Denia A. Samad

Denia A. Samad

“Sejak awal, pasar yang saya bidik memang menengah-bawah karena perempuan umumnya sering gonta-ganti sepatu mengikuti tren,” tutur lajang kelahiran Sintang, Kalimantan Barat, 6 Juni 1982 ini. Harga yang dipatok Rp 175-250 ribu/pasang, dengan omset 800-1.000 pasang per bulan. Ia juga melayani pembelian lewat situs webnya, www.deniaponti.com. “Saya juga mengirim ke berbagai butik di Bandung, Banjarmasin, Balikpapan, Pontianak, Medan, Yogyakarta,” kata Denia yang kini memiliki 20-an karyawan dan tengah berancang-ancang membuka gerai di Bali dan Bandung. Selain itu, di Pontianak, ia pun berencana terjun di agrobisnis.

Menjadi pengusaha bukanlah pelabuhan akhir lulusan Akuntansi Universitas Tanjung Pura ini. Ia justru berambisi terjun sebagai politisi dan menjadi bupati di daerahnya. “Buat saya, bekal ilmu saja tidak cukup, tapi secara finansial juga harus kuat. Karena itu, saya membangun bisnis,” ungkap Denia yang sempat mengikuti pertukaran pelajar di Kapal Pemuda ASEAN-Jepang (2003). Selain berkiprah di sejumlah organisasi, mulai dari Hipmi, KNPI, sampai LPPP, ia juga tengah menempuh S-2 Komunikasi Politik Universitas Indonesia. “Dari kecil sampai SMA, saya tinggal di Sintang, 7 jam perjalanan dari Pontianak,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara ini. “Melihat keterbatasan di daerah itulah yang membuat saya tergerak untuk suatu hari menjadi pemimpin di sana,” ungkap pehobi menyanyi, menari dan joging yang sempat menjadi presenter acara Iptek Talk di MetroTV dan program PLN di TVRI ini.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag