Home » Headline » Pasar Uang dan Okkie Monterie yang Tak Terpisahkan

Pasar Uang dan Okkie Monterie yang Tak Terpisahkan

“Pasar uang memang sudah menjadi darah saya,” begitulah kira-kira Okkie Adhika Tirta Monterie menggambarkan dunia pasar uang yang telah lama digelutinya.

Okkie AT Monterie, Bank Internasional Indonesia, pasar uang, investasi, wisdom, ierson Heldring & Pierson NV, Bank of America NT&SA, Chase Manhattan,  valuta asing

Okkie AT Monterie

Nama Okkie Monterie memang telah dikenal lama sebagai salah satu pemain berpengalaman di pasar uang. Kegiatan jual-beli valuta asing telah ia lakukan sejak pertama kali menapaki kariernya di sektor perbankan. Baik perbankan Indonesia maupun perbankan asing pun pernah ia cicipi. Pria kelahiran Cibadak, Sukabumi 29 September 1944 ini pernah 10 tahun berkarier di Belanda, yaitu di Pierson Heldring & Pierson NV dan Bank of America NT&SA. Masa berkarier di Belanda itulah yang membuat dirinya punya nama di pasar uang.

Dari Belanda, Okkie kembali ke Tanah Air tahun 1983 dan bergabung dengan Chase Manhattan Bank sebagai Vice President Treasury. Setelah lima tahun di Chase, tahun 1989 Okkie hijrah ke Bank Internasional Indonesia dan langsung menjabat Direktur Treasury. Di awal kehadirannya, transaksi valas BII dapat mencapai US$ 70 juta per hari. Maka, pada Agustus 1991, posisinya sudah naik menjadi Wapresdir. Setelah krisis 1997-1999, ia masih menjabat Penasihat Senior di BII hingga 1999.

Saat ini Okkie sudah tidak aktif lagi melakukan trading baik di pasar uang maupun berinvestasi di instrumen lainnya. Namun setiap hari ada saja pihak perbankan asing yang mengirimkan laporan perkembangan pasar kepadanya. Tak jarang mereka juga menelepon Okkie untuk sekadar minta saran atau pendapat. Bagi bungsu dari empat bersaudara ini, semua itu dianggapnya sebagai sarana berbagi pengetahuan dan memanfaatkan kemampuan berpikirnya untuk membantu orang lain, serta membuat otaknya tetap bekerja dan terasah meski telah pensiun.

Kini ayah dua anak dan kakek lima cucu ini lebih banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga. Ditemui di rumahnya yang asri, sarat dengan barang seni dan kerajinan yang memiliki nilai sejarah dan spiritual di kawasan Jeruk Purut, Okkie berbicara tentang pengalaman dan pandangannya mengenai pasar keuangan. Berikut kutipan wawancara wartawan SWA, Kristiana Anissa dan Tika Widyastuti dengan Okkie Monterie.

Apakah Bapak masih aktif melakukan trading di pasar uang atau berinvestasi di instrumen keuangan?

Aktif sih sudah tidak, karena saya memang sudah pensiun. Yang saya kerjakan sekarang adalah menjadi konsultan. Saya membantu teman saya jika mereka perlu bantuan dalam hal manajemen perusahaan atau menjalankan proyeknya. Jika mereka butuh bantuan dalam hal pendanaan, ya saya bantu carikan untuk mereka, karena saya masih banyak kenalan.

