Home » My Article » Strategi Menghadapi ACFTA

Strategi Menghadapi ACFTA

Selamat datang di ASEAN-Cina Free Trade Area (ACFTA), satu era yang membuat sebagian besar pebisnis Indonesia merasa terancam. Mengapa? Bukankah produk Cina sudah lama masuk?

Benar. Sebenarnya, dari dulu produk Cina yang terkenal murah sudah membuat pebisnis lokal ketar-ketir. Namun karena ACFTA, Januari ini, 83% dari 8.738 produk impor Cina bebas masuk ke pasar Indonesia tanpa dikenai bea masuk. Wajarlah terjadi kecemasan lantaran dulu pun telah membawa dampak, apalagi sekarang yang tanpa bea masuk.

Pertanyaannya: mengapa produk Cina berharga murah dan semakin bagus kualitasnya?

Kenali lawanmu dan kenali dirimu. Untuk mengenal lawan, amati sisi technical dan sisi human social-nya. Kita lihat sisi teknis. Pertama, Cina unggul di 12 faktor kompetisi bisnis (GCI Cina di 29, Indonesia di 54). Kecuali faktor efisiensi pasar barang dan jasa, Cina menang telak di faktor sistem birokrasi yang cepat-tepat, infrastruktur, stabilitas ekonomi, inovasi bisnis, efisiensi tenaga kerja dan ukuran pasar (sehingga mampu mencapai economies of scale).

Kedua, Cina menerapkan strategi Reverse Engineering atau imitasi, sehingga mengurangi biaya riset & pengembangan, serta dapat memproduksi barang yang bervariasi dalam waktu singkat. Ketiga, adanya tax free policy selama tiga tahun pertama untuk perusahaan joint venture, subsidi 13,5% dari pemerintahan lokal dalam bentuk tax refund, pinjaman bank yang hanya 3% per tahun, serta banyaknya industri pendukung sehingga industri Cina tidak perlu mengimpor barang. Mata uang yuan yang dipatok terhadap US$ membuat harga ekspor barang Cina menjadi sangat murah.

Keempat, sistem politik di Cina lebih terbuka dan tidak memberangus kritik lagi sehingga mendorong perbaikan bersinambung. Contohnya, ada pertemuan tahunan yang disebut Chinese Economists Society.

Sekarang kita lihat sisi human-social. Pertama, adanya jejaring keluarga. Pebisnis Cina bisa menekan biaya pemasaran karena menggunakan jejaring ini untuk promosi. Kedua, ada trust antarpedagang, terutama kredit yang dilandasi guanxi (hubungan). Guanxi ini tidak hanya pada keluarga, tetapi juga kesamaan asal daerah, sekolah dan persahabatan.

Ketiga, investasi luar biasa di sektor pendidikan. Pada 1998, 3,4 juta pelajar masuk ke universitas. Empat tahun kemudian, pendaftaran universitas naik 165% dan siswa Cina yang ke luar negeri naik 152%. Setelah lulus mereka kembali dan membangun negerinya. Walau awalnya hanya menjadi pabrik alih daya, karena SDM-nya sudah menguasi teknologi, tak mengherankan perusahaan Cina seperti Lenovo bisa membeli IBM Thinkpad, Huawei mengancam Cisco dan Ericsson, serta Haier mengejar GE, Whirlpool dan Maytag.

Keempat, walau upah tenaga kerja hampir sama, buruh Cina bekerja lebih efisien (Cina di peringkat 32, Indonesia di 75 dari 133 negara). Produktivitas pekerja Cina naik 6% per tahun (1978-2003). Di Cina, satu produk butuh seorang pekerja. Di Indonesia, butuh tiga pekerja. Tukang batu di Cina benar-benar tukang batu tulen sementara di Indonesia adalah petani yang menganggur.

Lantas, bagaimana mengatasinya?

Langkah awalnya adalah analisis kompetensi inti Anda. Kenali dirimu berarti harus mengetahui betul apa kompetensi inti kita yang tidak dimiliki Cina. Hati-hati: kompetensi inti tidaklah sama dengan sumber daya yang kita miliki, seperti pertambangan, perkebunan/pertanian, properti dan infrastruktur. Sektor perkebunan, misalnya, memang Indonesia memiliki luas lahan yang besar, tetapi output-nya perlu digenjot agar lebih valuable, rare, costly to imitate dan non-substitutable. Karenanya, diperlukan audit manajemen strategis oleh pihak ketiga agar Anda tahu persis kekuatan dan kelemahan yang eksis di perusahaan.

