Home » Listed Articles » Yogya Menuju Kota Wisata Konvensi

Yogya Menuju Kota Wisata Konvensi

Belakangan, setelah sempat sepi akibat krisis, Yogya kembali menggeliat. Apalagi, setelah pemerintah mengatur hari libur nasional. Tingkat hunian hotel terus menanjak. Sebelum krisis, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) asing yang menginap tercatat 350 ribu orang/tahun, sedangkan wisatawan domestik (wisdom) 1,2 juta orang/tahun. Setelah Bali, kota ini boleh disebut kawasan eksotis bagi wisatawan. Sostrowijayan dan Prawirotaman bahkan telah lama menjadi tempat mukim para wisman. Kedua tempat ini, bersama kawasan Jalan Jaksa Jakarta, masuk dalam buku panduan wisata internasional Our Planet yang biasa ditenteng wisman ke mana-mana.

Menurut data PHRI, di Yogya kini terdapat sedikitnya 400 hotel. Dari jumlah ini, 38 di antaranya hotel berbintang yang menyediakan 3.500 kamar. Secara keseluruhan, tersedia 9.500 kamar hotel — angka yang cukup besar untuk kota sekecil Yogya. Tingkat hunian hotel di kota ini sempat menurun drastis hingga nol persen saat kerusuhan Mei 1998. Tahun itu, bila dirata-rata, tingkat hunian hotel-hotel di Yogya cuma 19%, meski mereka telah melakukan perang tarif. Keadaan ini sempat membuat para pemilik hotel dan pekerja wisata menjerit.

Namun, pelan tapi pasti, grafik hunian hotel terus menanjak, sehingga pada 2002 mencapai 45%. Perkembangan menggembirakan ini sempat terganggu sebentar akibat travel band yang diterapkan banyak negara terhadap Indonesia. Untungnya, memasuki 2003, tingkat hunian melampaui 50%. Ini mengindikasikan adanya perbaikan. Wisdomnya malah tercatat melewati angka sebelum krisis, yaitu 1,6 juta.

Setelah pemerintah mengatur waktu libur nasional, rupanya pola berlibur pun ikut berubah. Buktinya, hampir semua jenis hotel di Yogya kebanjiran wisdom. Banjir rezeki ini tidak hanya dinikmati hotel berbintang, tapi juga hotel kelas melati. Saking ramainya, para pengunjung mesti mem-booking kamar dulu jauh hari sebelumnya. “Juli hingga Agustus, tingkat hunian hotel rata-rata mencapai 80%. Kami berterima kasih kepada pemerintah yang telah mengatur hari libur nasional sedemikian rupa, sehingga meningkatkan gairah pariwisata,” ungkap Indarto, Ketua PHRI Yogya.

Selain wisatawan biasa, banyak pula orang yang datang ke Yogya untuk menghadiri konvensi baik nasional, regional maupun internasional yang digelar di sana. Tahun lalu, misalnya, di kota ini diselenggarakan Asean Tourism Forum yang melibatkan 1.400 tamu dari 47 negara, disusul sidang Pra CGI (Consultative Group on Indonesia). Desember nanti, Yogya akan menjadi tuan rumah Tourist Indonesian Market Exibition. Menurut Indarto, paling tidak di Yogya digelar 500 acara konvensi menarik setiap tahun. Itu memang masih di bawah angka sebelum krisis yang mencapai 811 kali setahun.

Yogya tampaknya sedang berkembang menuju kota wisata konvensi. Pemda Yogya memang giat mengembangkan produk wisata baru ini. Bahkan, Yogya berencana mengukuhkan diri sebagai kota MICE (Meeting, Insentive, Conference, and Exibition). Dan ini disambut para pemilik hotel dengan menyediakan ruangan konvensi di hotel-hotel mereka. Bahkan, beberapa hotel yang selama ini tidak melirik, berencana mengembangkan bisnis ruang konvensi ini. Salah satunya, Hotel Ibis di Jalan Malioboro, seperti dituturkan PR-nya, Nike Mertanti.

Hotel Natour Garuda, yang selama ini dikenal sebagai hotel konvensi, jelas tak mau tinggal diam. Meski sudah memiliki 17 kamar khusus meeting dengan kapasitas 10 hingga 1.000 orang, Natour berencana menambah meeting room lagi di lantai dua, yakni dengan menyulap beberapa kamar hotelnya. “Kami sering kewalahan mendapatkan pesanan tempat untuk meeting,ââ”Å¡¬? kata staf PR Natour Garuda Yogya Nurwanti. Selama ini, Natour memang menjadi tempat favorit untuk konvensi baik oleh lembaga swasta maupun pemerintah. Hotel ini sudah teken kontrak untuk kegiatan wisuda mahasiswa beberapa perguruan tinggi swasta, selain menjadi langganan untuk meeting sejumlah BUMN.

Hyatt Yogyakarta, yang selama ini dikenal sebagai hotel mahal, diam-diam juga melirik konvensi sebagai lahan baru. Belum lama ini, nisalnya, konvensi Persatuan Dokter Spesialis Kulit Indonesia diadakan di hotel ini. “Order untuk konvensi selalu ada di tempat kami. Salah satunya dari Kementerian Lingkungan Hidup,” tutur Wisnu Hantoyo Manajer PR Hotel Hyatt.

Guna mendukung pengembangan wisata konvensinya itu, Pemda Yogya sedang berjuang keras mewujudkan Bandara Adi Sutjipto sebagai bandara internasional. Upaya pertamanya hampir berhasil, yaitu merealisasi penerbangan langsung dari Kuala Lumpur dan Singapura. Lion Air dan MAS dari Malaysia serta Negeri Singa sudah sanggup melakukan penerbangan langsung ke Yogya. Di samping itu, kota ini juga berhasil memikat pemilik Logistik Bhd. Mirza Mahathir, putra PM Malaysia Mahathir Muhammad, untuk menanamkan modalnya membangun prasarana di Bandara Adi Sutjipto.

Menurut Ketua Badan Pengembangan Industri Pariwisata Yogyakarta Windu Nuryanto, wisman yang berkunjung ke Yogyakarta paling tidak mengeluarkan uang sebanyak US$ 98/orang, sedangkan wisdom Rp 200 ribu/orang. Itu hasil surveinya dua tahun lalu. Kini dia memperkirakan kemungkinan setiap wisman menghabiskan US$ 115 sedangkan wisdom Rp 380 ribu. Tak heran, sektor pariwisata menjadi salah satu andalan Pendapatan Asli Daerah Yogya. Di kota ini, sektor pariwisata menjadi pemasok PAD terbesar kedua setelah Pajak Kendaraan Bermotor. Adapun untuk tingkat provinsi, menduduki peringkat ke-6.

SHARE SOCIAL MEDIA

Category: Listed Articles  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


× seven = 63