Tapi saya tidak mendirikan konsultan yang profesional. Mungkin bisa dibilang saya ini Okkie AT Monterie, Bank Internasional Indonesia, pasar uang, investasi, wisdom, ierson Heldring & Pierson NV, Bank of America NT&SA, Chase Manhattan,  valuta asingmatchmaker saja, saya mempertemukan pengusaha dengan pengusaha agar terjadi kerja sama. Mengenai fee, saya juga tidak meminta sejumlah tertentu, kalau mereka mau membagi ya silakan, kalau tidak ya saya tidak minta. Selama saya bisa, akan saya bantu. Karena saya ini kan diberi otak oleh Tuhan, sayang kalau tidak digunakan. Lagi pula jika di rumah saja dan tidak digunakan, lama-lama beku. Saya hanya aktif di Yayasan Kehati, di mana saya duduk di komisi investasi. Sejak awal saya diminta oleh Prof. Emil Salim untuk membantu di Yayasan Kehati. Di yayasan ini, fungsi saya sebagai penasihat di bidang investasi.

Jadi sudah tidak mengelola sendiri?

Tidak. Tapi saya masih selalu mengikuti perkembangan pasar dan memberikan pendapat jika ada yang tanya pendapat saya. Lagi pula pasar uang itu memang darah saya. Pihak perbankan dan sekuritas terutama dari luar negeri juga banyak yang masih mengirimkan laporan mereka ke saya setiap harinya. Karena banyak bank asing yang bermain di bidang private banking, dan mereka tentu harus berikan advice pada nasabahnya. Kadang mereka bingung, “Kalau market seperti ini bagaimana ya?“ Entah kebetulan atau tidak, umumnya yang saya katakan itu terjadi. Maka mereka pun sering bertanya lagi pada saya.

Misalnya dua tahun yang lalu emas masih di bawah US$ 1.000 per troy ounce, yakni berkisar US$ 800-900 per troy ounce. Saya katakan, belilah emas, karena harga emas akan menjadi US$ 2.000 per troy ounce. Nah itu terjadi, meskipun akhirnya harganya turun lagi ke kisaran US$ 1.500 per troy ounce, dan sekarang berada di level US$ 1.600. Saran saya, jika harga emas turun belilah emas, karena harga emas bakal mencapai US$ 3.000 per troy ounce.

Penggunaan emas ini banyak sekali. Lihat ponsel Anda, setiap cip itu ada emasnya. Coba bayangkan, berapa juta emas dibutuhkan, dan orang tidak memikirkan itu. Alasan kedua, emas itu adalah save heaven.

Jadi apa pandangan Bapak mengenai pasar modal Indonesia ke depan?

Menurut saya, suatu saat pasti akan meledak. Mungkin masih bisa naik sedikit, tapi akan meledak karena sudah bubble. Sudah over the top. Sekarang saya tanya, dasarnya IHSG bisa naik apa? Apakah karena dia mengikuti pasar di negara lain seperti Amerika Serikat? Bursa AS memang naik, tapi jangan lupa, sejak krisis 2008 hingga sekarang, persentase kenaikan bursa Indonesia sudah lebih tinggi dari persentase kenaikan bursa AS. Saya tidak yakin bursa Indonesia akan naik lagi cukup banyak.

Apakah Bapak memiliki investasi sendiri?

Tidak ada. Saya memang punya sawah di Banten, karena saya juga menyadari pentingnya ketahanan pangan seperti yang pernah saya sampaikan pada pemerintah sekitar 8 tahun yang lalu. Tapi saya ini bukan orang yang terlalu melihat pada kekayaan. Kekayaan itu sementara saja dinikmati di dunia ini, tidak mungkin dibawa mati. Memangnya apa yang ingin kita beli? Rockefeller? Kita bisa saja kaya sekarang dan besoknya jatuh miskin. Bagi saya, asal keluarga saya nyaman saja. Saya punya rumah ini juga karena saya bekerja keras, dan dulu tahun 1998 saya membelinya dengan harga murah.

Menurut Bapak pegerakan rupiah terhadap US$ saat ini bagaimana?

Saya bilang rupiah is over value, karena bank sentral mencoba menekan inflasi dengan menekan rupiah, semua bank dikontrol. Jadi, rezim devisa bebas itu tidak ada, karena semua dikontrol. Kalau toh ada orang yang mau beli banyak dolar, banknya ditegur. Jadi apa yang akan terjadi? Mau tidak mau black market akan berjalan. Beberapa bulan lalu itu sudah terjadi. Kurs rupiah terhadap dolar AS resminya Rp 9.700, di luar sudah diperdagangkan dengan harga Rp 10 ribu.

