Tahun 2025 Hero Ingin Hadir di Seluruh Kabupaten

Perusahaan ritel ini tahun lalu tidak masuk ke dalam daftar SWA 100. Namun, tahun ini posisinya langsung naik menjadi peringkat ke-39. Fakta ini cukup menarik disamping fakta lain bahwa nilai total shareholder revenue (TSR)-nya dalam lima tahun naik hampir 600%. Pencapaian Hero ini tentu tidak terlepas dengan kinerja perusahaan. Bagaimana perkembangan bisnis Hero dan seperti apa strategi yang dilakukan pelopor perusahaan ritel ini? Arief Istanto, Direktur PT Hero Supermarket Tbk., memaparkannya kepada Rif’atul Mahmudah:

Hero-Arief

Bagaimana perkembangan bisnis Hero sejak bekerja sama dengan Giant? Bagaimana perkembangan bisnisnya?

Sedikit diluruskan, sebetulnya Hero itu mempunyai merek-merek di bawah Hero. Ada Hero, Giant, Starmart, Guardian. Semua itu di bawah Hero, Hero semacam holding company-nya. Hero membawahi sekian banyak merek. Semua merek ini ada otoritas masing-masing.

Jadi saat ini ada berapa banyak merek?

Sekarang ada lima banner, nanti tambah IKEA jadi enam.

Segmentasinya seperti apa?

Giant Ekstra dan Ekspress targetnya ke middle-low. Kebijakan kami, kami berikan harga yang murah. Kalau Ekstra dan Ekspress beda konsep. Ekstra ini yang besar dengan lahan 2-3 hektare, kalau Ekspress ini seperti supermarket, sekitar 1.200 meter persegi. Jadi Ekstra lebih cocok ke orang yang belanja bulanan. Kalau Ekspress untuk yang mingguan. Kalau harian, ada Starmart, convenience store. Kalau Guardian khusus untuk health, beauty, pharmacy. Kalau IKEA itu untuk furnitur.

Saat ini ada berapa jumlah toko keseluruhan?

Tahun 2012 untuk kelima merek ada 605, kemudian 2013 jadi 682. Jadi ekspansi kami memang digencarkan, banyak buka toko di 2012 ke 2013.

Hero-Arief2

Bagaimana Hero membuat para investor percaya kepada Hero?

Bagaimana performance keuangan, bagaimana jumlah outlet-nya, servis ke customer-nya dan sebagainya.

Kalau ternyata kami nanti punya permodalan sudah lebih kuat, mungkin pada saatnya kami akan bagi deviden kepada para investor. Saat ini belum karena untuk ekspansi. Karena saat ini market cap kami cuma Rp 11 triliun.

Apa saja upaya yang dilakukan?

Kalau marketing, pasti ada masalah produknya. Kami sesuaikan produk kami sesuai dengan middle ke bawah. Kedua, harganya kami usahakan paling murah dibanding yang lain karena kami ingin volumenya besar. Kemudian kualitasnya kami sesuaikan dengan harganya, value for money. Selain itu ketiga, kami perluas jaringan kami sampai Sumatera dan Kalimantan. Mimpinya di 2025 sudah ada di seluruh kota/kabupaten. Sekarang masih banyak di kota-kota besar.

Dari segi back office, kami siapkan juga manpower-nya. Kami punya training center untuk kelas managerial. Untuk store manager, tiap tahun ada empat batch, masing-masing 50 orang. Itu untuk level store manager, belum di tingkat bawah-bawahnya. Tiap section ada.

Terus terang beberapa tahun ini Hero tidak bagi deviden karena keuntungan kami untuk ekspansi bisnis. Sampai sekarang pemegang saham masih mengerti.

Dari segi profit kami, lonjakannya tidak terlalu besar, karena untuk ekspansi, masih ada cost yang harus dikeluarkan. Toko yang baru buka, enam bulan pertama belum untung. Untuk itu, profit-nya belum secepat pertumbuhan jaringannya. Toko-toko baru ini bisa menyumbang revenue. Tetapi untuk menyumbang laba, belum. Makanya, pertumbuhan revenue dan jaringan cepat, tetapi untuk pertumbuhan profit-nya belum begitu cepat 

Bagaimana upaya peningkatan modal yang dilakukan Hero?

Ada beberapa yang dibutuhkan perusahaan untuk berkembang antaranya dengan modal. Modal ini kami dapat dari profit dan tahun 2013, ada rights issue, semacam penjualan saham lagi hingga hampir Rp 2,9 triliun. Hasil rights issue ini untuk ekspansi outlet, sistem, pembinaan manpower, dsb.

Jadi 2013 lalu fokus ke ekspansi ya?

Ya. Outlet, sistem, pembinaan SDM termasuk rekrutmen dan sebagainya.

Bagaimana Hero melakukan efisiensi terkait supply chain?

Terus terang kalau di Hero, yang paling penting, kami harus bisa mengontrol stok, kemudian dari segi distribusi. Jangan sampai stok di sebuah toko kelebihan atau kekurangan. Kami ada distribution center. Di Jakarta sudah lama ada. Di Surabaya dan Medan ada. Kedua kami juga memikirkan untuk melihat lokal buyer. Misal di Medan, kami beli buah-buahan dari lokal. Kami melihat penjual yang paling bagus di daerah, kami cari penjual dengan produk kelas satu.

Bagaimana dengan praktek GCG?

Kalau GCG, Hero ini perusahaan terbuka, mau tidak mau apa yang dipersyaratkan oleh OJK mesti dilakukan. Publikasi di idx.co.id  juga ada.

Upaya menarik konsumen yang dilakukan Hero seperti apa?

Kami ingin menghadirkan pengalaman berbelanja untuk konsumen kami. Untuk itu kami buat semua bersih, kemudian ketika belanja, ada anaknya ada untuk mainan, bapaknya bisa ngopi. Kemudian kami gabung dengan penyedia makanan yang punya nama, misal di Sentul ada Sushi Tei, karena kalau mau datang ke Giant atau Hero bisa makan yang berkelas juga. Itu untuk mengundang orang datang dan buat kami menjadi keuntungan tersendiri karena sewa. Mereka mau karena sudah jelas jumlah orang yang datang ke toko kami. Intinya bagaimana menciptakan traffic yang tinggi di tiap toko. Kami ada ukuran basket size, jadi setiap pengunjung belanja, berapa banyak jumlah belanjanya. Saat ini di Ekspress, di Rp 50 ribu-an. Kalau Ekstra bisa Rp 80 ribu-an. Jadi kami cari sebanyak mungkin orang datang. Macam-macam strateginya.

Bagaimana Hero menghadapi persaingan di bisnis ritel ini?

Terus terang untuk market size-nya untuk retail besar sekali. Jauh lebih besar dibanding market-nya otomatif, karena makanan itu basic needs. Selama penduduknya naik, penghasilan masyarakat juga naik, pasti konsumsi makanannya tinggi sekali.

Giant Ekstra setiap hari sekitar 1.000-2.000 orang, bergantung pada lokasi. Kalau hari libur bisa 3.000-4.000. Dengan traffic seperti itu, tidak perlu promosi lagi. Jadi di Giant ada konsep untuk mainan anak, untuk ngopi, dsb.

Bagaimana kinerja perusahaan?

Kira-kira 2012 ke 2013 meningkat sekitar 13%.

Rencana pengembangan bisnis Hero seperti apa?

Kami punya rencana untuk ekspansi jumlah outlet terus menerus. Untuk tahun ini IKEA, sedang bangun di Alam Sutera dengan luas 5 hektare. Opening-nya antara Oktober atau November.

Target?

Tahun kemarin sekitar 80-an toko. Sampai Mei ini sudah 11 toko yang besar-besar. Jadi lima bulan pertama sudah segitu, untuk bulan-bulan berikutnya ditargetkan bisa lancar.

Targetnya ke depan kami mau jadi leading retail food di Indonesia. Dari sisi revenue, kami masih kalah dibanding Carrefour dan Hypermart. Tetapi masih sekitar tiga besar. Kalau di supermarket, kami yang terbesar tetapi kalau hypermarket kami masih kalah dengan mereka. Kalau supermarket kan berhadapan dengan Superindo, Ramayana, dsb. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)