Tony Wenas: APRIL adalah Sustainable Forest Management

PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) merupakan salah satu produsen kertas dan pulp terbesar di Tanah Air, bahkan di tingkat global. RAPP adalah anak usaha dari Asia Pacific Resources International Holdings Limited (APRIL).

Memiliki 5.500 karyawan di pabrik dan lebih dari 20 ribu orang di perkebunan, perusahaan yang dikembangkan konglomerat Sukanto Tanoto pada 1994 di Pangkalan Kerinci, Riau ini memiliki total kapasitas 850 ribu ton kertas per tahun. Tahun ini, kapasitas produksinya akan ditambah 250 ribu ton, sehingga menjadi 1,1 juta ton per tahun.

Tony Wenas, Presdir PT Riau Asia Pulp & Paper Tony Wenas, Presdir PT Riau Asia Pulp & Paper

Produk kertasnya merek PaperOne, sebanyak 75% dipasok ke pasar internasional. PaperOne telah menjangkau 75 negara, seperti Amerika Serikat, China, Eropa, Timur Tengah, India, Afrika dsb. Sementara sisanya 25% untuk memenuhi pasar dalam negeri. Secara keseluruhan, PaperOne menguasai 10% pulp dunia, dan untuk kertas nomor dua di Asia.

Seperti apa strategi yang diterapkan pihak RAPP dalam menyiasati persaingan di bisnis kertas yang semakin ketat? Berikut petikan wawancara wartawan SWA Aulia Dhetira dengan Tony Wenas, Presdir RAPP.

 

Bisa diceritakan sedikit sejarah Grup APRIL?

APRIL (Asia Pacific Resources International Holdings Limited) adalah perusahaan yang dimiliki keluarga Tanoto, yang merupakan induk usaha PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). RAPP berdiri tahun 1994, yang fokusnya di kertas dan pulp. RAPP. Ketika itu, hanya ada 200 kepala keluarga di Pangakalan Kerinci. Sekarang Pangkalan Kerinci menjadi ibu kota kabupaten dengan jumlah penduduk mencapai 150 ribu orang.

Dalam waktu 22 tahun keberadaan kami bisa menjadi pendorong utama di Kabupaten Pelalawan dan Riau. Karyawan di pabrik total 5.500, di perkebunann ada sekitar 20 ribu, dan semua basisnya di Riau. Maka, namanya Riau Andalan Pulp and Paper. Kontribusi kami pada PDRB Provinsi Riau nonmigas sebesar 6,9%. Jadi kami memang dominan. Multiplayer effect untuk penciptaan tenaga kerja 90 ribu orang di seluruh Riau.

Sejauh ini, bagaimana penjualan dan jangkauan pasar PaperOne?

Penjualan PaperOne 25% di dalam negeri, 75% ekspor. Jadi PaperOne ini worldwide product and brand, yang sudah menjangkau pasar di 75 negara. Ekspornya sampai ke Amerika Serikat, China, Eropa, Timur Tengah, India, Afrika, dlsb.

Bagaimana posisi PaperOne sendiri, baik di Indonesia maupun dunia?

Pemain kertas dan pulp di Indonesia hanya ada tiga pemain besar kalau dari segi produksi, yaitu APRIL, Sinarmas, dan Tanjungenim Lestari, yang lainnya hanya pabrik kertas. Kami nomor 9 dunia untuk pulp, dan nomor 6 dunia untuk kertas.

Seperti apa persaingannya di dunia kertas dan pulp?

Di dunia pesaing kami banyak. Salah satunya, Brasil. Produsen kertas dan pulp paling besar itu di AS, Jepang, Chile, Finlandia, yang di atas kami. Brasil memiliki iklim yang sama dan mereka memiliki hutan yang lebih banyak daripada kita, luas areanya juga. Brasil merupakan negara keempat terluas di dunia dengan penduduk terbesar kelima di dunia. Kita terbalik, penduduk terbesar dunia keempat dan negara kelima terluas di dunia. Kami tidak menyatakan mereka pesaing utama, tetapi mereka punya kondisi yang sama. Mereka bisa memberikan produk dengan kualitas yang sama, karena kertas dan pulp butuh bahan baku hutan atau tanaman.

Hutan tanaman itu sistemnya ditanam baru dipanen lalu bisa diterbarukan (renewable). Masa tumbuh pohon di Indonesia itu sekitar 4,5 tahun. Kalau di AS 20 tahun dan Eropa 40 tahun karena mereka memiliki empat musim. Pohon hanya tumbuh 2-3 bulan dalam setahun. Di sini sinar matahari sepanjang tahun, begitu pula di Brasil.

Strategi seperti apa yang dilakukan di global ataupun Indonesia?

Permintaan global makin advanced ke depan, dan mereka butuh produk yang berkelanjutan. Kami memiliki program keberlanjutan yang cukup bagus, dari awal berdiri kami memiliki no burn policy. Jadi tidak ada pembakaran hutan. Juga, ada sustainable forest management policy, menyeimbangkan antara produksi dan konservasi. Kami memiliki program one for one: setiap satu hektare yang kami tanami dan ambil pohonnya, akan kami ganti dengan melakukan konservasi satu hektare juga. Kami sudah tidak membuka hutan alam jadi sendiri, sehingga bisa 100% plantation. Dengan program ini konsumen jadi lebih tertarik untuk membeli produk kami.

Kalau di luar negri, dengan adanya berbagai kebijakan ini jadi mempermudah penjualan, karena mereka memperhatikan dari hulu ke hilirnya dan kualitas. PaperOne hanya menjual kualitas premium. Kami juga sedang membuat high grade digital paper. Kualitas kertas PaperOne sekarang nano technology prodigy yang bisa menghemat 18% tinta. Lebih efisien, harga satu lembar kertas paling Rp 100, dan Rp 50 ribu kalau satu rim dengan 500 lembar kertas di dalamnya. Tinta toner satu botol kira-kira Rp 150 ribu dipakai 1 rim habis. Jadi kalau print menghabiskan kira-kira Rp 300 per lembar. Atau, lebih mahal tinta.

Dengan PaperOne high grade digital paper bisa menghemat 18%. Kertas ini akan mulai diproduksi September tahun ini, dan bisa menghemat hingga 30% penggunaan tinta. Jadi walaupun harga PaperOne lebih mahal, bisa mengefisienkan penggunaan kertas itu sendiri.

Sejak kapan melakukan berbagai efisiensi tersebut?

Kami memiliki R&D yang luar biasa, sangat lengkap dari hulu sampai ke hilir. Jadi bisa mencoba berbagai inovasi dari segi customer demand seperti apa, efisiensi, dsb.

Sekarang dunia kan sudah menginginkan hasil printing yang sangat advance. Makanya, kami membuat high grade digital paper yang pertama di Indonesia. Sekarang semua sudah era digital, kalau mau print biasanya hasil fotonya tidak terlalu bagus dicetak. Dengan high grade ini hasil fotonya bisa lebih bagus dibanding foto di kamera.

Seberapa besar efisiensi ini mampu menaikkan penjualan PaperOne?

Kalau penjualan PaperOne sendiri sebenarnya hasil dari semua kombinasi: keberlanjutan kami yang harus lebih baik lagi, lebih terbarukan, inovasi produk, dll. Produk kertas kami hanya berukuran 60 gram, 70 gram, 80 gram, 100 gram dengan high quality yang terus dipertahankan, dengan high digital paper lagi, dan dibuat lebih high grade lagi.

Apa saja keunggulan yang dimiliki APRIL, selain menjaga kualitas?Tonny Wenas

Kalau dibilang keunggulan APRIL, kami adalah sustainable forest management sejak tahun 2004. Keberlanjutan itu kan satu perjalanan panjang, mulai dari awal berdiri dengan no burn policy, lalu konservasi, program sertifikasi, dll. Ini makin lama makin maju. Terakhir, tahun lalu kami umumkan komitmen one for one. Ini semua satu perjalanan yang kami akan unggulkan lagi, dan produk kami juga high quality.

Sekarang kan orang sudah mulai beralih ke digital. Apa saja yang dilakukan PaperOne untuk memenangi persaingan. Misalnya, pricing atau kreativitas di bidang promosi?

Memang orang banyak beralih dari print ke digital. Tetapi kami percaya, masih ada konsumen printed, masih banyak yang baca koran. Walaupun punya iPad, kalau menulis masih di note. Jadi masih ada kebiasaan yang sudah nyamannya di situ. Orang menulis dari zaman batu tulis sampai tahun 1950-an masih ada. Dulu tahun 1950 di sekolah-sekolah masih menggunakan batu tulis bukan berbentuk batu, tapi belum kertas.

Selain itu, jumlah penduduk dunia, makin lama makin banyak. Tahun 2050 diperkirakan akan mencapai 9 miliar orang. Tahun 2050, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 350 juta orang. Semua orang new comer ini akan butuh kertas, karena mereka akan memulai dengan kertas dan pensil.

Tampaknya Anda optimistis digital belum bisa menggantikan kertas?

Sebagian fungsi kertas sudah tergantikan, tapi tetap akan ada yang menggunakan kertas. Secara total mungkin masih ada pertumbuhan di situ, meskipun hanya  2%-4%.

