Home » Listed Articles » Senjata Canggih Para Pebisnis MLM

Senjata Canggih Para Pebisnis MLM

Share

Di sebuah restoran keluarga yang tak jauh dari markas klub sepak bola Chelsea, Stadion Stanford Bridge di London, siang itu Robert Yulianto kelihatan amat sumringah. Ia tampak begitu menikmati acara liburan lima hari (3-8 Mei 2005) bersama para sejawat bisnisnya. Sembari bercengkerama ia kelihatan  berkali-kali memencet-mencet HP-nya.  Jangan salah duga, ia tidak sedang kirim SMS ke sanak keluarga di Indonesia, tapi ke nomor telepon pusat informasi PT Amway Indonesia.

 

Ya, Robert memang pebisnis tulen. Ketika sedang berlibur pun tak melupakan nasib bisnis multilevel marketing (MLM))  yang dia bangun bersama Amway. Tak heran, meski di luar negeri tetap saja ia berusaha mengontrol bisnisnya melalui SMS. Apalagi dengan fasilitas ini ia dapat  memonitor status perolehan poin yang diraihnya, aktivitas para downline-nya,   serta informasi produk baru Amway. Kini, ketika bepergian ke mana pun Robert tak perlu khawatir kehilangan peluang bisnis.

 

Cerita tentang aktivitas orang MLM seperti Robert sebenarnya hanyalah sebuah potret kecil dari kemajuan adopsi TI di kalangan perusahan MLM. Maklum, seiring dinamika bisnis MLM yang belakangan makin ramai,  perusahaan pengelolanya juga semakin antusias menyediakan fasilitas dan infrastruktur yang bisa menopang kemajuan bisnis ini. Dan, salah satu  elemen terpenting  ialah penerapan TI dengan baik. “Perusahaan seperti kami memang tak bisa tidak mesti  mengimplementasi TI. Tak hanya ada, tapi harus canggih,” tutur Nangky Halim, Manajer Senior TI PT Amway Indonesia.

 

Nangky kemudian menunjukkan para anggota/distributornya — di Amway disebut independent business owner – di Indonesia yang jumlahnya 300 ribu orang. Karenanya,  butuh database yang lengkap untuk mencatat berbagai data dan aktivitas mereka. Belum lagi Amway termasuk jaringan MLM yang tak membatasi tiap distributor dalam mencari downline. Jadi,  kalau pemain MLM lain ada yang membatasi ke bawah (downline)  maksimal empat atau lima level, di Amway dibebaskan baik horisontal maupun vertikalnya.  “Nah, bagaimana kami bisa menghitung akumulasi poin dan bonus para distributor, bila kami tak punya sistem TI yang canggih dan otomatis,” Nangky menegaskan.

 

Di Amway Indonesia sendiri kesadaran untuk membangun infrastruktur dan fasilitas TI sudah dicanangkan sejak awal. Tepatnya sejak 2001. Amway mengembangkan infrastruktur TI untuk memudahkan komunikasi dan transaksi dengan para distributor (member) di seluruh Indonesia. Dan kini, hasilnya sudah ada beberapa fasilitas yang bisa dimanfaatkan anggota. Pertama, layanan berbasis Web. Website Amway bisa dimanfaatkan anggota ataupun nonanggota (publik). Bagi anggota (distributor) Amway  fasilitas ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih luas, bukan hanya informasi umum soal perusahaan, melainkan juga mengakses informasi seputar jumlah poin (hingga menit tertentu saat si anggota melakukan browsing),  keaktifan anggotanya, hingga informasi jumlah dan keaktifan para downline si anggota itu.  Dalam hal ini,  informasi soal poin terbilang sangat penting karena datanya selalu berubah tiap detik. Pasalnya, kalau ada kaki-kaki (downline) yang melakukan transaksi,  otomatis akan ada yang kebagian tambahan poin,  sehingga sistem harus bisa melakukan penyesuaian secara otomatis.

