tug boat — kapal besi tanpa mesin untuk menarik kayu lapis dari pabrik – dengan  bendera PT Hasari Alam Transindo.  Pertimbangannya masuk ke bisnis ini karena prospeknya bagus dan menguntungkan. “Penyewanya pun banyak karena setiap perusahaan plywood memerlukan forklift,” katanya. Apalagi saat itu ada forklift yang tidak digunakan karena industrinya belum berproduksi.

Yang unik,  di tahun 1988 Sari  pernah membuat taman wisata rekreasi anak di Malang bernama Talaga Bodas.  “Saat itu saya masih pacaran, dan calon istri saya masih duduk di bangku SMA (di Malang – Red.),” ujarnya. Taman wisata yang memiliki luas 4 hektare itu membutuhkan investasi Rp 4-5 miliar. Alasannya terjun ke bisnis ini karena di Malang kala itu belum ada taman rekreasi.  “Begitu istri dan mertua pindah, Talaga Bodas pun saya jual pada tahun 1998,” ujar Sari.

 

Begitu pula dengan bisnis perbankan yang digelutinya pada 1989-90. Ia mendirikan PT Bank Pasar Gunung Sidorodi Samarindo dan PT Bank Pasar Gunung Kendeng di Solo. Tahun 1988, kedua bank ini dimerger menjadi Bank Swansarindo International. Namun apa boleh buat, pada 1997 bank ini terpaksa dijual dengan Muhammadiyah sebagai pembelinya, sehingga  namanya menjadi  Bank Persyarikatan. Bank ini sekarang memiliki 6 cabang, yaitu di Samarinda, Tenggarong,  Surabaya, serta di Muara Karang, Hasyim Ashari, dan Salemba (Jakarta).

 

Tahun 1991 Sari juga pernah mencoba peruntungannya dengan terjun ke bisnis jam tangan bermerek. Melalui bendera PT Sarindo International Watches ia menjadi distributor tunggal jam tangan mahal seperti Baume & Mercier, Piaget dan sejenisnya. Sayang, bisnis yang awalnya diperuntukkan bagi istrinya ini pada 1995 dilepas ke pihak lain.

 

Yang tak dinyana banyak orang, Sari ternyata pernah pula bergelut di bisnis mobil bekas. Pada 1989  ia membuka showroom Mercedes dan BMW di Pecenongan, Jakarta, dengan investasi Rp 2 miliar. Namun manakala krismon,  tepatnya tahun 1998, bisnis ini terpaksa ia tutup.

 

Kiprah bisnis Sari memang beraneka macam. Bagi Sari, jatuh-bangun dalam berbisnis sudah hal biasa. Lantas siapakah Sari Putra Joseph ini yang sejak muda begitu lincah berbisnis, bahkan dalam skala besar?  Rupanya, dia adalah putra Suhaimi Joseph, pemilik perusahaan kayu terbesar di Samarinda,  PT Dayak Besar Group (DBG). 

 

Sebagai anak pengusaha kayu, Sari tentu saja sudah digembleng mendiang ayahnya itu. Ia menceritakan, sejak berusia 18 tahun atau ketika masih duduk di bangku SMA (1982) ia telah dilibatkan di bisnis perkayuan  DBG.  Berbagai pekerjaan ia tangani — dari mengurusi pengapalan hingga menjual hasil kayu gelondongan ke kalangan industri. “Bisnis perkayuan saya tekuni hingga tahun 1989,” kenangnya. 

 

Sekarang,  Sari  tak lagi bergelut di bisnis kayu.  Maklum saja,  perusahaan yang dikenal sebagai pemegang SK HPH pertama dan memiliki konsensi seluas 1,5 juta hektare di seluruh Kalimantan itu kini telah ditangani  kakaknya,  Jusuf Hamka.

 

Bila melihat latar belakangnya, orang mungkin akan menilai apa yang dicapai Sari hal yang biasa saja. Alasannya, ia putra pengusaha besar. Toh, banyak  mitra bisnis dan sejumlah karyawan profesionalnya punya pendapat berbeda. Lee misalnya. Pria asal Korea ini mengatakan Sari punya komitmen yang kuat terhadap sesuatu yang ditekuninya. Hal ini bisa dilihat dari keberhasilan ponsel Samsung di Indonesia. Ia melihat hal ini bisa terjadi karena ada dukungan kemampuan keuangan dan tim kuat.

 

Adapun Sung Khiun punya penilaian, Sari merupakan sosok pekerja keras. ”Datang pagi, pulangnya paling malam, padahal ia owner,” ungkapnya.   Sari juga terkesan senang melibatkan diri, termasuk dalam hal-hal yang menyangkut produk.  Sung Khiun mengungkapkan pula,  Sari sering  terjun langsung ketika negosiasi dengan mitra bisnis. Namun jika sudah berjalan, bisnis itu akan diserahkan ke orang lain. 

 

Semua bisnis Sari sekarang telah ia serahkan kepada profesional. Untuk memperoleh profesional yang diinginkan, Sari lebih senang menggunakan jasa  headhunter. Selanjutnya, dari beberapa nama yang disodorkan headhunter ia melakukan wawancara untuk mengetahui pengalaman sang profesional yang dibidik, termasuk dalam hal orientasi pasar, orientasi penjualan, dan sebagainya.

 

Menuturkan jurus suksesnya  berbisnis, bagi Sari, intuisi sangat penting. Hal ini semakin terasa ketika ia akan memutuskan melanjutkan atau menghentikan bisnisnya.  Dari sejumlah bisnis yang ia miliki, properti termasuk yang dipertahankan. Karena ia yakin ke depan tidak mungkin harga tanah akan turun. ”Toh, bisnis ini saya geluti tanpa harus menggunakan pinjaman,” katanya menegaskan.  Selain properti, bisnis lain yang akan dijaga Sari  tak lain adalah  telekomunikasi  – meskipun keduanya tak ada hubungan sama sekali dengan bisnis perkayuan yang telah membesarkan keluarganya sejak 1968.

 

 

 

SHARE SOCIAL MEDIA

Category: Listed Articles  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


− three = 3