Home » Headline » Anaziaz Zikir, Inspektur Operasional Pesawat Uni Emirat Arab

Anaziaz Zikir, Inspektur Operasional Pesawat Uni Emirat Arab

Share :

    Sejak 2007, Anaziaz Zikir yang biasa dipanggil Azzy mulai menapaki karier di United Arab Emirates General Civil Aviation Authority (UAE GCAA). Ini adalah Departemen Perhubungan Udara Uni Emirat Arab (UEA) yang berkantor di Dubai. Kewenangan instansi ini meliputi pengawasan organisasi penerbangan, pusat perawatan pesawat dan bandar udara untuk tujuh negara bagian UEA, yakni Abudhabi, Dubai, Sharjah, RasAlKhaimah, UmAlQuwain, Ajman dan Fujairah. Di lembaga tersebut, Azzy menduduki posisi strategis sebagai Senior Flight Operations Inspector for Air Charter and Special Operations.

    Memang tidak mudah bagi orang Indonesia untuk bekerja di perusahaan tersebut. Hal ini dirasakan Azzy. Dia harus menghasilkan pekerjaan dua kali lipat untuk mendapatkan pengakuan atau posisi yang setingkat dengan orang/warga negara asli. Namun, bagi Bachelor of Science in Aeronautics FEATI dari University Manila, Filipina (1985-89) ini, hal itu bukan masalah, justru menjadi tantangan yang harus dihadapi.

    Anaziaz Zikir

    Anaziaz Zikir, Senior Flight Operations Inspector for Air Charter and Special Operations UAE GCAA

    Alhasil, saat ini pria kelahiran Bandung 45 tahun ini telah diberi kepercayaan untuk mengawasi seluruh aktivitas operasional pesawat yang berhubungan dengan aviation operational software di seluruh penerbangan di UEA dan dipercaya menjadi Principal Flight Operations Inspector untuk sedikitnya delapan penerbangan. “Hal ini cukup berat, mengingat dunia penerbangan tidak kenal libur, dan selalu ada saja permohonan mendadak yang butuh pengambilan keputusan yang memiliki risiko tanggung jawab cukup tinggi,” kata Azzy.

    Perlu diketahui, di UEA ada sekitar 28 operator udara, mulai dari operator besar Emirates, Etihad, dan beberapa puluh lainnya yang merupakan corporate charter. Namun, corporate charter ini cukup unik , mengingat pesawat mereka tidak hanya pesawat kecil tetapi ada juga Boeing B787, Boeing 747 sampai Citation jet. Saat ini, UAE GCAA memiliki tujuh Flight Operations Inspector, semuanya warganegara UEA, kecuali Azzy.

    Karier peraih gelar M.Sc. Management Engineering FEATI dari University Manila Filipina (1989-90) ini mulai melejit saat bekerja di IPTN/ PTDI pada 1991-2004, mulai dari insinyur hingga akhirnya menjadi penerbang uji. Namun saat krisis moneter, ia memutuskan mencari pekerjaan sejenis di luar negeri. Mulailah Azzy bekerja sebagai charter pilot di UEA. Dan pada 2005, Azzy yang pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Penerbang TNI AU, Yogyakarta (1991-95), menjadi Manajer Keselamatan dan Manajer Pelatihan di salah satu perusahaan charter yang selalu berinteraksi dengan UAE GCAA.

    Di tahun 2006 ada seorang Flight Operations Inspector di UEA yang mantan Direktur Keselamatan Penerbangan Malaysia, yaitu Kapten Zainal, yang pernah mengenyam pendidikan di TNI AU tahun 70- an, dan Zainal dekat dengan para senior Azzy di TNI AU. Dari situlah Zainal merekomendasikan Azzy ke Direktur Jenderal UAE GCAA sehingga Azzy dapat bekerja di lembaga tersebut sampai sekarang.

    Azzy diterima bergabung dengan UAE GCAA karena pengalamanya selama di IPTN dan latar belakang pendidikan tes pilotnya sehingga mendapatkan pengalaman terbang dengan berbagai macam pesawat dari single engine, Mig 29 sampai Airbus. Pengetahuan tentang pengoperasian beberapa jenis pesawat ini menjadi kunci dan pengalaman yang cukup luas, khususnya di dunia penerbangan.

    Menurut peraih gelar M.Sc. Aerospace Design and Manufacturing, Bristol University Inggris (1999-2000) ini, dengan bekerja di instansi ini, dia mendapatkan wawasan luas. Mulai dari pengalaman mengintervieu pejabat (identik dengan fit and proper test) seperti direktur utama, direktur operasioal dan chief pilot.

    Kemudian, pengalaman mengontrol sistem operasional serta perangkat dan SDM yang mereka miliki untuk dievaluasi berdasarkan persyaratan regulasi ataupun standar praktis internasional, ”Ini merupakan ilmu dan wawasan yang tidak mudah didapat,” tutur suami Eva Budiati dan ayah Azyati Patricia ini.

    Saat ditanya berapa gaji dan tunjangan yang ia nikmati, ia menjawab, “Itu confidential. Namun, Anda bisa refer ke website beberapa penerbangan, standar gaji penerbang kurang-lebih sama dengan rata-rata standard captain airlines.” Yang pasti, seluruh pegawai, di mana pun mereka berada, mutlak mendapatkan asuransi jiwa/kecelakaan karena siapa pun yang membutuhkan jasa darurat dapat ke rumah sakit tanpa dipungut biaya. Selain itu, untuk level pilot/manajer/ inspektor mendapat jaminan kesehatan, sekolah anak (sampai dengan empat anak) dan faslitas rumah.(*)

    Dede Suryadi dan Darandono

    Riset: Dian Solihati

     

    Share :

      SHARE SOCIAL MEDIA

      RELATED POSTS

      Sorry, no related post.

      LEAVE A REPLY


      7 × = sixty three