Lalu, hadapi strategi harga murah Cina dengan empat cara. Pertama, menjalankan strategi harga lebih murah dari Cina, yakni menggunakan cara cloner, imitator, adapter (yang meniadakan biaya R&D), dan relokasi pabrik. Cara kedua, meningkatkan diferensiasi seperti layanan pascajual yang lebih baik, misalnya garansi uang kembali, produk yang berdasarkan kebudayaan asli Indonesia, hassle free experience, atau spesialisasi yang memanjakan konsumen terutama di sektor jasa.

Cara ketiga, melakukan inovasi produk yang lebih murah tetapi cukup berkualitas dengan Blue Ocean Strategy. Cara keempat, menerapkan strategi positioning “ada harga ada rupa”. Produk makanan Cina dikenal berbahaya: mainan anak beracun, komestiknya mengandung merkuri, susu mengandung melamin, perhiasan imitasi Cina mengandung logam berat kadmium. Banyak yang bilang kain batik asal Cina memang murah tetapi motifnya tidak bagus, kasar, dan kainnya kalau dipakai terasa panas di badan, sedangkan kain batik di Solo motifnya cukup bagus, begitu juga kualitasnya.

Tentunya, mengenal karakteristik pembeli sangat membantu dalam penentuan strategi. Pembeli dapat dibagi menjadi tiga golongan: premium, value for money dan ekonomi. Nah, produk Cina sebenarnya lebih diterima pembeli ekonomi dan value for money.

Terakhir, perkuat gotong-royong dan tolong-menolong. Dayagunakan jalinan kekeluargaan, kedaerahan dan alumni untuk membangun social capital seperti di Cina. Selain itu, tentunya pemerintah juga harus berperan lebih aktif membantu industri dalam negeri melalui strategi nontarif seperti pengetatan seluruh Standar Nasional Indonesia, pemberian label halal, serta pendayagunaan Komite Anti-Dumping dan Komite Pengamanan Perdagangan. Juga, membatasi ekspor energi untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, membuat kebijakan fasilitas pajak, mereformasi birokrasi dan memperbaiki infrastruktur.

Selamat berjuang pebisnis Indonesia, kita pasti menang!

*) Penulis adalah konsultan bisnis di Get Real Asia dan pengajar Managing the Market di S-2 London School of Public Relations.

Be Sociable, Share!
Tags: ,
Category: My Article  |  Comment (RSS)  |  Trackback

7 Comments

  1. Setuju dengan analisa anda pak Daniel, tetapi seperti yang saya sampaikan kepada anda, disini pebisnis dan pemerintah Indonesia harus benar2 menjalankan TOWS (Threat nya dulu biar sadar dan nggak sombong)secara strategis.

    Kita sudah tahu pola dagang Cina seperti apa, ya itu mereka adalah PEDAGANG TULEN dan bukan Global Player seperti Jepang dan Korea, jadi tidak mau menanamkan modal diluar (untuk industri manufaktur)sehingga tidak ada after sales service.
    Sbg contoh, Kemana sekarang Motor Cina? Kok tidak bisa menembus pasar motor Indonesia? Pasar telah melakukan natural selection, dan mereka yang tidak concern kpd after sales services yaa habis.

    Kita negara 2 musim, mereka 4, jadi produk alam kita tidak mereka punya, Sawit dan Karet harus ditambah nilainya, tidak kita ekspor mentah2, yang jelas mereka perlu minyak goreng sampai ke explosive C4 yang berasal dari CPO, ban2 mobil dari yang standar sampai ke dessert/snow dueler.

    Kita gunakan kelebihan mereka untuk mendongkrak bisnis kita, saya pernah mengenalkan pebisnis Indonesia, kpd dunia,dimana untuk memenuhi demand, dia harus mengakuisisi BUMN produk Tembaga Cina di Sansui, orang2 Indonesia menjadi expat di sana, dan Ibu Mendag kita juga pernah ketemu Bp. Sukotjo yang orang Jember tetapi menjadi supplier antenna terbesar didunia.

    Jadi, kuncinya adalah, berpikir strategis, kalau lemah, ya jangan dihadapi head to head, ya supplementory saja, sayangnya, pebisnis Indonesia tidak suka memulai dari kecil, dan yang kelihatannya remeh, tetapi demandnya besar dan strategis.

    Jadi, jangan cengeng, jangan buru2 minta perlindungan, sudah saatnya kita harus competitive dan siap bertarung dipasar dunia.
    Cina besar ya, kuat ya, tetapi tetap punya sisi lemah, itulah target kita.
    Bravo Indonesia Incorporated, mari bersatu untuk kemajuan Bangsa dan keutuhan NKRI.

    Salam sukses

    Eddy Setiohardono

  2. hendra says:

    artikel bagus, membuat hidup lebih semangat dalam menghadapi segala tantangan.
    mohon ijin untuk di salin ke blog saya.
    tks

  3. silahkan pak Hendra, setelah saya komentar disini, besoknya mantan Menteri BUMN pak Sugiharto juga komentar yang sama, kompas.com juga begitu, kesimpulannya, memang harus begitu.

    Media dan Industrialis yang memang belum survive, cenderung mengangkat infiltrasi China ke Asean dibawah payung CAFTA, biar PHK nya direstui.

    Tindakan yang kita angkat diatas, juga harus disertai Bapak2 di Bea Cukai & Perdagangan untuk benar2 HS(Harmony Standard) dan norma2 dalam GATT
    (Gov.Agreement on Tarrif & Trade) serta menjalankannya secara tegas dan konsisten.

    Bravo Indonesia

    E.Setiohardono

  4. Karen Kamal says:

    Apakah Bapak yakin produk China itu murah dan berkualitas bagus? Bukankah kita sering berpikir 2x sebelum membeli produk Cina yang seringkali kita temui mudah sekali rusak. Secara logika kalau memang produk China berkualitas bagus,bagaimana cara mereka memproduksi barang-barang yang dibeli dengan harga Rp10.000 dapat 3? Untuk menutupi biaya produksi saja terkadang sudah tidak masuk akal apalagi mendapat keuntungan.

    Kalau memang demikian, bisakah saya mengatakan produk China memang murah tapi berkualitas jelek? Mungkin memang tidak semua, tapi mayoritas demikian.

    Bagaimana tanggapan Bapak?

  5. m.a. syukron says:

    AC-FTA sudah dibahas dan dirundingkan sejak 1994. Sayangnya pelaku ekonomi terkait tidak menyiapkan diri dan tidak pula disiapkan oleh pihak berwenang. Itulah pasalnya timbul tanggapan terhadap AC-FTA seperti sekarang. Tetapi tanggapan yang sama terhadap juga dilakukan Thailand dan Malaysia. Malaysia agak kreatif dengan membentuk dana patungan dengan RRC sebagai solusi terhadap dampak negatif yang mungkin timbul dari persetujuan itu. Diperkirakan dalam jangka pendek dampaknya akan negatif terhadap Indonesia,Thailand dan Malaysia. Namun ‘long-term’ agaknya akan saling menguntungkan. Untuk itu jalan keluar, bagaimana caranya agar usaha yang terkena dampak negatif patungan pemasaran dengan China atau berafiliasi, merger saja, agar tidak terlikuidasi. Cara itu dapat membelajarkan pelaku ekonomi kita yang bekerjasama memasuki ekonomi dunia yang semakin terintegrasi. Strategi kerjasama dan memecahkan masalahnya saja, patut dipertimbangkan daripada berunding menunda,atau mengurangi hal-hal yang sudah disetujui berdasarkan perundingan yang cukup lama itu. Ingat empat tahun lagi kita juga akan memasuki ASEAN Community 2015, 10 tahun lagi APEC-FTA. Siapkan diri! Pemerintah serta organisasi profesional segeralah persiapkan pelaku ekonomi kita. Petik manfaat, temukan solusi masalah dari sekarang. Integrasi ekonomi dunia sudah digagas sejak 60 tahun silam. Negara yang mengintegrasikan diri, nyatanya lebih sejahtera dan makmur daripada yang tidak. Untuk itu, memang, titik tolaknya semua harus berubah dan diubah. Termasuk perubahan birokrasi Indonesia yang masih parah, korup dan tidak punya visi jelas. Perubahannya ke arah ‘good governance’ dan ‘competitiveness’.

  6. @BI says:

    Menarik sekali dan mencerahkan.
    Berikut artikel di Creative Solution Award dalam kontek ide untuk meghadapi AFTA :
    Mobile Order : Your Market On Your Hand : http://www.creativesolutionsaward.com/view/201.html
    Mobile Business Learning System : Meningkatkan daya saing anak negeri : Your Market On Your Hand : http://www.creativesolutionsaward.com/view/232.html

  7. Rental Mobil says:

    Strateginya ya being different aja

LEAVE A REPLY


* one = 7