Universitas dan Jurusan Favorit di Mata Pemberi Kerja

Universitas unggulan tetap menjadi incaran sejumlah perusahaan untuk menemukan calon karyawan yang dibutuhkan. Itulah fakta yang terungkap dari hasil survei yang dilakukan Tim Riset SWA. Survei yang melibatkan 35 responden (perusahaan), baik BUMN, perusahaan swasta maupun departemen/lembaga pemerintah ini juga mengungkap beberapa jurusan pada universitas tertentu masih diincar.

Universitas Indonesia (UI), misalnya, lulusannya yang paling banyak diminati/diserap para pemberi kerja adalah dari Jurusan Ekonomi. Lalu, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jurusan Teknik Mesin, Teknik Industri dan Teknik Elektro. Adapun Universitas Gadjah Mada (UGM), Jurusan Teknik Elektro. Sementara itu, dari universitas swasta, misalnya Universitas Trisakti, yang banyak dicari adalah lulusan Jurusan Teknik; Universitas Bina Nusantara (Binus), Jurusan Teknik Informatika; Universitas Gunadarma, Jurusan Teknik; dan Universitas Atma Jaya, Jurusan Psikologi.

Secara keseluruhan dari semua universitas unggulan tersebut, untuk lulusan S-1, yang paling dibutuhkan adalah yang berasal dari jurusan akuntansi, ekonomi, teknik elektro, teknik kimia dan hukum. Sementara untuk lulusan S-2, yang dipilih adalah dari jurusan manajemen, keuangan, bisnis, teknik elektro dan pemasaran. Adapun untuk lulusan S-3, bidang manajemen.

Tentu saja, lulusan S-2 dan S-3 yang dibutuhkan jauh lebih sedikit dibanding lulusan S-1. Pasalnya, posisi/jabatan yang ditawarkan untuk lulusan S-2 dan S-3 lebih tinggi dibanding posisi untuk lulusan S-1. Masih berdasarkan hasil riset SWA, posisi yang ditawarkan kepada lulusan S-2 adalah manajer dan senior manajer. Sementara, untuk lulusan S-3, rata-rata responden tidak memberi jawaban pasti tentang jabatan yang ditawarkan. Sebagian responden menempatkan lulusan S-3 di bagian riset & pengembangan (R&D), dan sebagian lainnya memilih tidak menjawab.

Di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), jumlah lulusan S-2 dan S-3 yang direkrut tidak selalu sama setiap tahun. Pasalnya, LIPI mendidik sendiri pegawainya hingga lulus jenjang S-2 dan S-3, karena kualifikasi yang dibutuhkan LIPI biasanya cukup spesifik. Selain itu, menurut Neni Sintawardani, Kepala Biro Organisasi dan Kepegawaian LIPI, cukup sulit bagi LIPI mendapatkan lulusan S-2 dan S-3 yang sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkannya.

Dari total 300 pegawai baru, biasanya lulusan S-2 dan S-3 yang masuk hanya 10%-20%. “Pernah beberapa tahun lalu, kami membuka juga untuk S-2 dan S-3, tapi akhirnya kami tidak berhasil mendapatkan lulusan S-3 sama sekali karena kualifikasinya tidak memenuhi. Kalau kami bisa dapatkan lulusan S-2 dan S-3 yang sesuai dengan kualifikasi kami dari luar, tentu kami akan lebih senang merekrut dari luar saja,” Neni mengungkapkan.

Di Departemen Pekerjaan Umum (PU), perekrutan lulusan S-2 dan S-3 dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli pada setiap bidang keahlian/kepakaran di bidang pekerjaan umum. Ada lebih dari 55 bidang keahlian/kepakaran teknis yang dibutuhkan guna mendukung penyelenggaraan pekerjaan umum. Jika masing-masing bidang keahlian membutuhkan seorang lulusan S-3, 10 lulusan S-2, dan 30 lulusan S-1, Departemen PU membutuhkan paling sedikit 55 lulusan S-3, 550 lulusan S-2 dan 1.650 lulusan S-1 dari berbagai bidang keahlian.

Hingga saat ini, jumlah pegawai Departemen PU yang berpendidikan S-3 sebanyak 58 orang, S-2 sebanyak 1.491 orang, dan S-1 sebanyak 4.064 orang, dengan latar belakang pendidikan teknik dan nonteknik, dengan komposisi bidang keahlian yang tidak merata. Maka, untuk keperluan regenerasi dan pemenuhan komposisi pada setiap bidang keahlian, Departemen PU masih memerlukan tambahan pegawai lulusan S-3, S-2 dan S-1.

Berbeda dari kedua lembaga pemerintah di atas, Grup Soho dalam menerimaa karyawan baru tidak semata-mata melihat latar belakang pendidikan formal. Hanya saja, untuk level manajerial, Soho memiliki standar pendidikan formal minimal: S-1. Faktor utama yang dilihat dari kandidat karyawan adalah keselarasan karakter/atitude-nya dengan nilai-nilai dan sistem yang sudah tumbuh dan berkembang di Soho. Hal tersebut bisa diketahui pada saat proses wawancara plus penyesuaian selama masa percobaan tiga bulan. Yang bisa bergabung di grup ini, menurut Direktur SDM Soho Herlina Permatasari, adalah pribadi-pribadi yang perilaku personalnya bisa align dengan nilai-nilai perusahaan dan sistem yang ada.