 

Amway Indonesia memberikan layanan Web based  lokal ini kepada semua  distributor tanpa melihat levelnya. Tiap orang yang sudah bergabung sebagai member (distributor) langsung diberikan nomor password atau PIN dan nomor anggota untuk mengaksesnya.  Sebagai anggota, tentu ia bisa mengakses informasi lebih dalam dibanding orang luar. Yang jelas, meski tidak real time, fasilitas berbasis Web itu beberapa kali di-update kontennya dalam sehari.

 

Buat mereka yang sudah mencapai level tertentu  (Emerald ke atas seperti Ruby dan Diamond), akan diberikan  kesempatan (lewat PIN/nomor ID dan password) menggunakan fasilitas Web berjaringan global (yang disebut Global Business Informastion System).  Karena  itu, bila seorang member punya downline di negara lain, Cina misalnya, maka cukup lewat Internet, ia  bisa memantau tingkat keaktifan kakinya  itu, serta mengetahui sudah berapa banyak jumlah kaki-kaki totalnya.  Memang, lewat fasilitas Web global ini, seseorang yang berhak, bisa mendeteksi dan mengalkulasi aktivitas sponsorship internasional yang dilakukan seseorang. “Informasi yang ada dalam Web global 100% real time. Jadi setiap saat selalu meng-update poin,” ungkap Nangky.

 

Tak hanya layanan yang berbasis Web,  Amway juga membangun sistem interactive voice response (IVR). Ini merupakan layanan telepon otomatis bila ingin menanyakan seputar bonus, poin,  jumlah kaki, dan lainnya. Para user (distributor) tinggal menghubungi nomor telepon  Amway,  kemudian menyebutkan nomor PIN dan password-nya lalu akan ada jawaban otomatis dari sistem. Tak berhenti di situ, kalau dirasakan menelepon biayanya lebih mahal — misalnya ketika sedang di luar negeri — atau tidak membawa laptop untuk  mengakses Web,  kini Amway juga telah mengembangkan fasilitas berbasis  SMS. Biayanya paling-paling hanya Rp 2.000 tiap mengirim dari luar negeri.  “Mereka tinggal kirim SMS ke nomor HP tertentu, lalu sistem yang akan menjawab. Sama sekali tak ada human intervention karena sudah di-handle sistem TI kami,” ujar Nangky bangga.

 

Tentu, jaringan MLM yang membangun sistem TI untuk mempermudah para anggotanya tak hanya Amway. PT Orinda Alam Ayu (Oriflame Indonesia) yang merupakan MLM bidang kosmetik juga sudah mengadopsi TI guna membantu kelancaran proses bisnisnya.  Seperti dikatakan Arief Agustama,  Manajer TI Oriflame,  tiap member  (di Oriflame disebut konsultan),  bisa mengecek posisi dan hasil kerjanya,  di mana saja di seluruh cabang Oriflame di Indonesia.  Maklum, semua data aktivitasnya  (activity report) sudah terekam  lengkap.  Ini misalnya dibutuhkan seorang konsultan Oriflame yang berbasis di Jakarta tapi sedang bepergian ke kota lain. Di luar itu, sejak tiga tahun lalu, Oriflame telah menyediakan  sistem Activity Report Terminal (ART).  Fungsinya mirip ATM bank. Jadi,  masing-masing anggota yang sudah punya PIN itu bisa datang ke cabang untuk mengakses informasi di sistem  dan kemudian mencetak hasil laporannya sendiri.

 

Toh,  untuk mengakomodasi kebutuhan para member agar tetap bisa mengakses informasi  tanpa perlu mendatangi kantor cabang, Oriflame menyediakan  juga layanan berbasis Web sejak 1,5 tahun lalu.   “Keunggulan sistem kami,  nomor PIN untuk masuk ke ART dan website sama dan informasinya juga bisa sama,” ujarnya sembari menyebutkan anggota (konsultan) yang aktif di Oriflame Indonesia 70-80 ribu. Format laporannya  berbentuk file MS Excel. Sekadar catatan, informasi yang tersedia di ART antara lain poin individual dan grup serta analisis grup.  Saat ini, lanjut Arief,  Oriflame juga sedang mengembangkan pola order produk dengan SMS.

