Belasan tahun terjun dalam dunia capital market, tidak membuat Hazrina Ratna Dewi menjadi bosan. Justru ia tertarik dengan bidang tersebut karena tantangannya datang setiap hari. “Selepas S2, reksa dana merupakan hal yang baru. Saat itulah sikap risk taker saya muncul,†ujar lulusan MBA University of Denver, Colorado, USA ini.
“Tugas saya adalah mengurus semua administrasi yang berhubungan dengan investasi, seperti me-manage portofolio equity, merencanakan strategi investasi, serta mengalokasikan aset-aset yang ada,†ia mengungkapkan. Kariernya dimulai sebagai analis di PT Pentasena Arthasentosa pada Maret 1994. dua tahun bekerja di perusahaan tersebut, Hazrina memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di bidang finance. Selulus kuliah, ia kembali bekerja di perusahaan yang sama namun dengan jabatan yang berbeda, yaitu sebagai portfolio manager di Asset Allocation Division. Selama beberapa kali pindah perusahaan, akhirnya ia pun memutuskan untuk berkarier di PT First State Investments Indonesia hingga saat ini dan menjabat sebagai Head of Investments.
Selama menghadapi para investor, sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia ini belum pernah mengalami hal yang betul-betul buruk. “Investor marah sudah biasa ya, tetapi begitu diberi pengertian, mereka pun dapat memahaminya.†ucap Hazrina. Diakuinya, hal terpenting dalam berhadapan dengan investor adalah kepercayaan. Ia berusaha untuk memperlakukan uang investor seperti uangnya sendiri. Hazrina juga selalu menomorsatukan kepentingan para investornya.
Perempuan yang selalu ingin tahu dan mencoba hal baru ini menganggap semua orang yang pernah ditemuinya sebagai inspirasi serta pemotivasi hidupnya. “Bertemu dengan siapa pun selalu saja ada hal yang baru,†ia menegaskan. Ia pun mengatakan bahwa dirinya selalu menyenangi orang-orang yang punya misi. Itu sebabnya di setiap perusahaan tempatnya bekerja, ia selalu menemukan orang-orang yang dijadikan sebagai panutan. Menurutnya, tidak ada manusia yang sempurna. Itulah sebabnya, dia selalu belajar dari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh dirinya maupun orang lain.
Hazrina pernah sekali mengalami tantangan terberat dalam kariernya yang sampai saat ini tidak bisa dilupakan. “Selama 16 tahun berkarir di capital market, tantangan paling berat adalah saat krisis 98. Ketika itu market turun gila-gilaan,†tuturnya mengenang. Namun dari hal tersebut ia menyadari bahwa fundamental company merupakan hal terpenting dalam sebuah perusahaan. Target Hazrina dalam kariernya saat ini adalah menunjukkan performa yang baik di kantor, memperbesar aset perusahaan, serta membuat First State menjadi lima besar perusahaan asset management. “Setidaknya dalam tiga tahun ke depan hal itu mungkin diwujudkan,†katanya menutup pembicaraan.