Apa perbedaan yang paling signifikan pada pasar uang ataupun pasar modal dulu dan sekarang?

Kalau pasar modal Indonesia, dulu tidak ada apa-apanya, sedangkan pasar uang sekarang ini mati, karena bank-bank dikontrol. Bank mana yang dapat line ke bank asing di luar negeri sekarang ini? Tidak banyak. Jadi sulit. Ada BCA yang besar, tapi dia bukan pemain. Pemain di pasar itu sedikit sekali.

Jauh lebih sedikit dibanding dulu?

Jauh sekali. Sekitar tahun 1995 atau 1996 saya pernah masukkan US$ 2 miliar ke pasar internasional, dan dengan itu saja pasar tidak bergerak, hanya bergerak sedikit sekali. Lawannya banyak, ada Soros dan sebagainya. Begitu saya beli balik dengan jumlah dobel, barulah pasar bergerak. Saat itu saya masih di BII. Jadi, bayangkan berapa besar pasar uang itu. Sekitar 20 tahun sebelumnya, saat saya mencetak nama di Eropa dengan bermain dalam konsorsium di Eropa, itu kecil sekali dan sudah mampu menggerakkan pasar.

Bagaimana Bapak bisa dikenal di lingkungan pasar uang global?

Saya dikirim oleh Ficorinvest tahun 1974 ke Belanda untuk belajar tentang pasar uang selama dua tahun. Tapi saat saya di sana, Ficorinvest di Indonesia bubar, pemegang saham asingnya melepas kepemilikan dan diambil alih oleh Bank Indonesia. Jadi saya ditawari kembali atau tetap di Belanda. Kalau kembali ya balik ke Ficorinvest. Akhirnya saya pilih untuk tetap di Belanda. Dan, itu tidak mudah, karena tadiya ekspatriat di Belanda, tiba-tiba jadi lokal. Penghasilan tidak cukup, pinjam terus. Tapi tidak masalah. Saya pikir saya di sana untuk belajar, nanti pasti akan berguna. Dan, itu terjadi.

Setelah saya belajar semua tentang pasar uang, dan sudah banyak kenalan dari perbankan asing, saya ajak mereka membentuk konsorsium. Jadi saya mengajak Morgan Guarantee, Citibank, dan ABN mengumpulkan dana untuk bermain di pasar uang. Terkumpullah US$ 400 juta. Pada waktu itu satu transaksi hanya butuh US$ 500 ribu, masih kecil. Akhirnya saya mulai main US$ 1 juta, US$ 10 juta, dan seterusnya. Kami bicara di telepon, satu berada di Brussel, satu di London, satu di Paris, dan saya di Amsterdam. Saya katakan, “Menurut saya dolar akan naik, kalau tidak ya kita bawa naik.” Semua setuju. Kami mulai jual pagi jam 9 hingga pasar uang jatuh, lalu sorenya sekitar pukul 2.30 kami mulai ambil keuntungan. Kami beli lagi hingga harga naik lagi. Di situlah saya dapat nama di luar negeri, bahkan sampai ke Singapura.

Tapi dulu antara pasar uang AS dan Eropa masih pakai faks dan telepon, tidak seperti sekarang yang sudah sangat cepat dan tinggal melihat ke layar. Dulu ada disparitas atau selisih kurs.

Apakah Bapak sempat mengambil kesempatan pada saat kerisi moneter tahun 1997-1998?

Untuk pribadi tidak, saya hanya utamakan nasabah saya di BII. Tidak ada sedikit pun saya ambil momentum untuk pribadi. Mungkin bodoh, tapi saya percaya rezeki itu akan datang sendiri.