 

Bila diamati, di perusahaan MLM multinasional seperti Amway ataupun Oriflame, sistem  TI dan aplikasinya dirancang oleh kantor pusat. Kantor Indonesia kemudian membuat beberapa langkah lokalisasi sesuai dengan kebutuhan di Indonesia. “Peran tim TI di Indonesia memang menjembatani lokalisasi yang dibutuhkan,” ujar Arief.   Hal yang sama juga terjadi di Amway yang asal Amerika Serikat itu. Walau demikian, pekerjaan tim TI lokal ini tetap sangat serius. Lihat saja dari kekuatan staf TI-nya. Di Amway Indonesia misalnya, tim TI mencapai 17 orang, yang meliputi tenaga pengembangan aplikasi, infrastruktur, hingga data entri.

 

Nyatanya, gelombang adopsi  TI tak hanya bisa ditemukan di perusahaan MLM multinasional.  Kalangan MLM lokal pun tak mau kalah dalam membangun TI untuk memudahkan proses transaksi dan komunikasi bisnis dengan para mitranya. Contohnya di Sofie Martin (PT Nadja Sukses), PT Citra Nusa Insancemelang (CNI), dan PT Usahajaya Ficooperasional (UFO).   Ketiga MLM lokal ini pun sudah membangun TI cukup maju,  termasuk memanfaatkan TI untuk akurasi kalkulasi poin dan bonus bagi semua mitra jaringannya.

 

UFO misalnya  juga membangun website yang tergolong  sangat aktif dan kontennya selalu di-update. Website ini juga  ditujukan untuk kepentingan internal, bukan sekadar untuk promosi atau PR ke pihak luar. Artinya, para member bisa menggunakan fasilitas Web ini untuk bertransaksi (semisal mengorder barang) dengan memasukkan nomor PIN sesuai dengan nomor keanggotaannya. Namun, pemain MLM lokal rata-rata belum sampai menyediakan fasilitas berbasis SMS ataupun sistem IVR.

 

Sejauh ini, berdasarkan pengamatan SWA terhadap perusahaan MLM yang sudah menerapkan TI secara serius, rata-rata sambutan para anggota (konsultan) terhadap kehadiran layanan berbasis TI memang cukup bagus. Di Oriflame tampak responsnya sangat positif. Begitu diluncurkan langsung banyak pemakainya. “Mereka menjadikan itu sebagai senjata. Tanpa itu mereka tak bisa melakukan planning,” tutur Arief sembari mengungkapkan Oriflame kini memasarkan sekitar 500 varian produk.

 

Di Amway pun setali tiga uang. Para anggota setidaknya memanfaatkan fasililitas berbasis TI tadi untuk proses monitoring. Kerja mereka menjadi lebih mudah. Di Amway, seperti dicontohkan Nangky, anggota sangat terbantu. Tiap kali seorang berbelanja maka ia akan  menerima kuitansi atau struk penjualan yang di bagian bawahnya langsung diketahui akumulasi poinnya setelah pembelian di kantor cabang itu. Maklum,  Amway punya 25 kantor cabang yang sudah terintegrasi sistem TI-nya satu dengan yang lain.  “Katakanlah ada seorang distributor di Jakarta yang punya downline di Surabaya dan Yogyakarta yang kebetulan sedang belanja, maka poinnya bisa langsung masuk ke distributor yang punya dua kaki itu, dan tercetak di kuitansi. Kalau tak pakai TI sulit sekali para mitra melihat status bonus dan hasil kerja mereka tiap waktu,” Nangky menguraikan.

 

Nangky juga melihat fasilitas TI seperti ini sangat membantu dalam merencanakan pencapaian  poin dan bonus para mitra distributor. Contohnya bila di pertengahan bulan seorang distributor sudah mencapai level bonus 12%, berkat sistem yang ada, ia bisa mudah mengetahui masih berapa poin lagi yang dibutuhkan untuk mencapai level bonus lebih tinggi. Jadi tak terjadi hal-hal yang merugikan (missing). Misalnya sebenarnya poinnya untuk bisa mencapai bonus di atasnya hanya kurang sedikit tapi karena tak punya info, akhirnya ia tak mengusahakannya dengan membeli produk sendiri atau cara lain. “Dengan TI membuat mereka tak lagi rugi karena ada peluang mendapatkan bonus lebih besar,” ia menjelaskan. Manfaat lain, kini masing-masing anggota lebih mudah mengontrol dan memonitor para downline. Misalnya bila ada downline yang tak kunjung berkembang dan poinnya stagnan,  ia bisa digenjot dengan memberikan motivasi, pelatihan, dan semacamnya.

