Â
 Tidak hanya perusahaan yang terkena dampak reformasi 1998. Eva Grace Sangkey, sarjana ilmu sosial dan ilmu politik dari Universitas Gadjah Mada turut merasakan pahitnya kondisi perekonomiaan Indonesia saat itu. Ia terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya sebagai public relations officer di Sekolah Pelita Harapan, karena keadaan yang tidak memungkinkan. Namun menurutnya, itu merupakan sebuah titik balik yang membuatnya dapat mencapai posisi seperti sekarang, yaitu  Marketing Specialist di Dell Global B.V. “Dari situ saya berpikir, lebih baik saya mengambil pendidikan S2 terlebih dahulu,†ujarnya.
 Belum sampai Eva memulai perkuliahan S2-nya di jurusan Communication Management Universitas Indonesia, Kelompok Kompas Gramedia memanggilnya untuk menjadi Account Executive di majalah Info Komputer. Perkenalannya dengan dunia IT pun dimulai. “Sejak itu saya menjadi paham mengenai IT,†ungkap kelahiran 23 Oktober 1969 ini. Akhirnya Eva tidak menyia-nyiakan kesempatan dan berkarier sambil berkuliah. Selepas dari Group Kompas Gramedia, Eva pun bekerja di Acer, Alcatel, sampai akhirnya di Dell.
Â
Meskipun tidak berbekal ilmu IT, kariernya dalam dunia tersebut tidak tanggung-tanggung. Sejumlah penghargaan telah diraihnya. Di antaranya, sebagai Best Employee di tahun pertamanya bekerja di Acer, lalu High-Potential Employee Program PT Acer Indonesia di tahun keduanya. Eva juga pernah menjadi public speaker di Public Relations and Communication Conference di Indonesia, Singapura dan Kuala Lumpur. Obsesi ke depan, Eva ingin sekali memiliki PR Agency sendiri.
Â
Sebagai Marketing Specialist di Dell Indonesia, saat ini Eva sedang disibukkan dengan promosi mengenai kerjasama Intel-Dell. Sejumlah pekerjaan pun sedang menuntut konsentrasinya sebagai seorang wanita karir. Ketika ditanya mengenai dukungan orang terdekat yang paling berpengaruh dalam karirnya, Eva menjawab bahwa kedua orang tuanya yang sangat berpengaruh dalam kariernya tersebut. “Ayah saya sangat menekankan kesetaraan gender dan ibu saya menekankan kemandirian,†tuturnya. Rupanya hal itulah yang membuat Eva menjadi perempuan modern yang maju. Di akhir wawancara, Eva menekankan bahwa semua yang dialami dalam kehidupan pasti ada hikmahnya. “Kalau saya tidak berhenti dari pekerjaan saya di tahun 1998, belum tentu saya menjadi seperti sekarang,†tandasnya.