“Lupakan Sekolah Bisnis Harvard. Para pemimpin bisnis harus belajar dari Madonna.†Itulah petuah cerdas yang dikemukakan Oren Harari. Lantaran petuah tersebut terlontar dari pakar manajemen terkemuka melalui bukunya Break from the Pack, maka para pemimpin bisnis global mendengarkan.
Mengapa Madonna? Inilah sosok selebritas berusia lebih dari 50 tahun (lahir 16 Agustus 1958) yang sampai kini tetap mampu mempertahankan pamornya. Jagat panggung Madonna dimulai pada 1983. Melalui berbagai strategi sekaligus kontroversi, sepanjang 27 tahun karier selebritasnya tetap berada di puncak panggung hiburan. Tidak peduli ketika Tina Turner, Whitney Houston hingga Britney Spears sedang di puncak kejayaan, tetap saja reputasi Madonna tidak tersingkirkan.
Harari membandingkan dengan berbagai raksasa industri yang pada masanya begitu digdaya, seperti GM, Kodak dan AT&T, tetapi sekarang kejayaan mereka terlipat untuk kemudian menjadi medioker di pinggir lapangan kompetisi. Padahal semasa kejayaannya tidak terlintas dalam benak setiap orang bahwa perusahaan itu bakal tumbang menghadapi persaingan. Bandingkan dengan Madonna yang tidak lagi muda lantaran termakan usia. Madonna mampu mengatasi pesaing-pesaing barunya yang jelas jauh lebih muda, lebih cantik dan lebih energik. Dengan dua strategi andal: mem-branding-kan diri secara konsisten dan mempertahankan kredibilitas. Oleh Harari strategi ini disebut penemuan kembali (reinventing).
Dalam dua bulan terakhir, negeri ini kehilangan tiga tokoh besar bisnis. Pertama wafatnya Michael Ruslim (CEO PT Astra International/AI), kemudian disusul oleh Soetjipto Sosrodjojo (pendiri Grup Sosro) dan Johannes Ferdinand Katuari (Chairman dan Direktur Grup Wings). Usia ketiga perusahaan pimpinan almarhum mirip dengan usia Madonna, lebih dari 50 tahun. Untuk konteks global, perusahaan berusia 50-an tahun jelas masih disebut usia muda. Namun untuk konteks Indonesia, usia demikian ini pantas disebut usia panjang (tua). Walaupun tua, justru sekarang ketiga perusahaan ini sedang berada di posisi puncak.
Di tangan Michael, AI menjadi perusahaan dengan aset di atas Rp 100 triliun. Sementara di tangan Sosrodjojo (juga dibantu anggota keluarga lainnya), Sosro mengalami loncatan pertumbuhan. Bahkan beberapa bulan lalu berhasil memperoleh hak waralaba jaringan McDonald’s Indonesia. Begitu pula, Katuari bersaudara dengan Grup Wings-nya layak diapresiasi. Inilah perusahaan asli Indonesia yang mampu mengibarkan bendera di negeri seberang. Adapun produk mi instannya (Mie Sedap) mampu mengubah peta persaingan mi instan yang selama puluhan tahun stagnan.
Mirip dengan Madonna, ketiga perusahaan ini menggunakan strategi penemuan kembali secara konsisten dan selalu menjaga kredibilitas. Berbicara otomotif tentu tidak bisa melepaskan diri dari produk-produk keluaran AI. Penemuan kembali terus-menerus yang dilakukan oleh Toyota menjadikan Toyota sulit dikejar pesaingnya. Toyota Innova dan Avanza menjadi barometer atas konsistensi penemuan kembali ini. Sementara aliansi strategis dengan Daihatsu menjadikan Daihatsu terkerek penjualannya dengan tidak menjegal penjualan Toyota. Bahkan Daihatsu sekarang menjadi produsen nomor dua terbesar setelah Toyota.
Grup Sosro (Grup Rekso) tidak ketinggalan dalam mengedepankan strategi penemuan kembali. Setelah sukses dengan Teh Botol Sosro, Grup Rekso mengembangkan varian lain dengan tetap bertumpu pada bahan baku teh. Muncullah Tebs, Joy Green Tea, Fruit Tea, S-Tea dan Teh Celup Sosro. Atau produk di luar teh, seperti Happy Jus, Country Choice dan Prima. Benar, Rekso hanya menjual “produk kuno†berbahan utama teh. Namun, dengan penemuan kembali melalui produk-produk variatif, strategi pemasaran dan jaringan distribusi, Rekso menjadi jawara utama di bidangnya.
Bagaimana dengan penemuan kembali Grup Wings? Tepat bila dikatakan produk Wings hanya pengekor produk keluaran Unilever. Namun pencapaian kinerja naik terus-menerus dan mampu menggoyang singgasana tahta Unilever merupakan pencapaian yang pantas diapresiasi. Apalagi jelajah waktu operasional Unilever di Indonesia sudah sangat tua. Bahkan lebih tua dibanding usia negara Indonesia sendiri, sedangkan Wings dimulai dari industri rumahan di Surabaya.
Penemuan kembali Wings lebih pada penetrasi pasar yang mampu dibeli oleh masyarakat sampai golongan kesrakat sekalipun. Variasi produk terus-menerus dengan ditopang distribusi dan pemasaran yang konsisten menjadikan Wings – seperti namanya – terbang menjelajah negeri-negeri tetangga hingga ke pelosok Timur Tengah dan sebagian Afrika. Dan untuk konteks kekinian, ujung dari penemuan kembali ini tak lain Mie Sedap yang pasarnya sungguh sedap.
Penemuan kembali bisa menemukan momentumnya apabila didukung oleh kredibilitas perusahaan. Bagaimana AI, Rekso dan Wings membangun kredibilitas perusahaan? Tak salah dimulai dari pemimpin tertingginya. Hingga sampai wafatnya, Michael Ruslim, Soetjipto Sosrodjojo dan Johannes Ferdinand Katuari menunjukkan diri sebagai pemimpin bertangan midas dengan nilai-nilai keutamaan tanpa tandingan. Nyaris tidak ada selentingan minor menyoal tentang moral, etika dan integritas dari ketiga sosok ini. Sehingga wajarlah, AI, Rekso dan Wings memiliki nama harum, tidak saja bagi karyawan, pemasok dan konsumennya. Namun juga bagi negerinya: Indonesia.
Beristirahatlah dalam damai, Pak Michael, Pak Sosrodjojo dan Pak Katuari.
*Penulis adalah trainer bisnis, Mitra Pengelola High Leap Consulting.
