Profile Editor's Choice

Chatib Basri: Target Investasi Masuk Rp 500 Triliun di 2014

Chatib Basri: Target Investasi Masuk Rp 500 Triliun di 2014

Setelah lebih dari tiga bulan menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), M. Chatib Basri menargetkan nilai investasi yang masuk ke Tanah Air tahun 2014 sebesar Rp 500 triliun. Untuk mengetahui apa saja upaya yang dilakukan oleh mantan Direktur Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia ini untuk menggenjot investasi, berikut petikan wawancara Herning Banirestu dari SWA.

M. Chatib Basri

M. Chatib Basri, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Apa yang Anda lakukan untuk mendukung investor?

Peran kebijakan ini harus diperhatikan, terutama membuat investor nyaman. Memulainya harus dari sesuatu yang berada dalam kontrol saya. Istilahnya, you have to pick your own battle. Memilih pertempuran yang Anda yakin menang. Jangan ambil pertempuran pertama yang Anda belum tentu menang.

Saya harus memilih bidang pertempuran di mana saya yakin saya bisa kendalikan agar orang yakin reform itu ada. Saya turun langsung ke front office, untuk melihat apa yang ada di sana. Berdasarkan survei Komisi Pemberantasan Korupsi, BKPM itu institusi pemerintah yang pelayanan publiknya paling baik. Itu survei tahun 2012, dianggap paling bagus layanannya dan bersih dibanding institusi lain. Ini bagus dong. Saya turun ke bawah. Saya lihat, ada ibu-ibu nomor antreannya 58, sudah jam empat sore, antrean baru sampai nomor 30-an. Berarti ibu itu tidak akan dapat layanan hari itu dan harus kembali lagi esok harinya. Ini berarti ada yang tidak benar dalam sistem. Ada yang salah jika orang harus kembali lagi untuk mendapat layanan.

Saya lalu memanggil orang-orang, saya membandingkan layanan Surat Izin Mengemudi yang bisa cepat. Banyak investor datang yang tidak mengerti apa saja persyaratannya. Jadi waktunya habis untuk cek administrasi, satu orang bisa dilayani dalam 1,5-2 jam. Informasinya tidak cukup baik, untuk membuat mereka well-informed sebelum mereka menyerahkan berkas. Ini suatu yang simpel tidak perlu kompromi politik untuk membenahinya.

Kalau begitu kami siapkan help desk. Jadi, sebelum masuk ke konter untuk antre, mereka bisa cek berkasnya di situ. Setelah oke bisa antre. Orang yang di loket langsung diproses tanpa cek berkas lagi. Jadi antrean yang semula 6 jam dengan adanya help desk bisa hanya tiga jam saja.

Apa lagi pembenahan yang Anda lakukan di BKPM?

Minggu lalu saya di-twit lewat akun Twitter saya @ChatibBasri, ucapan terima kasih pelayanan di BKPM sekarang lebih cepat. Saya pikir itu lebih dari apa pun, tidak perlu konferensi pers untuk menunjukkan kemajuan BKPM. Tidak perlu kompromi politik di DPR atau berkoar di media massa. Padahal saya pikir antrean tiga jam saja masih terlalu lama.

Saya berpikir proses perizinan itu harus sama dengan proses customer service di bank. Saya cek ke bank-bank, mereka bisa cepat, itu kan sistemnya ada, kami bisa pelajari. BKPM itu melayani investor dari luar juga. Mereka tinggal di luar negeri, tidak bisa semua langsung datang ke Indonesia. Mereka berhubungan dengan Indonesia hanya lewat telepon, e-mail atau website. Tidak mungkin hanya tanya saja mereka harus ke Indonesia. Kalau informasi di tiga tempat itu bermasalah, bagaimana orang akan investasi di sini. Semua dalam proses untuk peningkatan layanan. Telepon harus cepat diangkat. E-mail harus segera direspons. Website harus informatif. Flow-nya harus dibenahi, artinya sistemnya dibenahi. Bukan orangnya dulu. Mereka sudah bagus-bagus.

Artinya, apa yang dilakukan hanya improvement?

Harus jalan dengan kondisi yang ada. Tidak harus datang dengan sesuatu yang baru. Kami harus berangkat dari apa yang ada. Kami harus berjalan meski dengan kondisi paling jelek. Kami tidak bisa mengubah konstrain. Apa yang masih bisa dilakukan dengan keadaan yang sudah given itu. Jadi saya harus berpikir apa yang bisa dilakukan dalam seminggu. Itulah policy maker yang harus dilakukan. Jangan konstrain jadi kendala. Given resources harus dimaksimalkan.

Bagaimana upaya mendorong investasi di daerah?

Saya mengakui tidak ada instrumen untuk memaksa para pemimpin daerah. Yang bisa saya lakukan adalah bagaimana ownership ada di mereka. Saya lakukan promosi dan pemasaran, saya ingin mereka yang lead. Kala investor datang, opsinya ada di mereka. Ada di daerahnya. Yang penting saya tahu siapa investor yang harus temui, tahu problemnya apa. Sehingga pertemuannya efektif, masalahnya teratasi, gubernur melakukan lead.

Saya lihat mana lokasi daerah yang menarik. Paling besar investasi di Jawa Timur nomor satu, kedua DKI Jakarta, ketiga Jawa Barat, keempat Banten, kelima Riau.

Terkait investasi daerah, bagaimana mengatasi keterbatasan mereka?

Kami tanya apa yang bisa kami bantu. Pada saat promosi, bahan presentasi kami siapkan, tentu setelah berbicara dengan mereka. Kami lakukan fasilitasi lintas departemen. Potensi investasi itu ada di daerah. Perjalanan seribu li itu dimulai dari satu li. Digarap yang baik yang sudah ada. Kalau tidak perlu diganti mengapa harus ganti hanya untuk menunjukkan kalau saya beda. Tidak perlu. Mengapa harus menghabiskan dana untuk itu. Saya orangnya pragmatis. When the world is not broken, you don’t have to fix it. Prioritas itu dijalankan satu per satu.

Target tahun 2014?

Kalau dari angka, saya harus capai nilai investasi masuk Rp 500 triliun. Saya berharap proses pelayanan ini harus sangat baik. Pak Gita Wiryawan sudah melakukan branding dan pembenahan sangat baik. Saya dukung itu. Satu hal yang saya bisa lanjutkan adalah soal service excellence. Ini bisa dicapai, benchmark saya Bank Mandiri, untuk call centre, service centre dan pelayanannya.

Sekarang, target akhir tahun 2012 harus bisa mencapai investasi masuk sekitar Rp 300 triliun. Hingga Juni 2012 sudah tumbuh 30%, angka itu tertinggi sepanjang sejarah.

Eva Martha Rahayu


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved