Tuntutan baru setelah krisis global adalah penggantian paradigma bisnis – paradigma membangun kekuatan bisnis perlu digantikan oleh paradigma membangun komunitas bisnis. Perusahaan selalu membangun kekuatan bisnis agar dapat secara maksimal mengeksploitasi pertumbuhan industri. Dengan komunitas bisnis, diharapkan perusahaan secara bersama-sama membangun jaringan bisnis antara anggota komunitas dan antarsubsistem komunitas sehingga terjaga kepentingan bisnis komunitas, dan selanjutnya tercipta nilai ekonomi komunitas.
Dengan paradigma lama, krisis global memberi pelajaran tentang dampak buruk menukiknya pertumbuhan industri terhadap pertumbuhan bisnis semua perusahaan – mereka yang kuat menjadi tidak berdaya dan mereka yang lemah juga semakin lunglai. Teori bisnis yang tersedia hanya mampu mengurangi besaran dampak negatif dari menukiknya pertumbuhan industri.
Dalam industri yang menukik, teori absorpsi bisnis menganjurkan perusahaan menggunakan kekuatan yang dimilikinya: menyerap gaya puntir pertumbuhan industri sehingga dapat mengurangi besaran penurunan pertumbuhan perusahaan. Teori kelincahan bisnis menganjurkan perusahaan untuk menggunakan fleksibilitas operasional dan strategi perusahaan guna menghindari dampak gaya puntir pertumbuhan industri sehingga untuk sementara mengurangi besaran negatif pertumbuhan perusahaan. Bahkan, perusahaan yang dapat mengimplementasi kedua terori tersebut juga tidak dapat terhindar dari pengaruh gaya puntir menukiknya pertumbuhan industri.
Komunitas bisnis ditawarkan sebagai paradigma baru yang diharapkan memiliki kemampuan: menahan jarak menukik, memperkecil kemungkinan terjadinya penukikan, atau mengubah menukiknya pertumbuhan industri menjadi pertumbuhan menurun landai. Alasannya, menukiknya pertumbuhan industri dikarenakan oleh ulah perusahaan yang berusaha saling mengalahkan untuk memenuhi kepentingannya dan tidak peduli pada kelangsungan pertumbuhan industri.
Komunitas bisnis merupakan sebuah sistem jaringan yang anggotanya adalah perusahaan tergabung dalam subsistem komunitas bisnis dengan mengusung kepentingan bisnis yang sama. Motivasi terbentuknya komunitas bisnis adalah semangat untuk melindungi kepentingan bisnis bersama lebih baik daripada semangat saling mengalahkan. Kebersamaan kepentingan dalam komunitas bisnis akan menciptakan nilai ekonomi komunitas.
Karakteristik penting yang dimiliki komunitas bisnis yaitu: (i) model jaringan, (ii) nilai jaringan, dan (iii) peringkat kepercayaan (trust) dalam komunitas bisnis (lihat: Model Jaringan Komunitas Bisnis).
Pertama, pada mulanya komunitas terbentuk sebagai model jaringan sederhana – jumlah anggota komunitas sedikit, transaksi bisnis antara sesama anggota komunitas bisnis (inner community link) sangat terbatas, dan transaksi bisnis hanya terjadi antarsubsistem komunitas bisnis (intercommunity link). Perkembangan selanjutnya, komunitas bisnis membentuk model jaringan rumit – jumlah anggota komunitas bertambah, transasksi bisnis meningkat antara sesama anggota komunitas dan transaksi bisnis antarsubsistem komunitas semakin meluas.
Dalam model jaringan yang rumit, nilai ekonomi komunitas bisnis yang tercipta semakin besar, karena setiap anggota komunitas bisnis mempunyai tali rasa komunitas kuat dan tercermin di dalam: rasa memiliki komunitas, berbagi keberhasilan, saling memengaruhi, dan mempunyai kaitan emosional. Nilai ekonomi komunitas yang semakin besar berguna untuk menahan jarak menukiknya pertumbuhan industri.
Kedua, setiap transaksi bisnis antara angggota komunitas secara alami akan menghasilkan nilai jaringan komunitas bisnis. Nilai jaringan komunitas menunjukkan daya pengaruh kuat yang dimiliki anggota komunitas terhadap anggota lainnya. Daya pengaruh ini diperoleh dari akumulasi kinerja yang baik dalam transaksi bisnis dengan anggota komunitas, sehingga dapat menjadi rujukan praktik transaksi bisnis terbaik dalam komunitas binis.
Semakin tinggi akumulasi nilai jaringan bisnis yang dimiliki anggota komunitas bisnis, akan menjamin diperolehnya kelangsungan transaksi bisnis dalam komunitas dan akan menarik bagi anggota komunitas lain untuk menjalin transaksi bisnis dengannya. Komunitas bisnis yang mempunyai nilai jaringan tinggi menunjukkan kapasitas komunitas dalam menjaga kepentingan bisnis komunitas dan mengubah arah menukiknya pertumbuhan industri menjadi penurunan landai.
Ketiga, kehidupan lebih maju dari komunitas bisnis dibangun dengan saling menaruh kepercayaan antarkomunitas bisnis sebagai landasan operasional transaksi bisnis. Mereka menjalin transaksi bisnis diawali dengan model kepercayaan sederhana – transaksi bisnis terjadi karena perhitungan manfaat dan biaya. Kehidupan selanjutnya, transaksi bisnis terjadi berdasarkan nilai peringkat kepercayaan – anggota komunitas bisnis yang memiliki nilai peringkat kepercayaan tinggi akan terjamin kelangsungan transaksi bisnisnya.
Setiap anggota komunitas bertanggung jawab membangun nilai peringkat kepercayaan. Mereka yang memiliki nilai tinggi peringkat kepercayaan akan tetap berada dalam komunitas bisnis. Komunitas bisnis yang memiliki anggota dengan nilai peringkat kepercayaan tinggi akan memperkuat komunitas bisnis sehingga komunitas memiliki daya memperkecil kemungkinan terjadinya pertumbuhan industri yang menukik.
Komunitas bisnis dengan jaringan rumit, nilai jaringan tinggi, dan beroperasi berlandaskan peringkat kepercayaan diharapkan dapat menjadi paradigma bisnis baru yang menghasilkan praktik bisnis yang sehat dan nilai ekonomi komunitas bisnis yang besar.
Penulis adalah Direktur Riset Sekolah Bisnis Prasetiya Mulya
Â

[...] This post was mentioned on Twitter by Roni and SWA Media Inc., TDA Jogja. TDA Jogja said: RT @roniyuzirman: RT @swamediainc: swastartup.com/swacoid – Komunitas Bisnis, Tuntutan baru setelah krisis global http://tinyurl.com/ybskmla [...]
Mas Joko Wintoro yth.
Wah masukkan anda sangat penting dan belum banyak pebisnis Indonesia yang serius, tekun konsisten dan etis dalam komunitasnya.
Komunitas bisnis sebenarnya bukan hal baru, Jepang sudah mengenal philosophy Keiritsu atau formasi bangau terbang V, dimana leadernya yang menunjukkan tempat ikan, yang ikut pasti dapat makan, sedang yang murtad, merasa sok tahu terus keluar dari rombongan akan mati merana.
Inilah dasar dari Supporting Industrry bisnis, nggak usah berpikir jadi leader dulu, jadilah pelengkap yang strategis. coba lihat peniti, sepele, tapi kalau nggak ada peniti, kebaya ibu2 kita dulu nggak tertutup. Sekarang kira2 adalah connectors, se canggih2nya peralatan electronics, kalau nggak ada yang menghubungkan dengan power, yang tidak berdaya alias mati nggak berfungsi.
Astra sudah punya PIVA (perstauan Industri Vendor Astra)Sonypun demikian (diparkir pabrik Sony di seluruh dunia, tidak ada Corp.Car yg merknya Mazda semua Toyota) demikian pula Banknya, Couriernya dst.
Ynag diperlukan adalah semangat saling bekerja sama yang saling menguntungkan, jujur dan etis, pasti semua dapat rejeki seperti kata Keiritsu.
Jangan kalau di komunitas setuju, mau bantu, tetapi dipasar gontok2an berebut rejeki lagi.
Kita semua sudah punya peran masing2, rizki masing2, dan jangan berambisi terlalu besar diawal,ingat yang Wah itu Growah (kata orang Jawa yang besar itu dalamnya kopong).
Ayo kita bersatu, dalam komunitas kita masing2, jangan tiru budaya Bahagia lihat orang lain susah, dan Susah lihat orang lain Bahagia.
Its nice to be important, but its more important to be nice.
Salam dari sesama komunitas pengajar.
Eddy Setiohardono
Salam kenal dan sukses selalu