Home » Listed Articles » Triono Untung Piryadi, Raja Jamur Tiram dari Cianjur

Triono Untung Piryadi, Raja Jamur Tiram dari Cianjur

Cianjur ternyata tak hanya identik dengan produksi berasnya yang pulen, melainkan bisa disebut pula sebagai daerah penghasil jamur tiram terkemuka. Sebagai perbandingan, bila produksi jamur di Sukabumi dan Bogor 2-3 ton per hari, di Cianjur bisa mencapai 4 ton per hari.

Nah, berbicara mengenai jamur tiram produksi Cianjur, orang harus menoleh pada CV Asah Asih Corporation (AAC). Maklum, dari 4 ton produksi jamur tiram asal kabupaten ini, 2,8-3 ton di antaranya dipasok oleh perusahaan milik Triono Untung Piryadi itu. Tak hanya untuk wilayah Cianjur, jamur produksi AAC – yang di pasar tradisional dikenal dengan nama Jamur Si Madu – juga dipasarkan di Sukabumi, Bogor, Bandung, Jakarta, hingga Yogyakarta. Kini, Triono boleh dibilang juragan besar jamur tiram asal Cianjur.

Toh, upaya Triono menjadi pengusaha jamur tiram tidak dilalui dengan gampang. Pria kelahiran Jember 21 September 1965 ini mesti memulai usahanya dengan penuh kesabaran, plus strategi jitu untuk menembus pasar. “Usaha jamur tiram ini saya rintis dari nol,” kata Triono mengenang. “Saya bersyukur, bisnis yang saya kembangkan sudah besar seperti sekarang.”

Tempat pembiakan jamur yang dikelola Triono berada di dataran tinggi perkebunan jamur Jenggung. Untuk mencapai lokasi itu, buat orang kebanyakan cukup melelahkan. Lebih dulu kita harus melalui lokasi Perkebunan Nusantara VIII dan menelusuri jalan kecil di Desa Salahuni, yang jauhnya sekitar 4 km dari Jl. Raya Cugenang-Cianjur. Dari Desa Salahuni, perjalanan masih berlanjut dengan melakukan pendakian hingga ke lokasi perkebunan. “Saya beli tanah ini tahun 2003. Awalnya 6 ribu m2, sekarang luasnya mencapai 3 ha,” ujar Triono berbagi informasi.

Kewirausahaan alumni Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada ini bermula dari idealismenya bahwa orang lokal mestinya juga bisa mengembangkan potensi bisnis yang ada di lingkungannya. Maklum, sebelum terjun sebagai entrepreneur, Triono bekerja di perusahaan penghasil jamur sitake (leatinus edodes) terbesar di Asia Tenggara, PT Inti Mekar Sejati, hingga posisi Manajer Riset. Ketika masih bekerja untuk orang lain, Triono melihat banyak unsur biaya yang sebenarnya bisa ditekan dalam proses produksi jamur. Ia mencontohkan adanya ruang laboratorium yang dibangun dengan investasi mahal. Contoh lainnya, proses pemanasan untuk menghasilkan baglog (media pembiakan jamur) yang membutuhkan waktu lama, hingga 16 jam, padahal menurutnya cukup dua jam sudah memadai untuk bisa menghasilkan baglog yang kering sempurna.

Dengan keyakinan bisa menghasilkan produk jamur berkualitas dengan biaya murah, Triono memulai wirausaha jamur tiramnya. Bermodal uang tabungan selama bekerja di perusahaan tadi, dan menggaet mantan anak buahnya, Asep Bachtiar, ia mulai mengembangkan kebun jamur pertama di Kampung Ciherang, Cianjur, pada 2001. Ia menyewa sebuah rumah untuk produksi, sekaligus sebagai rumah tinggal. Asep pun rela digaji hanya Rp 50 ribu per bulan.

Setelah melakukan riset kecil, mereka bisa menghasilkan jamur tiram dengan kualitas bagus yang siap dilempar ke pasar. Toh, Triono mengaku tak mudah menembus pasar. Triono dan Asep pun bergerilya ke pasar becek (pasar tradisional) menawarkan jamur tiramnya, dengan harga jual Rp 5 ribu/kg. “Awalnya pasar menolak. Tetapi saya nekat nongkrong di depan kios dan menitipkan jamur ke pedagang. Akhirnya, satu per satu konsumen yang tahu kualitas, membeli jamur tiram produksi saya,” kenang Triono sambil tersenyum.

Dari kegiatan pemasarannya itu, Triono hanya mampu menjual sekitar 5 kg per hari. Toh, cara pemasaran seperti itu ia wariskan kepada jajaran tim pemasarnya sampai sekarang, untuk menembus pasar-pasar baru.