Termasuk dalam menawarkan posisi, Soho tidak semata-mata melihat latar belakang pendidikan formalnya. Lulusan S-1, S-2 atau S-3 memang disiapkan untuk mengisi posisi manajerial. “Bukan karena dia lulusan S-2 atau S-3, tapi no experience, langsung diterima sebagai GM atau manajer. Kami lihat faktor lainnya, misalnya seperti apa profil dia. Apalagi kalau dia punya pengalaman, akan disesuaikan dengan sistem penempatan karyawan yang ada,” papar Herlina.

Menurut Herlina, Soho telah memiliki sistem pengelolaan manajemen SDM yang mapan. Pengembangan karyawan di kelompok usaha yang cikal bakalnya bernama PT Ethica Industri Pharmacy ini tidak hanya sebagai sumber daya manusia, tapi sudah menjadi human capital. Human capital adalah kunci keberhasilan implementasi visi Soho yang ingin menjadi pemain global pada 2015. Karena itu, dibutuhkan individu yang punya komitmen kerja yang kuat, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap Soho sebagai tempatnya bekerja.

Sebagai human capital, karyawan yang direkrut Soho akan melalui serangkaian tes dan prosedur. Pengalaman dan rekomendasi kinerja yang baik dari tempat kerja sebelumnya juga menjadi bahan pertimbangan utama dalam menerima karyawan baru. Ini berlaku untuk kandidat dari S-1, S-2 ataupun S-3.

Proses wawancara mendalam yang dilakukan langsung oleh calon user -- bahkan untuk posisi tertentu, jajaran direksi turut mewancarai -- menurut Herlina, diyakini sebagai cara yang paling signifikan untuk melihat apakah kandidat tersebut align dengan nilai-nilai korporat dan sistem atau tidak. Jumlah karyawan Soho sekarang hampir mencapai 3.600 orang dengan pengalaman kerja rata-rata lebih dari lima tahun.

Bagaimana dengan asal universitas? Herlina menegaskan, lulusan luar maupun dalam negeri akan mendapatkan treatment yang sama dalam proses perekrutan dan penempatan karyawan. “Lulusan perguruan tinggi prestise atau tidak prestise akan lebih dilihat lagi bagaimana praktiknya di lapangan. Memang, sebuah perguruan tinggi yang beken dan terkenal melahirkan lulusan yang qualified juga menjadi bahan pertimbangan kami. Tapi, kami lebih fokus pada individu yang bersangkutan, pada kinerja dan perilakunya selama di sini dan sebelum ke grup ini,” papar Herlina lagi.

Apa yang diungkapkan Herlina sejalan dengan hasil riset SWA, yang menunjukkan bahwa perusahaan tidak melihat apakah calon karyawannya itu lulusan dalam atau luar negeri. Sebanyak 60% responden menjawab lebih melihat pada sisi kemampuan dan pengalaman. Malah, mayoritas responden (78,13%) lebih memilih lulusan dalam negeri, sementara yang memilih lulusan luar negeri hanya 6,25%, dan sisanya (15,63%) menilai lulusan dalam dan luar negeri sama saja.

Salah satu alasan mereka memilih lulusan dalam negeri: banyak yang potensial dan berkualitas. Kekurangannya, dalam hal penguasaan bahasa asing. Alasan lainnya, lulusan dalam negeri dianggap akan lebih mudah beradaptasi. Namun, lulusan luar negeri juga tak disepelekan. Berdasarkan survei SWA, mereka dianggap mempunyai wawasan yang luas, kemampuan berbahasa Inggris yang lebih bagus, drive dalam bekerja yang rata-rata lebih kuat, dan rasa percaya diri yang lebih tinggi.

Selanjutnya, kendati beberapa perusahaan tidak melihat apakah lulusan S-1 atau S-2, berdasarkan survei SWA, perhatian perusahaan untuk meningkatkan wawasan dan kemampuan karyawan dengan memberikan beasiswa buat menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi tergolong besar. Sebanyak 31,25% responden mempunyai kuota 1-5 karyawan yang disekolahkan lagi; 25%, 6-10 orang; dan 12,5%, 11-20 orang. Anggaran beasiswa yang dialokasikan perusahaan untuk karyawan, persentase tertinggi adalah Rp 100-500 juta/tahun. Sementara universitas yang jadi incaran untuk menyekolahkan lagi karyawan adalah UI (50%), ITB (37,50%), Universitas Brawijaya (37%), UGM (31,25%) dan Prasetiya Mulya Business School (25%),

Pihak universitas, selain mencetak lulusan yang berkualitas, juga turut andil menjawab kebutuhan tenaga profesional di perusahaan. Sebagai contoh, Binus mempunyai Carrier Development Center untuk menjembatani antara kebutuhan dunia usaha dan ketersediaan mahasiswa Binus. Tahun 2007, sebanyak 70% dari wisudawan sudah bekerja. Tahun 2009, jumlah lulusan yang telah bekerja menurun menjadi 50%. “Hal itu diperkirakan karena krisis ekonomi global sehingga daya serap pasar terhadap mahasiswa secara umum, termasuk Binus, berkurang,” ujar Wayah S. Wiroto, Pembantu Rektor III Binus.

Kualifikasi pendidikan bagi perusahaan dalam merekrut karyawan memang bisa berbeda-beda. Namun, tak bisa dimungkiri, berdasarkan hasil survei SWA, lulusan dari universitas ternama di dalam negeri masih diperhitungkan.

Reportase: Gigin W. Utomo, Kristiana Anissa, Rias Andriati dan Tutut Handayani/Riset: Dian Solihati

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)