Ini Alasan Kenapa Sri Mulyani Marah dengan JPMorgan | SWA.co.id

Ini Alasan Kenapa Sri Mulyani Marah dengan JPMorgan

Menteri Keuangan Sri Mulyani rupanya sangat kecewa dengan hasil riset yang dilakukan JP Morgan Chase Bank NA. Saking kecewanya, mantan bos World Bank itu bahkan memutuskan kontrak kerja sama dengan perusahan asal negeri Paman Sam tersebut sebagai bank persepsi dan penjual utama (primary dealer) obligasi Indonesia per 1 Januari 2017.

Usut punya usut ternyata Sri Mulyani tidak berkenan dengan keputusan JP Morgan menurunkan peringkat Indonesia dari overweight menjadi underweight atau dua peringkat. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, Suahasil Nazara, menjelaskan hasil riset JP Morgan yang dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional karena memangkas rekomendasi aset obligasi Indonesia.

Terlebih dalam riset tersebut, Suhasil Mengatakan, level Indonesia berada dibawah Brasil, yang notabane-nya keadaan politiknya sedang tidak kondusif, dengan adanya pemakzulan Presidennyamelalui proses politik. “Ini kan aneh, padahal kalau melihat kondisi ekonomi Brasil, apalagi politiknya lebih kacau balau dibanding Indonesia. Presiden Brasil itu dimakzulkan dengan proses politik, tapi rekomendasi mereka oleh JP Morgan neutral. Ini tidak masuk akal,” tegas Suahasil.

Tak berlebihan ketika akhirnya Sri Mulayani, menurut dia merasa kecewa. Apalagi ketika meminta penjelasa, Suhasil, mengklaim Kementerian Keuangan mendapatkan penjelasan yang tidak tegas. “Fitch saja melihat potensi yang baik buat Indonesia,” ujar dia membandingkan dengan hasil ratingnya.

Selain karena rating Indonesia yang turun, ia mengungkapkan Kementerian Keuangan juga tidak terima JP Morgan menganggap Indonesia hanya sebagai negara sasaran spekulasi. Pemikiran tersebut dianggap sudah bertolakbelakang dengan pemerintah. Padahal selama ini, lembaga keuangan tersebut bekerja sama dengan pemerintah Indonesia menjadi bank persepsi dan penjual obligasi negara. “Ada bahasa-bahasa sekedar taktik di dalam bahasa mereka, Indonesia jadi sasaran spekulasi. Indonesia mau dijadikan tempat spekulasi, kalau ada spekulan pemerintah yang nanggung, mereka tidak mau nanggung. Ini kan namanya maindset kita tidak sama,” paparnya.

Berikut penyataan lengkap kekecewaan Sri Mulyani ketika ditanyai tentang pemutusan hubungan kerja sama dengan JP Morgan

Kami melakukan evaluasi, pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan terutama, terus menerus akan melakukan hubungan kerja sama dengan seluruh stake holder bersarkan prinsip profesionalisme, akuntabilitas, bertanggung jawab, termasuk terhadap kualitas keseluruhan hasil kerjanya. Terutama yang namanya kerjasama itu harus saling menguntungkan. Pemerintah Indonesia melakukan kerjasama karena kami anggap ini akan menguntungkan, untuk kami dan juga dengan partner-nya disana.

Kami menghormati seluruh produk produk yang dilakukan oleh siapaun saja lembaga riset, dari sisi tingkat akurasi, kredibilitas, metodologi, penilaiannya. Semakin besar namanya, mereka memiliki tanggung jawab lebih besar dari sisi kualitas dan kemampuan untuk menciptakan confident, karena ini buat pemerintah penting, kami perlu mendengar apa pandangan masyarakat luar dan lembaga-lembaga yang punya kredibilitas tinggi, karena kami tahu kami juga perlu melakukan perbaikan di dalam, seperti kami lakukan perbaikan reformasi karena kami melihat dan mendeteksi penerimaan negara perlu diperbaiki. Kami melakukan itu, kalau kami lihat APBN sebagai sumber confident problem maka kami akan lakukan koreksi, karena kami mendengar.

Tapi kami tidak segan melakukan koreksi ini karena kami percaya bahwa hubungan tadi yang sifatnya profesional, kredibel, akuntable, dan saling  menguntungkan dan bermamfaat itu sangat penting. Jangan lupa kalau di dalam ekonomi selalu di drive faktor-faktor fundamental dan psikologis, dan faktor psikologis itu sangat penting bagi seluruh lembaga-lembaga yang menjadi partner pemerintah untuk juga ikut memiliki tanggung jawab yang sama pentingnya.

20170103_114523-800x600

Kami dalam hal tidak menutup diri dari, dalam hal ini kami membuka diri atas kritik dan positif assesment karena itu penting untuk memperbaiki diri. Namun juga lembaga-lembaga apalagi yang punya nama baesar punya tanggung jawab luar biasa penting menciptakan psikologi positif, bukan malah melakukan apa yang disebut misleading.

Setelah kami lakukan evaluasi, kami ingin stake holder mendapat message yang sama, mari kita bekerjasama secara positif, pemerintah akan melakukan perbaikan di dalam struktur kebijakan fundamental, dan kami harap perbaikan itu juga di recognize dan report.

Kalau masih kurang, kami perbaiki, namun dalam hal ini partner kami, yang bekerja sama dengan Pemerintah, apalagi mendapat kerjasama yang menempatkan mereka memiliki privilege penting, mereka juga punya tanggung jawab yang penting, karena kerjasama ini harus memberikan dampak yang positif. Jadi saya berharap ini akan memberikan suatu signal, negara ini diurus dengan baik, benar sungguh-sungguh. Kami menjaga republik ini dengan profesional. Tidak berarti segala sesuatu sempurna, tapi kami akan memperbaiki secara profesional dan akuntabel.

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Sri Mulyani : Peran Bursa Menjembatani Perekonomian Indonesia

Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani ikut menghadiri pembukaan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. Dalam sambutannya, ia mengatakan pentingnya...

Close