Home » Listed Articles » Sepak Terjang Sang Raja Amonium Nitrat

Sepak Terjang Sang Raja Amonium Nitrat

Share :

    “Clear the area, over,” terdengar suara yang tampaknya disampaikan melalui radio handy talky dalam sebuah tayangan video singkat berdurasi 30 detik. Dan tiga detik kemudian, bum…. Bukit pasir seluas 500 m2 dengan tinggi 100 meter di salah satu lokasi pertambangan tembaga di Indonesia itu sudah porak-poranda, berbagai isinya pun tumpah permukaan bumi. Itulah peledakan di industri tambang yang bertujuan membuka area tambang baru.

    Tahukah Anda, selain berbagai aksesorinya seperti detonator, bahan utama yang digunakan dalam proses peledakan tersebut adalah amonium nitrat yang memiliki rumus kimia NH4N03? Amonium nitrat merupakan produk berbahan dasar amoniak yang biasanya digunakan untuk membuat pupuk. Nah, seiring dengan meningkatnya bisnis pertambangan di Indonesia, harga amonium nitrat yang digunakan sebagai bahan baku peledak di pertambangan itu pun terus naik. Tahun 2007, misalnya, harganya masih US$ 250/ton, awal 2008 sudah melonjak menjadi US$ 450/ton. Bahkan, sempat mencapai US$ 1.000/ton pada kuartal IV/2008, sebelum akhirnya kini bersemayam kembali di kisaran US$ 450-500/ton.

    Melonjaknya harga tak lepas dari sisi permintaan yang terus melejit. Pada 1990-an, permintaan pasar domestik baru sekitar 36 ribu ton/tahun, kini diperkirakan mencapai 310 ribu ton/tahun. Tak mengherankan, banyak yang tertarik memperbesar jatah kuenya di bisnis ini. Salah satunya, tentu saja, PT Multi Nitrotama Kimia (MNK). Maklumlah, sejak didirikan 20 tahun silam, MNK memang produsen tunggal amonium nitrat di Indonesia.

    Wajar bila MNK tertarik. Saat ini, MNK baru mampu memenuhi 160 ribu ton/tahun. Itu pun yang diproduksi sendiri hanya 37 ribu ton/tahun, sisanya diimpor dari sana-sini seperti Australia, Cina, Filipina, Meksiko dan Prancis. Kepemilikan saham MNK saat ini 40% dikuasai PT Ancora Indonesia Resources Tbk. (kode saham: OKAS) yang membeli dari PT Ancora Mining Services yang mengambil alih dari saham Bimantara Citra Tbk. Sementara 60% sisanya dibagi sama rata antara Yayasan Dana Abadi Karya Bakti dan PT Pupuk Kujang.

    Sebagai penguasa 60% pasar amonium nitrat di dalam negeri, kinerja MNK memang tergolong kinclong. Tahun lalu (2008), MNK mencetak pendapatan sebesar Rp 1,04 triliun, melonjak 72% dari tahun sebelumnya (2007) sebesar Rp 600 miliar. Begitu pula laba bersihnya yang pada akhir 2008 mencapai Rp 140 miliar, meningkat 100% lebih dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 62 miliar. “Pendapatan dan laba kami meroket lantaran harga amonium nitrat membubung tinggi pada 2008,” tutur Presiden Direktur MNK Nicodemus Cristianus Judyono (53 tahun) kepada SWA di kantor pusatnya di Lantai 4 Perkantoran Hijau Arkadia, Jalan Letjen T.B. Simatupang, Jakarta Selatan.

    Meski demikian, yang menikmati legitnya rezeki nomplok peningkatan harga amonium nitrat bukan hanya MNK. Ada pemain lain seperti Orica dan Dyno Nobel, pemain asing yang kuat di bisnis mining explosive, mulai dari amonium nitrat sampai aksesorinya seperti detonator dan booster. Selain itu, ada pula pemain lokal yang melayani jual-beli amonium nitrat dan produk aksesorinya seperti PT Dahana, Pindad, Trivita, Armindo, Tridaya dan Hasta Karya.

