Column Trends

Akan Adakah Komitmenmu?

Oleh Editor
Akan Adakah Komitmenmu?

“Kecuali komitmen telah terucap, yang ada hanya janji dan harapan, namun tanpa rencana.” (Peter Drucker).

Ilustrasi (State Dept./D. Thompson)

Sejauh ini, suasana politik makin semarak, gegara waktu yang berlari mendekat ke pemilu. Di tengah keramaian politik ini, saya menyimpan rasa keingintahuan yang besar terhadap suatu hal. Keingintahuan di tengah keprihatinan mengenai suatu hal mendasar. Keprihatinan menyangkut sumber dari segala sumber masalah di negeri ini.

Sumber dari segala sumber masalah negara ini adalah budaya korup.

“Korupsi adalah musuh terbesar kemajuan kita. Ini adalah kanker hati dalam banyak permasalahan di dunia,” kata David Cameron, mantan Perdana Menteri Inggris.

Korupsi, antara lain, merampas hak-hak orang miskin untuk meraih kehidupan lebih baik. Korupsi membuat kesenjangan sosial makin lebar. Ia memancing kecemburuan sosial yang siap meledak bagai bom waktu. Ia mematikan semangat kerja. Ia melunturkan pemikiran-pemikiran kreatif dan inovatif.

Sulit menyangkal pandangan umum, bahwa belakangan ini, dengan terungkapnya korupsi dalam skala gila-gilaan, perilaku lancung ini adalah gejala gunung es. Satu-dua terungkap, tapi sejatinya ia telah meruyak ke segenap jalur dan level organisasi kenegaraan.

“Tiada suatu ilmu pengetahuan pun yang kebal terhadap kekuatan politik dan korupsi,” kata Jacob Bronowski, seorang filsuf Polandia-Inggris. Aparat penegak hukum yang seharusnya mengelola hukum, di pelbagai fungsi hukum, yang seharusnya menjadi daerah imun korupsi, ternyata para petingginya juga korup.

Senada dengan pernyataan Bronowski, sulit untuk menyangkal pernyataan ini:

“Korupsi adalah satu-satunya kutukan terbesar masyarakat saat ini,” kata Olusegun Obasanjo, mantan Presiden Nigeria. Ibarat kutukan, seakan tak mungkin orang melepaskan diri dari godaan perilaku busuk ini.

Apalagi kalau melihat, bagaimana ulah para penguasa-politisi kita yang pada kekanak-kanakan (seperti murid Taman Kanak-kanak, kata Gus Dur). Ucapan yang sebagian besar orang melihatnya sebagai ledekan Gus Dur ternyata memang suatu masalah mentalitas yang kuat mengakar.

Perilaku kekanak-kanakan yang kurang-lebih: Lebih menonjolkan kekuasaannya daripada kompetensinya. Suka iri. Mau memiliki semua yang ada, termasuk milik orang lain. Suka pamer. Suka memaksakan kehendak. Tak bertanggung jawab. Tak tahu malu.

Coba kita lihat juga, di saat-saat ini, ketika para politisi bergiat mempersiapkan diri untuk berlaga di pemilu tahun depan. Perilaku mereka makin mendekati pengamatan Gus Dur. Pada berebut. Pada beradu “caper” untuk meraih simpati massa. Berlari, ke sana kemari. Meninggalkan tanggung jawab kerja untuk bergiat lebih di partai.

“Untuk menghadapi aneka macam kriminalitas, kita harus menuntaskan masalah-masalah korupsi. Bila itu tak kita lakukan, musnah harapan kita,” Andres Manuel Lopez Obrador, Presiden Meksiko. Itu adalah konsekuensi dari pemikiran dasar bahwa korupsi adalah sumber dari segala sumber masalah negeri ini.

Hal ini juga mengingat, Indonesia telah menetapkan tujuan Indonesia Emas tahun 2045, yaitu Indonesia akan menjadi satu dari lima negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Suatu cita-cita mulia, yang hanya mungkin dicapai bila sumber dasar segala kejahatan, korupsi, sukses diberantas.

Dan, seperti yang saya kemukakan di awal tulisan ini, keingintahuan saya yang membuncah adalah: Adakah komitmen yang tegas dan transparan ‒suatu tekad bulat, suatu perjuangan hidup-mati untuk memberantas korupsi, hingga keakar-akarnya‒ yang akan disuarakan capres-capres ini dalam kampanyenya? Adakah?

Pongki Pamungkas

www.swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved