Ratu Sosis Beromset Rp 36 Miliar

Meski sudah disesaki pemain, Amalia Nafitri tetap nekat terjun ke bisnis sosis. Kegigihannya itu dilandasi keyakinan bahwa prospek bisnis makanan olahan kian menjanjikan. “Apalagi saya dan teman-teman resah dengan tren makanan cepat saji penuh pengawet, pewarna dan bahan kimia berbahaya,” ujar ibu empat anak itu menuturkan latar belakangnya menggeluti bisnis sosis.

Amalia Nafitri

Amalia Nafitri, Presdir PT Sumber Pangan Jaya produsen sosis merek Bulaf

Maka, bulan Juli 2009 Amalia dan empat temannya berkongsi mendirikan PT Sumber Pangan Jaya (SPJ) yang memproduksi aneka makanan olahan merek Bulaf, yang dijamin sehat dan bergizi. Selama tiga bulan pertama produksi Bulaf dilakukan di pabrik orang lain dengan sistem maklun. Sementara itu, Amalia dan timnya bergerilya memasarkan produk yang bermarkas di Jl. Cilandak Tengah Raya 35, Jakarta Selatan.

Tidak dinyana, respons pasar cukup bagus. Lalu, uang hasil penjualan tersebut diinvestasikan kembali plus investasi Rp 1 miliar dari para pemilik untuk sewa lahan, beli mesin kualitas nomor dua dan membangun pabrik sendiri pada Oktober 2009 di kawasan Jababeka, Cikarang.

Laju penjualan sosis Bulaf makin kencang. Tahun 2010, Amalia mengaku kebanjiran pembeli. Celakanya, mesin mulai aus, sehingga banyak diprotes konsumen karena produksi terlambat. Selanjutnya, dibeli dua mesin baru: mesin pengisi sosis (filler) dan pengasap (smoke). Untuk pembiayaan ini, SPJ mendapat pinjaman kredit sebuah bank syariah senilai Rp 1,5 miliar.

Produk Bulaf berhasil mencuri perhatian konsumen lantaran memiliki keunikan. Keunggulannya adalah dari sisi kualitas produk dan jurus pemasaran. Dari mutu produk misalnya, Bulaf tidak memakai monosodium glutamat, bahan pengawet, atau bahan kimia lainnya. Lagi pula, varian produknya ada 20 macam, baik dari sisi rasa maupun ukuran.

Bulaf memproduksi sosis, nugat dan bakso dari bahan ayam, sapi dan kambing, yang bisa dikonsumsi balita tiga tahun hingga manula 60 tahun. Ada sosis rasa keju, sosis kambing, sosis ayam, sosis sapi, sosis berpadu brokoli, wortel, jagung ataupun sosis original. Berat tiap kemasan 200-300 gram. “Produk andalan kami bernama beef bockwurst, menempati peringkat penjualan pertama. Peringkat kedua ditempati sosis rasa keju,” ungkap Amalia yang didapuk koleganya sebagai Presdir SPJ.

Amalia NafitriBagaimana dengan jurus pemasaran Bulaf? Amalia mengaku, pihaknya memosisikan Bulaf sebagai produk premium yang menyasar kelas menengah-atas. Harga produk dibanderol Rp 27.500-30.000 per kemasan. Pertimbangannya, kelas atas paham kualitas bahan makanan serta sadar gaya hidup sehat, sehingga rela membayar harga lebih mahal. Jumlah konsumen yang berkarakter seperti itu justru meningkat akhir-akhir ini, terutama di kota besar. Berdasarkan data yang disodorkan Amalia, pertumbuhan pasar makanan olahan berkisar 10%-20% tiap tahun. Tahun 2012 jumlah produk olahan berbahan daging yang beredar di pasaran Indonesia mencapai 23 ribu ton. Jadi, dia makin mantap mem-branding-kan Bulaf sebagai sosis sehat.

Untuk jalur distribusi, Bulaf tidak hanya mengandalkan pasar modern, tetapi juga sistem keagenan. Untuk jaringan ritel modern, produk ini dapat dibeli di Kem Chicks, Total Buah Segar, BelMart se-Jabodetabek. Kontribusi penjualan pasar modern masih kecil, hanya 10%.

Sementara itu, sistem keagenan dimulai tahun 2009 dengan 40 agen, tahun 2010 bertambah menjadi 300 agen dan kini membengkak menjadi 600 agen. Dengan promosi dari mulut ke mulut itu, kini jumlah agen tersebar di beberapa kota di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan.

Syarat untuk menjadi agen adalah mampu menjual produk Bulaf sebanyak Rp 3 juta/bulan. Jika gagal, si agen harus mengulang lagi programnya. Jika berhasil, SPJ akan memberikan margin 12%-15% untuk agen berdasarkan prestasi. Bahkan, agen yang menonjol penjualannya berhak liburan gratis ke Singapura.

Walaupun tidak selalu mulus, diakui Amalia, selama tiga tahun perjalanan bisnis Bulaf cukup memuaskan. “Dalam waktu dua tahun saja bisnis kami sudah break even point,” wanita kelahiran Balikpapan 14 November 1964 ini, mengklaim dengan tersenyum semringah. Bagaimana tidak, tahun 2012 Bulaf mampu memasarkan lebih dari 30 ton daging olahan tiap bulan. Omsetnya, ia mengaku, selama tahun 2012 ini rata-rata sekitar Rp 3 miliar per bulan.

Bisnis sosis memang tidak hanya rasanya yang lezat, tetapi juga keuntungannya. Meski demikian, Amalia dkk. tidak lekas puas. Tahun 2013 SPJ sudah siap dengan agenda bisnis baru dan rencana ekspansi. “Tahun 2013 kami akan meluncurkan merek baru untuk produk kelas menengah-bawah dan ekspansi ke Australia. Tahun 2014 akan menjajal segmen pasar becek untuk makanan olahan,” ucap mantan karyawan bagian teknologi informasi Bank Niaga itu.

Rezeki sosis dan produk Bulaf lainnya pun dinikmati para agen. “Saya bergabung dengan keagenan Bulaf sejak tahun 2009. Tidak susah menjualnya, karena produknya lezat dan sehat. Tiap bulan saya mampu menjual 1.000 kemasan atau 100-150 kg,” ujar Rico Heriani, konsultan keuangan, pemilik butik sekaligus agen Bulaf. Hal senada diungkapkan oleh Ronny Tanumihardja. “Hampir tiga tahun ini menjadi agen Bulaf, penjualan saya naik 5%-10% per tahun. Margin lumayan, yakni 15%, dan menguntungkan karena dibantu beberapa subagen,” Ronny menambahkan.

Eva Martha Rahayu & Sekar Mangalandum

Riset: Siti Sumariyati

by Eva Martha Rahayu on 2nd Jan 13
Posted in Headline, Profile

View or Post Comments.