    Ketika harga amonium nitrat meningkat tahun lalu, pemain asing dan lokal turut merasakan manisnya. Memang tahun lalu industri pertambangan booming. Ditambah lagi, seperti dikatakan Judyono, Cina, yang menyuplai 20%-25% amonium nitrat nasional tengah menutup keran ekspor karena fokus menggunakan amoniaknya untuk memenuhi kebutuhan pertambangan dalam negeri. Tak pelak, harga meningkat drastis. “Tapi, kenaikan harga jual amonium nitrat tetap masih lebih tinggi daripada kenaikan harga beli bahan bakunya. Maka, kami mendapat peningkatan laba yang luar biasa kemarin,” ungkap Judyono.

    Meski laba akhir 2008 atau sejak MNK diakusisi OKAS adalah yang paling berkilat selama 20 tahun berdirinya, tidak dimungkiri MNK sebelumnya memiliki performa yang baik. Ini terlihat dari konsistensi MNK meraih laba sejak dulu. “Saya lupa angka pastinya, namun memang perusahaan ini sudah untung dari tahun 1994,” papar Judyono, mantan petinggi Pupuk Kujang yang diangkat sebagai Presdir MNK setelah OKAS masuk.

    Prestasi MNK yang memiliki 245 karyawan itu diklaim cemerlang lantaran sejak dulu memiliki keunggulan dalam hal reliability. “Bisnis bahan peledak tidak terlalu sensitif terhadap harga jika perbedaannya hanya 7%-8%, karena biaya penundaan peledakan akibat keterlambatan pengiriman bahan peledak bisa lebih besar ketimbang selisih harga. Jadi, yang lebih diperhatikan konsumen adalah faktor reliability, itulah yang diunggulkan MNK,” kata Aulia M. Oemar, Direktur Keuangan MNK yang berasal dari Ancora.

    Warsito, yang bertugas di divisi procurement PT Pama Persada, kontraktor pertambangan, mengaku perusahaannya sudah 10 tahun memakai produk amonium nitrat MNK. “Tetapi, produk dari penjual amonium nitrat lainnya seperti Dahana dan Trivita juga digunakan untuk jaga-jaga kalau ada keterlambatan atau kekosongan barang,” tuturnya. Menurutnya, produk MNK cukup bersaing di sisi harga. Sementara dari sisi kualitas, bisa dibilang sama baiknya dengan yang lain. Namun, ia pernah mengalami keterlambatan pengiriman amonium nitrat oleh MNK. “Tapi tidak apa, soalnya ditutupi oleh yang lain. Lagi pula, itu karena tahun lalu kebutuhannya meningkat, jadi pasokannya terbatas,” tambahnya.

    Meski demikian, Aulia M. Oemar, 35 tahun, master bidang keuangan lulusan Louisiana State University, AS, menjelaskan, MNK relatif lebih bisa diandalkan dalam pengiriman lantaran memiliki empat gudang. Keempatnya tersebar di Jakarta, Cikampek, Banjarmasin (Kalimantan Selatan) dan Samarinda (Kalimantan Timur). Dengan demikian, faktor keterlambatan pengantaran bisa diminimalisasi.

    Karena itulah, sampai kini, klien-klien MNK adalah para pemain lama yang cukup puas dengan pelayanan MNK, antara lain Freeport, Pama dan Adaro. “Dengan Freeport, dari 60 ribu ton kebutuhan amonium nitratnya per tahun, sekitar 40 ribu ton dari kami,” kata Aulia. Penjualan selebihnya ke berbagai perusahaan tambang dan perusahaan kontraktor pertambangan.

    Meski pasar sudah pasti, sejak OKAS masuk, manajemen yang baru justru mereorientasi visi. “Yang kami lakukan untuk semakin memajukan perusahaan ini adalah pertama kami melakukan reorientasi visi. Tadinya fokus ke trading atau pemasok, kini menjadi one stop mining services,” ungkap Judyono yang memegang gelar sarjana manajemen dari Universitas Gadjah Mada. “Industri ini 70% dikuasai pemain asing, 30% saja yang dipegang Indonesia. Pemain nasional pun terdiri atas 6 pemain. Untuk memperbesar porsi memang harus menguasai sektor hulu (produksi amonium nitrat) hingga hilir (aksesori peledak), serta harus merekrut orang-orang yang memiliki pengalaman di perusahaan asing,” imbuh Judyono.

    Itu sebabnya, Judyono menarik Alex Djajadisastra, mantan eksekutif Dyno Nobel Indonesia, menjadi Direktur Komersial MNK. Alex juga dipercaya mengelola Divisi Jasa Teknis untuk mengelola jasa-jasa lain selain penjualan amonium nitrat. “Ini embrio masa depan kami. Kami memberi perhatian lebih ke Divisi Teknis dan R&D (Riset & Pengembangan),” ujar Judyono.

    Di Divisi Teknis itulah terletak berbagai jasa pelengkap MNK seperti jasa peledakan dan riset mengenai teknologi peledakan menggunakan emulsi yang berbentuk pasta gigi, bukan lagi berbahan amonium nitrat fuel oil (ANFO). Dan, menyadari MNK tak memiliki waktu untuk melakukan R&D sendiri, sejak awal 2009 digandenglah Fakultas Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung yang memiliki laboratorium biomekanik dan peledakan. “Di sana juga ada empat Ph.D. yang ahli teori. Itu sangat kami butuhkan. Tujuannya, kami ingin menjadi mining services yang integrated. Kami sudah menggunakan emulsi di Kalimantan meski baru bersifat kecil, mulai Maret 2009. Meski kapasitasnya kecil, itu breakthrough buat kami,” kata Alex.

    Sekadar informasi, ANFO dan emulsi adalah salah satu bentuk bahan peledak yang digunakan dalam rangkaian peledakan. Menurut Judyono, salah satu sebab MNK akan mengembangkan peledak berbentuk emulsi karena margin labanya lebih besar serta memiliki kemampuan untuk diledakkan dalam kondisi basah, tidak seperti ANFO yang hanya bisa saat kondisi kering.

    Targetnya, pada 2011, MNK sudah harus bisa menggunakan emulsi produksi sendiri dalam skala besar. Selain itu, tahun depan MNK akan membuat pabrik aksesori bahan peledak seperti explosive tran, serut batang, detonator dan booster. “Terus terang, kontribusi dari bisnis aksesori ini diperkirakan akan kecil. Namun, kami harus membuatnya jika ingin menjadi one stop service di bidang mining explosive services,” kata Judyono.

    Rencana selanjutnya adalah memperbesar kapasitas produksi amonium nitrat. Pada 2011 MNK berencana memproduksi total hingga 140 ribu ton amonium nitrat/tahun. MNK tak mau lagi sekadar menjadi pedagang, tetapi juga menjadi produsen sepenuhnya. Lagi pula, saat ini 50% laba MNK memang berasal dari produksi amonium nitrat. Adapun jasa peledakan menyumbang 10%, sementara sisanya dari hasil jual-beli amonium nitrat.

    Untuk menunjang rencana pembangunan pabrik di kawasan pabrik yang sekarang, di Kawasan Industri Kujang, Cikampek, MNK sudah menargetkan untuk mengucurkan US$ 60 juta. Niatnya, sekitar US$ 20 juta dari kas internal, sisanya dari penerbitan obligasi serta pinjaman bank.

    Peningkatkan daya saing tersebut pun disertai pembenahan internal. Konkretnya, MNK mencoba meningkatkan daya tarik perusahaan terhadap SDM profesional terbaik dengan menyesuaikan standar remunerasinya dengan industri. Tujuannya untuk menarik orang-orang terbaik seperti Alex. Selain itu, pada pertengahan 2008 juga mulai diterapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) yang terdokumentasi. “Nggak usah susah-susah, kami contoh yang sudah ada di Pupuk Kujang. Kan Pak Judyono ini dari sana,” ujar Aulia sambil menunjuk atasannya itu, sementara yang ditunjuk hanya mengangguk-angguk sembari tersenyum.