 

Hadi Barko, mantan Direktur TI Avon Indonesia,  melihat adopsi TI di perusahaan MLM sudah menjadi keharusan dan tak bisa ditawar lagi. Dia mengaku mengerti betul bagaimana sulitnya menjalankan proses  bisnis MLM seandainya tanpa dukungan TI yang mumpuni. Maklum adanya aturan yang mengharuskan perusahaan  memberikan komisi dari setiap transaksi yang dilakukan para anggota, serta poin dan reward,  yang sering kali melibatkan ratusan bahkan ribuan anggota, dan menyulitkan perusahaan mengelolanya.  Belum lagi urusan mengecek poin yang sudah dikumpulkan, serta bonus yang harus mereka terima ketika mencapai target penjualan yang ditentukan perusahaan. “Terlebih lagi kalau skemanya banyak dan terkesan rumit,” ujar Hadi.

 

Bagi Hadi, satu-satunya solusi yang paling memungkinkan untuk menangani itu semua adalah TI. Hanya saja,  ia mengaku, hingga saat ini tidak semua perusahaan MLM peduli dengan pemanfaatan TI. “Jangan heran jika hanya sebagian kecil perusahaan yang sudah berani melakukan investasi di bidang TI ini,” katanya.   Namun demikian, Hadi cukup mafhum. Mahalnya biaya investasi menjadi salah satu kendala utamanya. Terlebih jika sistem yang dibangun itu untuk mengintegrasikan seluruh cabang di Indonesia.

 

Oriflame, menurut Hadi, bisa menjadi contoh bagi perusahaan MLM lain. Kendati datang relatif belakangan, menurut pengamatannya, pertumbuhan dan penetrasi pasarnya luar biasa. “Hampir-hampir bisa menyalip Avon yang lebih dulu beroperasi di Indonesia,” ungkapnya. Ketika diamati lebih jauh, Oriflame bisa bagus juga didorong ketersediaan infrastruktur TI yang sangat bagus. Perusahaan itu lebih dulu menyiapkan infrastruktur TI, baru kemudian ketika sudah siap, mereka menjalankan bisnisnya. Lebih jauh Hadi cukup optimistis, perusahaan MLM di Indonesia masih memiliki prospek bagus ke depan. Buktinya, beragam perusahaan MLM masih bisa eksis hingga kini. “Kepiawaian mengemas produk dan dukungan TI akan menjadi kunci keberhasilan  di bisnis ini,” ujar Hadi yang kini aktif sebagai konsultan TI.

 

 

 

Tabel:

 

 

Data dan Statistik:

 

 

PT Amway Indonesia

- Negara asal :  Amerika Serikat.

- Perusahaan MLM tertua di Indonesia.

- Total anggota: 300 ribu.

- Total anggota aktif: 30 ribu.

- Jumlah cabang: di 25 kota

Kondisi sistem TI:

 

- Dibangun sejak 2001.

- Didukung website global dan lokal.

- Mempunyai sistem IVR.

- Layanan  informasi berbasis SMS sejak 2001.

- Didukung sistem manajemen inventori.

- Tahun 2006 direncanakan punya fasilitas informasi real 

   time.

 

 

PT Orindo Alam Ayu (Oriflame Indonesia)

 

- Negara asal: Swedia.

- Hadir di Indonesia sejak 1986.

- Rata-rata pertumbuhan bisnis tahunan 70%.

- Jumlah anggota aktif:  70 ribu.

 

Kondisi sistem TI:

 

- Dibangun dan terintegrasi sejak 2001.

- Fasilitas informasinya fully real time.

- Mempunyai layanan Web based untuk komunikasi dengan

   mitra.

- Mengembangan Activity Record Terminal yang mirip ATM

  perbankan.

- Sedang uji coba pola order berbasis SMS.

 

SHARE SOCIAL MEDIA

Category: Listed Articles  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


two + = 7