Berlakunya perjanjian perdagangan bebas ASEAN dengan Cina atau ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area) berarti membolehkan kedatangan produk raksasa Cina tanpa ada hambatan tarif untuk mengeksploitasi pasar domestik Indonesia. Cina menjadi raksasa karena prestasi negara ini dalam perdagangan internasional, persaingan global, perusahaan yang memasuki daftar perusahaan global, dan prestasi menahan laju ekspansi perusahaan multinasional asing di pasar domestik.
Dalam perdagangan internasional, khususnya untuk ekspor produk barang dagang, tahun 2008 Cina menduduki peringkat 2 dengan pangsa ekspor 8,9% dari total ekspor barang dagang dunia. Hanya tertinggal dari Jerman yang menduduki peringkat 1 dengan pangsa pasar ekspor 9,1%. Cina menduduki peringkat 3 sebagai pengimpor barang dagang dengan pangsa impor sebesar 6,9% dari total impor barang dagang dunia. Cina hanya tertinggal dari Amerika Serikat dan Jerman sebagai peringkat 1 dan 2 pengimpor barang dagang dunia (International Trade Statistic, 2009).
Dalam persaingan bisnis antarnegara, Cina menduduki peringkat 30 dalam Indeks Persaingan Global tahun 2008-09, sedangkan Indonesia di posisi 55. Prestasi tersebut dicapai karena Negeri Panda itu mampu dengan baik membangun infrastruktur ekonomi dan kebijakan ekonomi makro yang mantap. Contohnya, pembangunan infrastruktur pelabuhan telah menempatkan pelabuhan petikemas Cina — antara lain Shanghai, Shenchen, Qingdao, Ningbo dan Guangzhou — dalam 20 besar pelabuhan tersibuk selama 24 jam di dunia.
Cina juga mampu meningkatkan kualitas produksi dengan biaya yang lebih efisien. BYD Cina tercatat sebagai perusahaan dengan pangsa pasar besar dunia dalam industri rechargeable batteries. Cina pun sukses dalam aplikasi teknologi terkini dalam produk yang menuntut kandungan teknologi sebagai penentu kualitas produk. Salah satu perusahaan Cina lainnya, Dawning, mampu menempatkan diri sebagai perusahaan komputer dalam peringkat 10 besar perusahaan komputer global.
Perusahaan lokal Cina sangat hebat pula dalam menahan laju perusahaan multinasional yang ingin mengeskploitasi pasar domestiknya. Contohnya, Baidu mampu menahan laju pertumbuhan Google sebagai mensin pencari di pasar Internet Cina. Tahun 2007, pangsa pasar Google di pasar domestik Cina hanya 25,9%, sedangkan Baidu 60,1%. Bahkan di tahun 2009, Baidu menduduki peringkat 3 dalam kategori Brand Momentum dunia.
Ternyata, prestasi perusahaan Cina di pasar domestik juga diikuti dengan prestasi perusahaan Cina di pasar global. China Sinopec, misalnya, mampu menduduki peringkat 9 dan China National Petroleum nangkring di peringkat 13 dalam perusahaan Global 500. Tahun 2009, Cina mewakilkan sebanyak 37 perusahaan terdaftar dalam perusahaan Global 500. Hanya AS, Jepang, Prancis dan Jerman yang dapat mengungguli negara yang pernah mendapat julukan Negeri Tirai Bambu itu dalam perwakilan perusahaan Global 500.
Semangat perusahaan Cina melakukan ekspor sangat tinggi karena tidak terlepas dari implementasi strategi global pemerintahnya dalam mengembangkan industri. Misalnya, Pemerintah Cina bertujuan mengembangkan industri otomotif sampai 2020. Untuk mencapai sasaran tersebut, perusahaan automotif dan suku cadang Cina harus mampu: (a) mengekspor mobil dan suku cadangnya dengan pertumbuhan 10% per tahun pada 2009-11, (b) sampai 2015 penjualan modil dan suku cadanganya harus tumbuh 20% per tahun, (c) pada 2010 pangsa pasar mobil dan suku cadang sudah harus mencapai 10% total volume penjualan dunia.
Perusahaan Cina yang akan mengekspor produk ke pasar domestik Indonesia adalah perusahaan swasta yang telah terbukti menjadi perusahaan raksasa lokal di negaranya. Perusahaan raksasa lokal ini telah terbukti menyumbang besar pada produk domestik bruto Cina, mampu mengalahkan atau setidaknya menahan laju perusahaan multinasional di pasar domestik Cina. Selain itu, mereka juga telah sukses menjalankan strategi gerilya dari pinggiran kota menuju tengah kota, dan ambisi mencapai tujuan yang besar melandasi setiap gerak ekspansi perusahaan ke pasar luar negeri.
Bagi perusahaan raksasa Cina, memasuki pasar negara maju merupakan cara masuk yang sulit. Sementara memasuki pasar negara berkembang adalah cara masuk yang mudah karena perusahaan Cina sangat berpengalaman melayani pasar berpenghasilan rendah dan tidak akan mendapatkan perlawanan yang sengit dari perusahaan lokal.
Kemungkinan besar perusahaan Cina akan memasuki pasar domestik Indonesia dengan menggunakan strategi same for less — kualitas produk sama dengan perusahaan lokal tetapi harga jual lebih murah. Pasar seperti ini memiliki karakteristik pelanggan yang sensitif terhadap harga dan kurang peka terhadap citra merek dan produk buatan Cina.
Sekarang, perusahaan raksasa lokal telah mencapai skala ekonomi sehingga dengan mudah akan mendapatkan keunggulan biaya produksi dibandingkan produk lokal Indonesia. Produk raksasa lokal Cina tersebut juga tidak memerlukan biaya promosi – aktivitas promosi mouth to mouth terbukti lebih efektif.
Produk raksasa lokal Cina yang akan masuk ke pasar Indonesia juga produk yang mengalami tekanan persaingan yang sangat kuat di pasar domestik Cina, sehingga memperoleh marjin yang tipis. Dengan terbukanya pasar Indonesia bagi produk Cina tersebut, mereka akan mendapatkan marjin yang lebih tinggi karena daya beli pelanggan Indonesia dan lemahnya perlawanan dari perusahaan lokal Indonesia.
Kedatangan produk raksasa Cina ke pasar Indonesia akan memanjakan konsumen Indonesia dengan harga murah, tetapi memberi tantangan besar bagi perusahaan lokal Indoensia untuk memenangi persaingan di pasar domestik. Strategi yang mudah ditempuh untuk mengikuti perusahaan Cina adalah strategi same for less tanpa minta dukungan pemerintah.
Produk lokal yang dihasilkan perusahaan lokal Indonesia dipasarkan di pasar domestik Indonesia untuk bersaing dan menahan laju kedatangan produk Cina. Apabila sukses, perusahaan lokal Indonesia kemudian dapat mengekspor produk untuk mengeksploitasi pelanggan kelas bawah pasar domestik Cina.
*) Penulis adalah Direktur Riset Prasetiya Mulya Business School.