    Tahun ini, MNK pun mulai merumuskan key performance indicators untuk semua level karyawan. Tak ketinggalan, demi meningkatkan kualitas SDM-nya, Juni lalu MNK mengirimkan tiga karyawannya untuk mengambil beasiswa master.

    Demikian juga, MNK memperbaiki sistem teknologi informasi (TI)-nya. Meski saat ini sistem TI akuntansinya belum terintegrasi, MNK sedang dalam tahap implementasi ERP. “Sistem TI kami sebagian sudah rampung. Kami sendiri membenamkan US$ 500 ribu untuk sistem TI berbasis Microsoft Aksapta,” ungkap Judyono. Selain itu, MNK juga berhasil mendapatkan sertifikasi ISO 9001 dari OSHAS dan 14000 untuk manajemen lingkungan.

    Menurut Judyono, industri bahan peledak pertambangan ini tidak surut. Buktinya, meskipun krisis, para penambang tetap berproduksi. Ia juga menyebutkan data dari salah satu perusahaan tambang asing yang menyatakan bahwa pada 2012 akan dibutuhkan setidaknya 400 ribu-500 ribu ton amonium nitrat/tahun. “Dari sekarang, permintaan amonium nitrat sendiri belum ada slow down dari sisi produksi pertambangan. Tidak ada juga perusahaan tambang yang menurunkan target produksi,” ujarnya.

    Judyono menyadari pula, beberapa pesaing MNK mengambil langkah serupa. Contohnya, Armindo yang justru bergabung dengan Orica membangun PT Kaltim Nitrate Indonesia di Kal-Tim dengan kapasitas 300 ribu ton/tahun dan diharapkan rampung pada 2011. Begitu pula PT Dahana, BUMN yang biasanya memproduksi aksesori bahan peledak, kini ikut-ikutan memproduksi amonium nitrat. Dahana tengah membangun pabrik amonium nitrat berkapasitas 300 ribu ton/tahun di Bontang, Kal-Tim, yang juga diharapkan rampung pada 2011.

    “Tidak masalah. Kan yang akan terambil pasar asing. Lagi pula, pasar terus tumbuh. Dan, dengan berbagai pembenahan ini, kami sudah siap nantinya,” kata Judyono optimistis.

    Keyakinan seperti yang dimiliki pria berpembawaan tenang itu juga tampak pada diri Harry Sampurno, Direktur Keuangan dan Pengembangan Bisnis PT Dahana. “Kami tidak akan berkompetisi karena porsi asing di Indonesia sedemikian besarnya. Sehingga, yang akan tergerus diharapkan pasar asing. Begitu pula dengan rencana MNK membuat aksesori peledak, kami tidak khawatir karena lagi-lagi tujuannya adalah untuk mengurangi porsi asing di Indonesia,” tutur Harry.

    Harry justru mengkritik peraturan saat ini yang membeda-bedakan antara pemain nasional dan pemain asing. Sebagai contoh, jika pemain asing membeli bahan baku seperti amonium nitrat, tidak dikenakan biaya pajak impor. Berbeda dari jika yang membeli adalah MNK atau Dahana. “Ini semua terjadi karena amonium nitrat dimasukkan ke dalam master list bebas biaya impor di Badan Koordinasi Penenaman Modal yang direkomendasikan Departemen ESDM. Makanya, lebih baik para perusahaan tambang di Indonesia membelinya dari pemain asing ketimbang yang nasional. Kami harap, ke depan, ini berubah. Sehingga, kami, pemain nasional, tidak merasa dianaktirikan di negeri sendiri,” kata Harry menandaskan.***

    Share :

      SHARE SOCIAL MEDIA

      Category: Listed Articles  |  Comment (RSS)  |  Trackback

      LEAVE A REPLY


      four + 4 =