Kami juga sekarang sedang membangun paper mill yang ketiga di Pangkalan Kerinci. Ini bisa menambah kapasitas produksi 250 ribu ton per tahun untuk yang high grade digital paper tadi. Kami percaya dan yakin akan ada pertumbuhan. Kalau tidak, kami tidak akan menambah kapasitas produksi.

PaperOne sudah terkenal, tetapi bagaimana strateginya ke pasar melalui iklan?

Kami tetap ikut promosi konvensional, tetapi produk kami tidak seperti produk ritel lainnya. Karena harganya lebih mahal, satu rim Rp 50 ribu. Jadi komunikasi pemasaran kami lebih ke direct contact dengan buyer atau distributor customer gathering, bukan pasang iklan di billboard di jalanan. Jadi, komunikasinya lebih mengedepankan bahwa produk ini terbarukan dan memperhatikan lingkungan dengan sertifikasi yang ada. Kami yang pertama mendapatkan sertifikat PEFC (Programme for the Endorsement of Forest Certification) tahun 2014. Ini salah satu lembaga sertifikasi terbesar di dunia. Di Indonesia ada sertifikat SVLK (Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu) untuk kayu, sertifkat PHPL ( Pengelolaan Hutan Produksi Lestari) untuk produk hutan produksi lestari, ada sertifikasi lembaga Ekolabel Indonesia.

Ini berkitan dengan keberlanjutan dan terbarukan tadi: this product is from sustainability manage forest and control sources.

Apakah dengan semua sertifikat itu dibutuhkan untuk persaingan global?

Tentu diperlukan. Di satu sisi kami mau produk berkelanjutan, karena kami mau hadir di Indonesia selama mungkin. Maka, bagaimana caranya harus bisa mempertahankan ekosistem di sekitar kita untuk bisa menunjang keberlanjutan bisnis kami.

Bagaimana menyikapi persaingan di dalam negeri sendiri?

Kami tetap menghadirkan kertas yang premium, setelah menggunakan PaperOne konsumen akan tahu bedanya dari produk yang lain. Meskipun pesaing harganya lebih murah, mereka boros dalam menggunakan tinta, ada yang kertasnya menempel, dll. Kualitas kertas kami bagus, karena quality control kami sangat hati-hati. Jadi kami tetap menjaga kualitas. Di sini juga produknya hanya ada satu, yaitu PaperOne. Paling yang beda ukuran dan beratnya saja. Tapi yang paling laku memang A4, baik di dunia maupun Indonesia.

Distribusinya sendiri seperti apa?

Kami sudah mencapai Sabang sampai Merauke. Di dunia pun sudah mencapai 75 negara, bahkan sudah mau mencapai 85 negara. Kami memiliki cara distribusi sendiri dan tidak bisa disclose. Nanti yang lain ngikutin lagi, hahaha ...

Berapa persen pertumbuhan bisnisnya per tahun?

Kami tidak bisa disclose juga, tumbuhnya berapa persen. Tetapi secara keseluruhan, dari Kementerian Perindustrian, produk kertas dan pulp di Indonesia itu tumbuh berkisar 3%-4%. Itu perkiraan dari Kementerian Perindustrian secara nasional.

Apakah PaperOne menjadi market leader?

Di Indonesia hanya ada dua perusahaan: Sinarmas APP dan April (RAPP). April dalam satu kompleks itu paling besar di dunia waktu pertama kali dibangun tahun 1994. Sekarang, yang bisa mengalahkan kami hanya Brasil, karena sekarang mereka yang paling besar.

Kalau di Indonesia, ya kami. Kalau yang lain ada beberapa perusahaan dalam satu grup. Kalau kami satu kompleks itu hanya pabrik. Kami paling besar, yang luasnya 1.750 ha. Di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan Riau, ketiga pabrik PaperOne ada di sana, semua di satu lokasi.

Sekarang sedang dibangun pabrik kertas ketiga dan akan mengembangkan lebih ke hilir lagi. Rencananya, pulp kami mau dibuat juga untuk rayon. Rayon ini bahan buat baju. Itu kan dari pulp juga. Ada baju yang dari katun, poliester, dan rayon dari serat kayu. Basisnya sektor kehutanan HTI kami, tapi diolah lebih hilir lagi.

Untuk pangsa pasar, di dunia kami menguasai 10% untuk pulp, sedangkan untuk paper kami nomor dua di Asia. Di Indonesia, Sinarmas lebih besar. Tapi produk kami kualitasnya the best.

Berapa omset 2015?

Total kapasitas kami 850 ribu ton kertas per tahun. Tahun ini akan tambah 250 ribu lagi. Jadi akan ada sekitar 1,1 juta ton kertas per tahun. Kami juga tidak hanya menjual size, tetapi juga menjual rol. Omsetnya hitung saja dari situ. Soalnya, kami nggak bisa ngasih angka. September ini rencanaya sudah mulai produksi komersial.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)