Home » Headline » Haryati Lawidjaja: Semakin Besar Challenge, Semakin Banyak Pengalaman

Haryati Lawidjaja: Semakin Besar Challenge, Semakin Banyak Pengalaman

Dunia teknologi informasi (TI) yang rumit dan terus berkembang dengan cepat menuntut setiap pelaku bisnis yang bergerak di dalamnya untuk terus bekerja lebih dinamis. Tidak peduli itu laki-laki atau perempuan, tua atau muda, bahkan mereka yang mengerti TI atau tidak, semua harus menyesuaikan diri dengan situasi saat ini, di mana TI menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dengan keyakinan yang dimilikinya bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, Haryati Widjaja yakin dan terus melangkah ke depan untuk terus bergelut dalam bidang TI. Kelahiran 7 Juni 1978 ini saat ini menjabat sebagai Services and Software Manager Nokia Indonesia.

Salah satu hal yang membuat Haryati begitu serius untuk menekuni karier di dunia TI adalah keinginannya untuk membuktikan bahwa perempuan juga dapat berkiprah sama baiknya dengan laki-laki di dunia tersebut. ”Kan banyak yang bilang, perempuan itu kuper, nggak tahu gadget. Saya ingin membuktikan bahwa itu salah,” Haryati menjelaskan.

Perkenalannya dengan dunia TI dimulai secara tidak sengaja ketika ia bekerja di Arthur Andersen Business Consulting. Pada saat Haryati bekerja di Arthur Andersen, ia banyak menangani klien-kliennya yang sebagian besar adalah perusahaan telekomunikasi dan mining. “Bagi saya ketika itu, dunia telekomunikasi begitu menarik dan penuh tantangan. Kalau di konsultan, meskipun kliennya beranekaragam, tetapi prosesnya gitu-gitu saja,” ujarnya.

Bagai gayung bersambut, saat Haryati ingin mengetahui dunia telekomunikasi dan TI lebih dalam lagi, tawaran datang dari Exelcom di 2002 atau tiga tahun setelah ia bekerja di Arthur Andersen. Tawaran tersebut tidak disia-siakan oleh anak pertama dari empat bersaudara ini. Ia pun menerima tawaran itu.

Saat di Exelcom ia bekerja di bagian finance dan product development. Sejak itulah perempuan bertubuh mungil ini mulai serius bekerja sebagai profesional di perusahaan telekomunikasi. Setelah tiga tahun di Exelcom, ia pun pindah ke Hutchison 3. Pertama kali masuk ke perusahaan tersebut Haryati menangani bagian value added service. ”Baru pada 2008, saya masuk ke Nokia, sampai sekarang,” ia menerangkan.

Meskipun tidak berbekal pendidikan formal di bidang IT, Haryati dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. ”Bidang IT itu passion saya. Banyak hal-hal baru di dalamnya,” ucapnya. Bekerja dengan passion merupakan salah satu kunci keberhasilan Haryati dalam kariernya. Selain itu Haryati juga mengungkapkan satu lagi kunci sukses kariernya adalah tidak mudah putus asa.

Mengenyam pendidikan di jurusan Akuntansi Universitas Parahyangan Bandung membuktikan bahwa Haryati dapat memulai semuanya dari nol. ”Pertama kali lulus kuliah saya bekerja sebagai financial auditor di Arthur Andersen itu,” imbuhnya. Semua yang dilakukannya saat ini adalah hasil dari belajar secara otodidak dari pengalaman-pengalaman yang diperolehnya.

Meskipun terlihat sempurna dalam kariernya, Haryati mengaku bahwa ia belum terlalu baik untuk mengelola waktinya. ”Waktu kerja saya cukup panjang, dan saya merasa belum dapat mengatur waktu dengan baik,” tandasnya. Walau begitu, ia berusaha sebisa mungkin menyisihkan waktu luang untuk hal-hal yang digemarinya seperti berolahraga dan travelling.

Dengan tanggungjawabnya yang cukup berat, Haryati memahami bahwa itulah tantangan yang harus dihadapinya. Seperti diketahui, bisnis solusi dari Nokia tergolong baru, sehingga masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan Haryati. Terlebih lagi market Nokia di Indonesia berkontribusi cukup besar bagi revenue global. ”Dalam karier, ngga ada yang ngga mungkin. Tantangan hanya akan menambah pengalaman,” ia manegaskan.

Ketika ditanya mengenai siapa yang paling berpengaruh dan menjadi inspirasi dalam hidupnya, perempuan lajang ini menjawab kedua orang tuanya. ”Apalagi ayah saya itu orangnya ngga gampang putus asa,” ujar perempuan yang lahir dan besar di Bandung ini.

Sebagai seorang perempuan, Haryati pun tentunya tidak terlepas dari yang namanya penampilan. Sebagai seorang profesional muda, ia cukup seksama dalam masalah penampilan. ”Penampilan itu wujud dari diri kita Apabila kita tidak memperhatikan diri kita, tentunya kita akan dinilai orang tidak mampu memperhatikan hal-hal yang lain. Yang terpenting adalah tahu bagaimana menempatkan diri,” papar penyuka jogging ini.

Ke depan, Haryati menyatakan, ia ingin memberikan kontribusi lebih bagi perusahaan serta diberikan tanggungjawab yang juga lebih dibandingkan saat ini. Selain itu, obsesinya yang lain adalah mengunjungi negara-negara di belahan dunia ini. ”Saya ingin berkunjung ke semua negara. Untuk Indonesia sendiri kebetulan sebagian besar sudah saya kunjungi karena ketika saya bertugas di kantor konsultan yang mengharuskan saya berkeliling Indonesia,” tuturnya diiringi derai tawa.

Be Sociable, Share!
Tags: ,
Category: Headline, Profile  |  Comment (RSS)  |  Trackback

LEAVE A REPLY


+ 1 = five