Home » My Article » Berbisnis dengan Teduh

Berbisnis dengan Teduh


Steven Pinker dalam The Stuff of Thought mengatakan pola pikir manusia pada dasarnya bersifat metaforis. Sadar atau tidak, percakapan sehari-hari kita dipenuhi metafora yang terkadang jumlahnya bisa belasan frasa setiap jamnya.

George Lakoff dan Mark Johnson dalam Metaphors We Live By mengungkapkan bahwa metafora adalah cara memahami suatu gagasan dengan cara lain Misalnya: Orang kaya di Jakarta jumlahnya “membubung tinggi”; Harga saham “menukik turun” dengan drastis, dan seterusnya. Namun, metafora yang digunakan seseorang tidaklah acak. “They are grounded in our embodied experienced – the reality of being a person living in a body, on a planet with gravity,” ujar mereka. Hal itu melekat dalam tindakan, pengalaman dan realitas seseorang.

Apa yang terjadi bila metafora dipakai untuk memahami bisnis lewat pengertian “perang”? Contohnya seperti kalimat berikut:

  • Menjelang Natal toko-toko melakukan perang diskon.

  • Perusahaan itu sedang menyiapkan strategi baru dalam melakukan gerilya pemasaran.

  • Mereka membuat gugus tugas untuk menyerang pesaing di kota itu.

  • Misi pemimpin cabang di daerah ini adalah merebut kembali pelanggan yang beralih ke perusahaan lain.

  • Kedua perusahaan itu berkompetisi sampai titik darah penghabisan.

Daftarnya bisa diperpanjang dengan menambahkan kosakata: membidik, target, operasi, rekrut, taktik dan seterusnya yang kesemuanya itu adalah idiom dalam dunia peperangan.

Pola pikir peperangan (warfare mind set) sesungguhnya sudah lama dipakai di dunia bisnis dan manajemen. Akarnya mungkin bisa dirunut mulai dari jenderal besar seperti Sun Tsu dan Carl von Clausewitz, akademisi seperti Al Ries dan Jack Trout (1985) dengan Perang Pemasaran-nya, Gary Hamel dan C.K. Prahalad (1996) dengan Competing for the Future-nya, hingga Henry Mintzberg (2002) dengan Strategi Safari-nya. Analisis Strengths, Weaknesses, Oportunities, and Threats (SWOT), terutama pada poin kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) sejatinya adalah contoh pola pikir perang.

Karena grounded in our embodied experienced – menyatu dengan pengalaman/tindakan kita sehari-hari – maka tidaklah mengherankan, metafora bisnis ibarat perang seperti contoh di atas mudah menggiring seseorang ke arah pola pikir kelangkaan (scarcity mind set) dan ancaman (threat). Dari sini sering timbul nafsu untuk menumpuk sumber daya alam (kumpulkan sebanyak-banyaknya selagi Anda bisa), serta tindakan menyalahgunakan sumber daya manusia (manfaatkan anak buahmu selagi masih sehat).

Strategi ini mungkin bagus untuk jangka pendek, tetapi buat jangka panjang amat melelahkan dan menimbulkan dampak buruk terhadap planet bumi beserta isinya. Bila kita merencanakan sebuah strategi berdasarkan premis kelangkaan dan ancaman, kita cenderung mengadopsi model yang mendominasi dan menghadapi “musuh” yang kita takuti atau tidak kita sukai lewat tindakan agresif.

Model-model seperti ini berisiko melanggengkan pola pikir memecah belah dan mengendalikan, bertarung dan mengalahkan, serta menciptakan dunia yang pilihannya hanya satu: Menang atau mati. Mereka atau kita!

Tak bisa dimungkiri bahwa model-model seperti ini barangkali cocok diadopsi di masa lalu. Namun, di era global yang saling terhubung seperti sekarang, keefektifannya mulai dipertanyakan. Kini orang mulai menyadari bahwa ketika kita “menghajar” apa yang kita sebut sebagai “musuh”, sering kali dampaknya malah negatif secara keseluruhan sistem – di mana kita merupakan bagian dari sistem itu.

Nampaknya sekarang sudah tidak pas lagi membangun masa depan yang kita dambakan lewat metafora dan pola pikir peperangan. Lebih baik kita pikirkan model lain yang lebih damai, bersahabat dan langgeng.

Dewasa ini timbul pemikiran yang orientasinya tidak lagi berperang, melainkan berkolaborasi. Timbul istilah yang lebih sejuk seperti: inovasi, inspirasi, imajinasi, knowledge sharing, positive change, dream, visi, tujuan (purpose), kelangsungan (sustainability), kemakmuran (prosperity), nilai (value), dan seterusnya.

Bahkan di era sekarang, metafora “peras santannya, buang ampasnya” dalam memperlakukan karyawan mulai disingkirkan. Pebisnis modern kini lebih suka berpikir bagaimana mengembangkan dan meningkatkan kelebihan yang dimiliki para stafnya agar bisa lebih tinggi lagi. Mereka percaya pada metafora sky is the limit. Alih-alih mengobok-obok kelemahan orang yang selain tidak bermanfaat, juga cuma menggoreskan luka dan sering menimbulkan dendam, lebih baik mencari cara untuk mengungkit (leverage) kelebihan, berkolaborasi dan menyediakan sarana yang memungkinkan hal ini terjadi. Pola manajemen Command and Control sekarang sedang bertransformasi menjadi model Coaching (baca buku saya: Double Benefit from Business Coaching: Good Company and Great Manager, 2008).

Untuk mengeksplorasi kelebihan karyawan Anda, coba simak 8 pertanyaan di bawah ini dan jawab dalam hati:

(1) Apa hal terbaik yang terjadi pada diri Anda beberapa minggu terakhir ini?

(2) Apa yang paling Anda sukai pada pekerjaan Anda?

(3) Ceritakan pada saya ketika Anda berada dalam keadaan terbaik Anda.

(4) Ceritakan pada saya tentang beberapa keberhasilan dalam hidup Anda.

(5) Ceritakan pada saya tiga kekuatan terhebat Anda.

(6) Apa yang paling menggembirakan tentang pekerjaan Anda?

(7) Siapa yang menjadi panutan terpenting dalam hidup Anda? Secara profesional? Secara pribadi? Apa hal istimewa yang Anda pelajari dari orang itu?

(8) Pada situasi bagaimana yang merupakan saat terbaik bagi Anda mempelajari sesuatu?

Sekarang tarik napas panjang. Bagaimana rasanya ketika Anda sendiri yang menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas? Dapatkah Anda bayangkan bila Anda mengajukan pertanyaan tersebut kepada para staf Anda? Akankah mereka lebih termotivasi? Lebih berpikir positif? Lebih bergairah dalam bekerja? Lebih produktif? Lebih terjadi persahabatan di antara mereka? Dan lebih teduh suasana kantor Anda? Saya yakin Anda tahu jawabannya.

Penulis adalah President IndoNLP, perintis Neuro LinguisticProgramming di Indonesia.

(Diambil dari kolom “Pernik” di Majalah SWA)

SHARE SOCIAL MEDIA


Tags: ,
Category: My Article  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


4 × = twelve