Setelah pasar cukup mengenal produknya, permintaan pun mulai terdongkrak. Dari penjualan 5 kg/hari naik menjadi 7 kg/hari dan seterusnya. Bahkan, Triono sudah mampu menyewa tanah seluas 6 ribu m2 di daerah Warung Kondang, Cianjur. Jumlah karyawan pun terus bertambah menjadi 4 orang hingga menjadi 11 orang, yang umumnya mantan karyawan perusahaan tempatnya bekerja dulu.

Tahun 2003, Triono memindahkan usahanya ke daerah Cugenang-Cianjur. Persisnya di Perkebunan Jamur Jenggung, Desa Salahuni, Cianjur. Ia enggan menyebutkan berapa investasi yang dibenamkan di lokasi pengembangan yang ketiga ini. Yang jelas, area pengembangan produk jamurnya telah berkembang, dari 6 ribu m2, sekarang sudah mencapai 3 ha. Ada sekitar 10 bangunan paranet sebagai mediator pembiakan jamur tiramnya. Selain tempat produksi, ia juga memanfaatkan setiap jengkal tanah di area usahanya ini sebagai tempat riset. Ia meriset berbagai jenis jamur seperti jamur kalosibe (calocybe), jamur masrum (uy phyllin), jamur kuping hitam dan beberapa jenis jamur lainnya.

BOKS:

Cara Triono
Membiakkan Jamur Tiram

Untuk mengembangbiakkan jamur tiram, Triono menggunakan bahan baku serbuk gergaji, dedak dan kapur, yang diaduk dengan mesin. Campuran ini kemudian dikemas padat dalam plastik yang ditutup dengan plastik berongga – kemasan ini disebut baglog. Setelah pengemasan, baglog seberat 1,2 kg ini dimasukkan ke dalam oven selama kurang-lebih dua jam dengan suhu di atas 110 derajat Celcius untuk membunuh kuman. Setelah proses pemanasan, baglog kemudian disimpan dan disusun di rak berdasarkan kategori usianya. Pembiakan jamur tiram ini membutuhkan air yang cukup. Karenanya media tempat jamur tumbuh harus sering disemprot air, agar kelembabannya terjaga. Jamur tiram yang berkualitas baik adalah jamur yang segar, kering dan tidak pecah. Panen jamur tiram dapat dilakukan setiap hari, dua-tiga kali, tergantung permintaan pasar. Jamur yang telah dipanen, dibersihkan akarnya, disimpan dalam kantong plastik dan siap dipasarkan. Di pasar, harga jamur tiram ini sekitar Rp 20 ribu/kg.

Menurut klaim Triono, produktivitas AAC dalam mengembangbiakkan jamur tiram lantaran proses yang dilakukannya lebih cepat dan efisien ketimbang pembudidaya jamur lainnya. Misalnya, bila di tempat lain baglog harus dikomposkan dan perlu disimpan sampai 6 bulan; sedangkan di AAC, dalam usia 35 hari baglog sudah bisa menghasilkan. Selain itu, bila di kebanyakan kebun jamur lainnya jamur mesti dipanaskan (dimasak) selama 8-16 jam; di AAC cukup dilakukan hanya dua jam. Dan, jika di tempat lain untuk menghasilkan 10 ribu baglog butuh 20 tenaga kerja selama sehari penuh; di AAC untuk menghasilkan 7 ribu baglog per hari bisa diselesaikan tidak lebih dari 1,5-2 jam oleh empat tenaga kerja.

Dari 7 ribu baglog yang dihasilkan, sekitar 4 ribu baglog dipisahkan untuk dibiakkan menjadi jamur yang langsung dijual ke pasar. Sementara sisanya (sekitar 3 ribu baglog) disimpan untuk kemudian dijual dalam bentuk baglog kepada mitra (petani plasma), yang tersebar di wilayah Cianjur hingga ke daerah lain seperti Yogyakarta. Triono mengklaim, dari total produksi sebanyak 7 ribu baglog, hanya sekitar 2% yang gagal produksi. Produk jamur tiram yang dihasilkan pun dibagi ke dalam tiga grade, yakni grade 1, 2 dan 3. “Namun grade 2 dan 3 pun terbilang sangat sedikit dan tak sampai 1% dari total produksi jamur tiram,” kata Triono.

Selain prosesnya yang efisien, menurut Triono, inovasi juga dilakukan timnya. Contohnya, timnya menciptakan lem untuk pengendali serangga. Mereka juga menciptakan rak-rak dengan sistem mengambang agar tanah di area penyimpanan baglog tak amblas. “Di tempat kami tidak ada pemakaian bahan kimia seperti pestisida, alkohol dan bahan kimia lainnya. Orientasi kami adalah menghasilkan jamur organik,” Triono menuturkan.

Kepiawaian Triono mengembangbiakkan jamur bermutu tinggi telah mengundang banyak minat dari pihak lain untuk bermitra, mulai dari petani plasma hingga pengusaha. Seperti disebutkan Triono, termasuk politikus Rizal Malarangeng, yang pernah berkunjung ke perkebunan milik Triono dan menyatakan minatnya untuk mengembangbiakkan bisnis jamur tiram ini.

Dalam hal kerja sama, pola yang diterapkan Triono juga berbeda dari yang lainnya. Biasanya, pihak inti (perusahaan) memberi modal kepada plasma (petani mitra), dan pihak petani plasma akan membayar dari hasil panennya. Nah, menurut Triono, pola itu kurang efektif. Sebab, dengan bayaran berupa hasil panen pihak plasma, maka plasma menjual produksinya dengan harga yang tidak stabil. Adapun di AAC, plasma yang memiliki modal dan AAC sebagai inti menjual putus produksinya kepada 25 petani plasma. “Hotline kami buka 24 jam. Meski jual putus, kami tawarkan layanan pascajual. Artinya bila ada kendala kami cari solusinya. Dan bila mereka belum punya pasar, kami jembatani dengan ketentuan ada kesepakatan harga jual yang sama seperti harga yang kami jual ke distributor terbesar. Sebab, di industri jamur ini tidak ada institusi atau asosiasi yang bisa menjaga harga,” papar Triono mengenai mekanismenya.

Kendati begitu, Triono mengaku belum tertarik memasarkan jamur tiramnya ke luar negeri. Menurutnya, menyasar pasar ekspor saat ini bukanlah solusi yang tepat, karena pasar dalam negeri masih cukup besar. “Lha wong pasar di sini masih besar, apa perlu orientasi ekspor?” ucap Triono sambil tersenyum. Selama ini, hampir 100% produk jamurnya yang dipasarkan, didistribusikan ke pasar tradisional. Ia mengakui, dengan cara itu margin keuntungannya tipis, tetapi putaran volumenya tinggi.

Di luar inovasi dan strategi bisnis yang diterapkan, keberhasilan Triono dalam mengembangkan bisnis jamur tiram ini tampaknya juga karena didukung loyalitas sekitar 70 karyawannya. Maklum, pola manajemen perusahaan yang diterapkan Triono berbasis aspek kekeluargaan. Hampir 90% karyawannya tinggal di daerah sekitar perkebunan. Untuk itu, Triono menyediakan 10 bangunan sebagai mes (tempat tinggal) buat karyawan. Beberapa di antara karyawannya adalah pasangan suami istri yang keduanya bekerja untuk AAC. “Suasana kerja yang kami bangun bersifat kekeluargaan. Bagi karyawan yang tinggal tak jauh dari sini, kami sediakan kendaraan untuk antar-jemput mereka,” Triono berujar.

Seperti halnya perusahaan modern, Triono juga turut memikirkan masa depan karyawannya dengan mengikutsertakan mereka dalam Program Dana Pensiun. Bahkan, beberapa karyawan terbaiknya disekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Gaya manajemen yang diterapkan Triono mendapat acungan jempol dari Asep Bachtiar, salah satu karyawan yang turut merintis bisnis jamur tiram di AAC. Menurut Asep, sebagai pemimpin, Triono cukup telaten membimbing para karyawannya agar bisa menjadi orang pintar. Selain itu, bosnya juga memberi kepercayaan dengan mendelegasikan unit-unit usahanya kepada karyawan yang dinilai cukup kredibel. “Beliau membentuk karyawan agar mandiri. Mereka didelegasikan tugas. Mereka diberi tanggung jawab untuk menjalankan usaha dengan benar. Dan kami hargai kepercayaan beliau,” ujar Asep.

Pola seperti itulah, lanjuta Asep, yang antara lain membuatnya betah dan loyal, meskipun awalnya ia merasakan susahnya membangun bisnis jamur tiram bersama Triono. “Dulu beliau kasih saya uang Rp 50 ribu sebagai upah, sekaligus biaya survei. Kami survei dengan berjalan kaki, tidak pakai motor atau mobil. Satu-dua kg kami jual dan hasilnya kami putar. Ada uang berapa pun beliau kasih ke saya, dan saya catat. Saya bersyukur, perusahaan sudah berkembang seperti sekarang,” papar Asep, yang kini dipercaya menjadi Manajer Pemasaran AAC.