Apa pesan Bapak untuk orang-orang yang saat ini masih aktif trading baik di pasar modal maupun di pasar uang?

Kejujuran harus diutamakan. Dalam bermain valas harus ada batas, sedangkan gambling tidak ada batas. Kalau untung semua orang mau, tapi orang tidak mau rugi. Toh, ada kalanya kami harus mau ambil kerugian, karena jika dibiarkan kerugian itu akan semakin dalam. Harus ada stop lost dan harus disiplin.

Jadi itu yang selalu Bapak terapkan?

Iya. Jika saya sudah ada untung, 50% dari keuntungan itu saya simpan, tidak di-trading-kan lagi, karena suatu saat mungkin akan dibutuhkan untuk rescue. Sedangkan yang 50% sisanya, saya trading-kan. Jadi, yang 50% boleh hilang, tapi saya tetap punya keuntungan yang 50% lagi. Jadi jangan sampai jika dapat keuntungan, lalu semua atau 100% dari keuntungan itu di-trading-kan kembali.

Apakah Bapak pernah rugi?

Tentu pernah. Saat dikeluarkannya Jimmy Carter Bonds tahun 1980-an, saya melakukan short (posisi jual) dolar AS. Padahal teman saya dari Citibank AS sudah memperingatkan agar saya jangan melakukan short dolar. Saat itu setiap kali short dolar biasanya saya untung, karena pasarnya memang begitu. Jadi, sebelum akhir pekan saya short US$ 2 juta, saya ingat saya ambil posisi jual di 185 dan berharap harga turun.

Tiba-tiba keluarlah Jimmy Carter dengan Carter Bonds-nya. Dolar langsung naik dan pada hari Senin setelah akhir pekan, dolar sudah di posisi 250. Memang akhirnya turun lagi, tapi teman saya itu hebat. Dia katakan pada saya, “Saya tahu kamu short dolar, saya sudah beli dolar buat kamu, ini ada US$ 5 juta, bukukan saja. Dengan US$ 5 juta kamu bisa keluar dari kerugian kamu.” Itulah teman saya.

 

Maka di tahun 1998, yang saya perbuat sama seperti apa yang teman saya perbuat untuk saya. Saya cover kerugian orang. Kalau tidak begitu, saya juga akan sulit menagih kepada para nasabah itu nantinya. Itu karena saya belajar dari teman saya. Dalam kedudukan saya, saya membantu orang. Saya juga dibantu.

Saat ini mata uang asing apa yang menurut Bapak masih cukup aman untuk trading?

Menurut saya dolar Australia (AU$). Orang bisa main opsi double currency antara AU$ dan US$. Misalnya sekarang ada di level 103, kami bisa pasang jual di 105, jika target tersebut kena, tinggal eksekusi. Tapi jika tidak, ya kami dapat bunga. Saya pikir lebih aman, setidaknya kami masih bisa dapat 4% bunga.

Apakah Bapak masih aktif mengelola dana orang lain?

Pernah ada yang tanyakan soal itu, tapi saya bilang saya mau tidur nyenyak. Kalau dana itu milik saya sendiri tentu terserah saya, tidak masalah jika rugi. Tapi mengelola dana orang kan tidak bisa begitu.

 

Kristiana Anissa

Riset : Sarah Ratna

 

Do & Don’t dalam hal Trading di Pasar Uang

Do:

  • > Harus jujur.
  • > Harus disiplin, memiliki target stop lost.
  • > Gunakan 50% saja dari keuntungan untuk trading kembali.
  • > Pilih mata uang yang risikonya kecil.
  • > Pilih waktu yang tepat untuk ambil posisi.

Dont:

  • > Jangan menggunakan seluruh keuntungan yang diperoleh untuk trading kembali.
  • > Hindari bermain asal-asalan seperti gambling (tanpa perhitungan).
  • > Jangan memasang spread yang terlalu lebar.

SHARE SOCIAL MEDIA

LEAVE A REPLY


five × 6 =