Cerita Jos Parengkuan 10 Tahun Dirikan Syailendra Capital

Raut bahagia terpancar di wajah Jos Parengkuan ketika menyampaikan sambutannya di acara ulang tahun Syailendra capital ke 10 tahun. Bagaimana tidak, usaha yang ia bangun dalam satu dasawarsa terakhir menunjukkan kinerja yang cemerlang, dengan mencatatkan dana kelolaan sebesar Rp 7,5 triliun per akhir tahun 2016.

Pertaruhan Jos di bidang industri reksadana bisa dikatakan sangat menantang dan tidak muda. Pria yang telah 27 tahun bergelut di pasar modal itu, terjun ke industri reksadana justru tepat sesudah terjadi gelombang redemption besar-besaran oleh investor lokal pada tahun 2005. Bersama dua kawannya, Roy Himawan, dan David Tanuri, ia bisa dikatakan cukup nekat ketika itu. Setelah mengantongi izin pada November 2006, produk perdana Syailendra Capital langsung dirilis dua bulan kemudian. "Tidak terasa 10 tahun cepat berlalu," ungkapnya.

Ia masih ingat betul hanya menempati kantor seluas 100 meter persegi ketika memulai Syailendra Capital. Tak banyak karyawan yang direkrut ketika itu. Di sana ia bercerita hanya satu office boy, satu sekretaris dan satu atau dua pegawai lainya. "Kami berkantor di Wijoyo Centre yang mana merupakan gedung paling tua di kawasan emas Jakarta," kenangnya.

Walaupun demikian, toh ternyata keputusan para pendiri untuk mendirikan Syailendra Capital sangat tepat. Pada 2007 pasarnya mulai bergerak. Produk pertama Syailendra, Syailendra Opti Growth Fund (SOGF) berhasil menghimpun Rp102,5 miliar (US$ 11,4 juta). Ketika itu manajemen menghadirkan inovasi dalam pilihan berinvestasi. "SOGF diluncurkan dengan fleksibilitas unik yang memungkinkan para investor untuk berpindah dari satu jenis aset ke yang lainnya, dan meningkatkan investasi hingga 100% di pasar yang sedang positif berkembang," ujarnya merinci penjelasan.

Perlahan tapi pasti, Syailendra mulai dikenal kalangan investor. Meskipun belum masuk jajaran Manajer Investasi terbesar, toh hal ini tidak membuat Syailendra berkecil hati. Jos tetap bangga, Syailendara bisa membuktikan diri bisa bertumbuh sebagai pemain lokal yang tidak terafiliasi dengan institusi besar. Sebagai new kid on the block, yang awalnya dianggap bukan apa-apa. Under asset management (AUM) Syailendra bisa bertumbuh begitu cepatnya. "Pencapaian ini saya membanggakan," ujar pemegang  37.5% saham Syailendra Capital itu.

Ia mengaku telah belajar banyak dari pengalamannya mendirikan Syailendra. Hal yang paling ia garisbawahi adalah bagaimana Syailendra menanamkan integritas sebagai budaya perusahaan. Baginya haram hukumnya, untuk menjanjikan hal-hal yang tidak realistis terhadap investor. Sebaliknya ia ingin agar Syailendra bisa menanamkan kultur edukasi mengenai apa yang realistis dan tidak realistis. "Kami sering kalah, karena kami tidak sanggup janjikan apa apa yang bisa dijanjikan pesaing," ungkapnya. Meski begitu hal tersebut tidak masalah, asal integritas menjadi citra Syailendra."Kami melihat bahwa dalam jangka panjang return setinggi-tingginya bukan sesuatu utama, ada satu lagi faktor utama yaitu integritas."

Mimpi masuk deretan 10 MI terbesar

Syailendra Capital mempunyai misi besar di tengah keberadaannya yang ke 10 tahun di dunia pasar modal. Salah satu misi Syailendra Capital adalah masuk dalam deretan 10 besar manajer investasi di Indonesia.Berbagai rencana telah dipersiapkan oleh para manajemen baru di Syilendra. Salah satunya adalah adalah menumbuhkan dana kelolaan alias asset under management (AUM) menjadi Rp9,5 triliun dan menerbitkan 5 - 10 produk reksa dana baru di 2017.

Ia percaya, di tangan direksi baru, manajemen Syalendra bisa membawa perubahan dalam perusahaan tersebut. Apalagi orang-orang yang menempati kursi tersebut bukan profesional sembarang. Ada nama-nama seperti Fajar R. Hidajat, Gunanta Afrima dan Cholis Baidowi. Sebagai CEO Fajar R. Hidayat sempat menduduki posisi penting di beberapa perusahaan MI, sebut saja CIMB Principal Asset Management, dan Trimegah Asset Management Trimegah Securities"Kami baru-baru ini telah memperkenalkan direksi baru. Harapan 5 sampai 10 tahun ke depan bisa lebih solid."

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)