Selain jamur tiram, Triono juga mulai mengembangkan sayap bisnisnya ke bidang lain, yakni pembiakan udang dan spinlina. “Kami sedang menekuni budi daya udang. Kami pelajari pengembangbiakannya untuk menghasilkan kualitas udang yang prima,” ungkap bapak empat anak, yang juga berkeinginan membentuk petani plasma udang ini.

Untuk menangani unit bisnis pembiakan udang dan spinlina ini Triono mendelegasikannya kepada Yudi. Pria berusia 20 tahun yang sudah sejak 2003 bergabung di AAC ini mengakui cukup kerasan bekerja di perusahaan milik Triono. “Kerja di sini asyik, kami bekerja sambil belajar. Pak Triono juga memperlakukan kami seperti keluarga. Kami bersenda gurau bersama. Dan ini mengasyikkan,” tutur Yudi.

Bahkan, menurut Yudi, besaran gaji yang diterimanya bukan menjadi masalah. Kepercayaan yang diberikan Triono membuatnya merasa nyaman bekerja. Tak hanya itu, sikap Triono yang layaknya sebagai teman, bukan atasan yang main perintah, membuatnya merasa enjoy dan betah. “Beliau membimbing dan membina kami dengan caranya yang penuh gurauan. Dan, beliau juga tidak pelit berbagi ilmu,” kata Yudi.

SHARE SOCIAL MEDIA

Category: Listed Articles  |  Comment (RSS)  |  Trackback

9 Comments

  1. yona says:

    Bisakah Bp membantu kami untk menyediakan jamur tiram, karena kami sebagai suplier saat ini kekurangan jamur yang berkualitas. Kami membutuhkan barang per hari sekitar 500 kg. Terima kasih atas kerja samanya dan bantuanya.

  2. muldan says:

    g da yg sukss tanpa bljr…..sya sgt2 bngga dngn pa yg tlah d hsilkan bpk.,blh ga sya surpey dan belajar d sana,,,,Untuk bekal d msa yg kn datang,.skarang saya masih plajar,,sbelumnya makasih

  3. indrayana says:

    saya sangat terkesan dengan usaha Bapak<sekarang saya sedang memekuni usaha jamur secara kecil2an.dengan 5000 baglog.kendala dalah pasar yg belum terjamah oleh saya.boleh say minta no kontak person bapak.dan alamat jelasnya.sya tinggal di depok

    • Surya says:

      Salam Hormat Bapak Indrayana,

      saya mau bertanya, apakah bapak masih menekuni bidang usaha jamur tiram. Jika sudah tidak lagi, apakah Bapak ada info tentang budidaya jamur di sekitar depok?

      kami ada kebutuhan jamur tiram fresh dengan kualitas yang bagus…..jika bapak memiliki info untuk membantu kami tentang jamur tiram fresh….silahkan menghubungi kami lewat email: surya_alam@hotmail.com

      salam

      Surya

  4. djaya says:

    saya sangat tertarik dengan budidaya jamur tiram….
    bagaimna cara mendapatkan bibit yg baik….
    apakah di daerah depok bisa di jadikan lokasi budidaya jamur,mohon imfo lebih lanjut.
    trimakasih….
    wasalam jaya depok…

  5. setiawan says:

    Saya sangat tertarik dengan usaha jamur ini, akan tetapi saya belum tahu sama sekali tentang cara budi daya jamur, apa saya bisa untuk belajar lebih lanjut? Saya sendiri sekarang tinggal di daerah bogor, tolong informasikan alamat/ no.tlp dari bapak triono. Sebelumnya terima kasih.

  6. asobandey says:

    jamur segar ala bogor, siap suply jamur segar berapapun kapasitasnya dengan qualitas super tiram putih, kami juga siap mengadakan pelatihan langsung mahir, jadi tak perlu beli bibit. tinggal niat yang bulat dan kemauan yang tinggi dijamin anda bisa mahir berbudidaya. hub: ade subandi bogor, 08567082875. oya masalah harga gk usah bingung yang penting mau z dulu!!!

  7. susanto says:

    saya sangat tertarik dengan usaha jamur ini.apa boleh saya ikut jadi petani plasma dari bapak triono .semoga dapat kabar dari bapak.terimah kasih.

  8. didik Hardinanto says:

    dear mas Triono,

    Mas, saya boleh berkunjung ke tempat budidaya jamur tiram mas?
    alamat dan posisinya dmn?
    terima kasih..

    salam sukses,

    Didik H

LEAVE A REPLY


two × = 10