Leadership Forecast Survey 2003 | SWA.co.id

Leadership Forecast Survey 2003

Terdapat 116 organisasi yang berpartisipasi secara global, 16 di antaranya dari Indonesia. Responden di tiap perusahaan terbagi dua: leader dan associate. Yang termasuk leader bukan hanya pemimpin perusahaan, tetapi orang yang memimpin tim, seperti manajer atau penyelia (supervisor). Tiap perusahaan diwakili 20 leader, 20 associate atau staf, dan seorang responden dari bagian SDM. Di Indonesia total responden leader 426 orang, sementara associate 431 orang.

Beberapa temuan menarik dari survei yang dilakukan sejak Februari 2003 ini adalah: sewaktu leader Indonesia ditanya apa yang menjadi prioritas bisnisnya, urutan pertama dari lima jawaban tertinggi adalah talent (76%). Yang dimaksud talenta adalah leverage dan improving talent. Temuan ini menarik karena pada survei sebelumnya talenta hanya berada di urutan ke-10 prioritas bisnis (23%). Adapun secara global, talenta menduduki urutan ke-4 (68%), dan pada survei sebelumnya menduduki urutan ke-8 (44%). Di lingkup global, urutan pertama adalah cost (72%). Di Indonesia, cost di urutan ke-5 (47%). Selengkapnya, lihat Tabel 1.

Jika dibanding survei sebelumnya (2001), prioritas bisnis para leader masih seputar product oriented seperti kualitas, pelanggan dan efisiensi. Jawaban ini muncul, kemungkinan karena kondisi ekonomi yang belum stabil. Kenapa talenta tahun ini tiba-tiba mencuat? “Ada dua kemungkinan,” ujar Rainier Turangan, penanggung jawab survei DDI. Pertama, di Indonesia  talenta belum berkembang dengan baik. Kedua,  sebaliknya secara global, talenta sudah cukup berkembang.

Implikasi kondisi ini, lanjutnya, belakangan banyak perusahaan di Indonesia mendirikan pusat pelatihan internal sebagai salah satu cara membangun talenta.

Hal menarik lainnya, seperti tertera pada Tabel 2, ketika ditanya apa yang menjadi penghambat kesuksesan mereka, ternyata baik global maupun di Indonesia jawaban tertinggi yang diberikan sama: concrete. Lalu, micro manager concrete adalah tindakan di mana leader cenderung melakukan hal yang bersifat operasional, bukan yang visioner. Dan manajer mikro yang melakukan hal-hal kecil yang seharusnya cukup dilakukan staf.

Tentang perilaku dalam pekerjaan, lima pendapat dengan persentase tertinggi adalah: mereka merasa loyal terhadap perusahaan (91%), puas terhadap pekerjaan (67%), percaya diri pada penerapan standar etika dalam organisasi (57%), lebih memperhatikan etika atasan (66%), dan puas terhadap tawaran pengembangan kepemimpinan (30%).

Jawaban tersebut ternyata memiliki tren yang sama dengan survei sebelumnya: ada gap antara loyalitas terhadap organisasi dan kepuasan kerja. Namun, ada satu jawaban yang menurut Rainier positif: leader cukup perhatian pada standar etika di organisasinya.

Kepada para associate, sebagaimana tercantum pada Tabel 3, ketika ditanyakan apa alasan meninggalkan pekerjaan, jawabannya: kurangnya promosi atau kemajuan (39%), ketidakpuasan atas kompensasi (25%), kurangnya kesempatan belajar dan mengembangkan pengetahuan (23%), kurang tantangan (20%), dan keinginan pindah ke bidang lain (19%). Alasan tadi, disebutkan Rainier merupakan hal yang berbau talenta. Inilah mungkin yang bisa menjadi alasan kenapa leader menjawab talenta sebagai prioritas bisnisnya. Sayangnya, survei tak mengajukan pertanyaan sejenis pada leader.

Beranjak dari temuan survei, kiranya jelas bahwa organisasi atau perusahaan di Indonesia harus segera bebenah dalam pengembangan karyawannya.

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Mata-mata Bisnis nan Cerdas

Aplikasi business intelligence kini semakin canggih dan mampu membantu perusahaan penggunanya, dari memangkas biaya hingga membuka peluang bisnis baru. Inilah...

Close