Loyalitas Grace Kusnadi di Industri Kreatif

Nama Grace Kusnadi sudah tenar di kalangan industri kreatif. Bisa dibilang ia merupakan salah satu sosok yang punya mimpi besar atas perkembangan industri kreatif tanah air  khususnya berbasis budaya populer seperti animasi, komik, film dan games. Kecintaannya terhadap industri kratif bermula saat bergaul dengan para animator dalam negeri.

Ia merasa prihatin dengan sektor industri kreatif  yang  minim dukungan dan jauh tertinggal dari negara lain. Di dunia animator misalnya, ia melihat banyak potensi dari para para animator lokal, namun sayang minim wadah untuk unjuk gigi. “Tidak ada pameran,” katanya di acara konferensi pers Popcon Asia 2015  di Jakarta..

Maka itu tercetuslah sebuah ide untuk membuat sebuah festival budaya populer  yang berisi para kreator dari dalam negeri,  baik itu film, komik, games maupun animasi dan mainan. Tujuannya agar acara tersebut bisa menjadi ajang mengembangkan jaringan antara kreator, investor dan distributor. “Akhirnya aku bilang, yuk aku bikinin (acaranya) tapi, semua harus kerja, harus terlibat," dia mengungkapkan.

Kebetulan sebenarnya Grace mempunyai latar belakang pengalaman di event organizer dan pendidikan bidang komunikasi. Ia juga pernah bekerja sebagai Conference Manager di  PT Dyandra Promosindo, dan Even Manager di atomz i! pte  ltd. Bahkan, kini ia telah menjadi CEO di Revata.

grace

Karena niatan membuat wadah berkumpul bagi para industri kreatif, ia kemudian banyak melakukan perkenalan dan pertemuan-pertemuan dengan para komunitas seni lainnya, tidak sebatas hanya animator. Pengalamannya atas hal tersebut, membuat  ia lebih mendalami seluk beluk  dunia industri kreatif. Banyak waktunya yang ia gunakan untuk mendengar keinginan para kreator dan juga masalah yang dihadapi.

Dari situ ia paham bahwa banyak kreator   ingin memperoleh transfer pengetahuan dari kreator-kreator luar negeri. Maka itu ia berusaha menggunakan segala cara agar acara yang nantinya dibuat, bisa mendatangkan kreator kenaman luar negeri.  Termasuk juga, bisa mendatangkan para investor potensial.

Kini sudah tahun k-empat kali acara tersebut dilangsungkan sejak tahun 2012.  Acara itu diberi nama Popcon Asia, kependekan dari  “Popular Culture Convention”. Berbeda dengan acara konvensi-konvensi lain, acara ini punya ciri khas kreator lokal menjadi tuan rumah. “Jadi orang tidak datang lalu beli Superman, tapi  membeli karya kreator lokal," ia menuturkan.

Tahun lalu saja acara ini berhasil mencatatkan transaksi  Rp 15 miliar dengan lebih dari 24.000 pengunjung.  Berbagai  konten lokal dipamerkan di Popcon Asia 2014, semisal superhero Gundala, Garuda, Nusantaranger, Gatot Kaca, Selendang7 dan Satria Garuda Bima X.

Adanya acara rutin ini, ia katakan sangat berguna bagi pengembang usaha kreator.  Selain bisa jadi wadah mendatangkan pundi-pundi uang, acara ini juga bisa menjadi ajang kreator bisa saling mengenal satu sama lain untuk berkolaborasi dalam bentuk karya.

Ia percaya bahwa industri ini memiliki prospek cerah ke depannya. Bukan tidak mungkin nantinya pop culture Indonesia bisa semeriah seperti Jepang, mengingat lokal konten budaya Indonesia memiliki banyak keragaman. “Anak muda disini sebenarnya kreatif-kreatif," Grace menegaskan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)