Aksi Nekat Duo Kakak Adik Ciptakan Taman Trampoline | SWA.co.id

Aksi Nekat Duo Kakak Adik Ciptakan Taman Trampoline

step0001

Gara-gara foto di Instagram, duo kakak adik Neeraj Khiani (CEO) dan Suraj Khiani (CFO) nekat keluar dari pekerjaan untuk mendirikan taman trampoline di Jakarta. “Awalnya Suraj menunjukkan salah satu foto taman trampoline yang diunggah di Instagram. Dia bilang di Jakarta tidak ada yang seperti ini yuk bikin. Saya yang tadinya konsultan human resource dari NBO dan Suraj yang merupakan analyst dari UOB keluar untuk membuat Bounce Street ini,” cerita Neeraj.

Mencari investor bukanlah perkara yang mudah. Mereka berdua ditolak 15-20 investor sebelum akhirnya menemukan investor yang memiliki visi yang sama. Namun, Neeraj enggan memberi tahu siapa investor tersebut. “Orang lokal juga kok,” ujarnya memberi petunjuk. Di luas tanah seluas 2.600 m2, pembangunan Bounce Street dimulai pada Mei 2015. Terkendala di permasalahan kontraktor, pembangunan baru selesai di Februari 2016. Maret 2016 Bounce Street resmi dibuka untuk umum dengan luas arena permainan 1.500 m2. Fasilitas yang ada di Bounce School ini pun lengkap. Selain arena permainan, disediakan juga loker, kamar mandi, dan ada juga kafe di lantai 2. Orang tuapun bisa tetap mengawasi anaknya bermain di lantai 2. Investasi yang dikeluarkan pun mencapai US $ 1 juta. “Itupun belum dihitung final karena kami akan menambah arena permainan lagi,” ujar Suraj.

Taman trampoline yang diusung oleh Bounce Street ini berbeda dengan trampoline yang ada pusat perbelanjaan. “Jika di mall kan trampolinenya kecil dan tempatnya sempit. Sedangkan tema yang kami usung adalah fun. Arenanya kami juga luas. Kami menggabungkan semua aktifitas di luar tapi dijadikan trampoline based contohnya basket. Di sini kami kombinasikan basket dengan trampoline jadi anak bisa merasakan sensasi dunk kemudian ada juga dodge ball, wall climbing, total ada 11 jenis permainan. Arenanya pun kami bagi antara arena anak-anak dengan arena orang dewasa. Kami membatasi hanya 125 orang perjam di arena bermain,” jelas Neeraj.

Trampoline yang digunakan di Bounce Street diimpor langsung dari Eropa dan Australia, bahkan berstandar olimpiade untuk trampoline high performance. Duo kakak beradik ini bahkan memanggil pelatih trampoline dari Rusia untuk menjadi pengajar. Duo kakak adik ini bahkan membuka Bounce School untuk mencetak atlet trampoline. “Trampoline ini dilombakan loh di olimipiade tapi Indonesia tidak punya atletnya. Kami buat Bounce School juga agar orang tua tau kalo anaknya tidak hanya sekedar lompat-lompatan. Bounce School kami buat silabusnya dan ada placement testnya. Kami berharap Bounce School bisa mencetak calon-calon atlet trampoline yang bisa membawa nama Indonesia ke kancah internasional,” ujar Neeraj semangat.

Berlokasi di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara, Bounce Street menargetkan konsumen A dan B+. Selama 6 bulan beroperasi, jumlah pengunjung mencapai 100-125 perharinya. “Pengujungnya terbagi-bagi mengikuti jam operasional kami. Pagi biasanya anak-anak, siang anak sekolah atau remaja, di atas jam 6 sore orang dewasa atau anak kuliahan. Di akhir pekan lebih banyak keluaraga jadi semua segmen umur kami tangkap. Tapi untuk saat ini 60% pengunjung masih anak-anak,” jelas Suraj.

Untuk meningkatkan awareness masyarakat, Ardiyansyah Djafar, Head of Marketing Bounce Street, lebih berfokus kepada platform digital seperti media sosial dan membangun relasi ke komunitas yang berbasis akrobatik. “Bisnis dan komunitas harus hand to hand. Misalnya hanya berbisnis saja, tetapi tidak ada timbal balik kepada komunitas maka bisnis tidak akan bertahan. Sebaliknya jika ada komunitasnya tapi tidak ada dukungan dari industri ya tidak bisa jalan juga. Dari relasi dengan komunitas ini, mereka bisa merekomendasikan Bounce Street ke komunitas-komunitas lainnya,” ujar Ardiyansyah.

Untuk menikmati arena bermain trampoline di Bounce Street, pengunjung perlu membayar Rp 110.000 per jam (weekday) dan Rp 135.000 per jam (weekend). Sedangkan untuk Bounce School, tidak ada perbedaan harga perjamnya, namun murid perlu membayar biaya registrasi sebesar Rp 500.000. Harga termasuk sudah termasuk seragam, kaus kaki yang dirancang khusus untuk bermain trampoline, dan kupon-kupon diskon.

Ke depannya, duo kakak beradik ini mempertimbangkan untuk mengembangkan Bounce Street menjadi franchise. Namun, mereka ingin melihat perkembang Bounce Street terlebih dahulu untuk beberapa tahun kedepan. “Kami ingin lihat dulu Bounce Street pertama kali. Konsumen Indonesia kan suka sekali hal-hal yang baru, saat ini bermain trampoline menjadi trend tapi kedepannya mungkin bisa berubah. Kami inginnya trampoline tidak hanya jadi trend semata, tapi bisa jadi olah raga favorit masyarakat. Bermain trampoline itu 60% lebih membakar kalori dibandingkan jogging, dapat menghilangkan stress, dan juga melatih keseimbangan,” ujar Neeraj. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Arief Budiman, Catat Rekor Margin EBITDA di Pertamina

Tahun 2014 bisa dibilang menjadi tahun yang berkesan bagi Arief Budiman. Ia dipercaya sebagai Direktur Keuangan Pertamina, setelah sebelumnya menjabat...

Close