Adil Abdul Manief Makki, Pengusaha Asal Arab Saudi Berdarah Indonesia

Adil Abdul Manief Makki baru-baru ini diperbincangkan publik sebagai pengusaha muda sukses dari Arab Saudi yang memiliki garis keturunan Indonesia. Dia merupakan salah satu anggota rombongan yang berjumlah 1.500 orang yang dibawa Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud, saat berkunjung ke Jakarta pada 1-4 Maret 2017. Adil adalah cicit K.H. Zainul Arifin Pohan, tokoh Nahdhlatul Ulama, pahlawan kemerdekaan, dan mantan Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Ali Sastroamijoyo I. Ibunda Adil adalah Siti Zuhara, putri sulung (almarhum) Zainul, dan sang ayah adalah Munief Makki, pengusaha berdarah Jawa-Sunda yang sudah lama bermukin di Arab Saudi. “Saya selalu senang setiap kali kembali ke Indonesia, apalagi pembangunan infrastruktur Indonesia semakin maju,” ujar Adil yang pernah mengunjungi Jakarta pada 2014. Adil adalah anak kedua dari lima bersaudara.

Adil Abdul Manief Makki Adil Abdul Manief Makki, pendiri AMCO, Arab Saudi (Foto: Ino)

Sosoknya dikenal sebagai pengusaha muda yang jeli mengendus peluang bisnis konstruksi. Pria kelahiran 1984 ini mendirikan Adil Makki Contracting Company (AMCO) untuk menggarap bisnis konstruksi di Arab Saudi. Modalnya bersumber dari dana patungan keluarga dan rekan bisnis. Proyek konstruksi yang pertama digarap AMCO adalah pembangunan Saudi Airlines Ground Services yang dirampungkan sesuai target. Perlahan-lahan, Adil menuai kepercayaan dari instansi pemerintah di tanah kelahirannya itu. AMCO selama 2009-11 dipercaya untuk mengerjakan proyek Kementerian Pertahanan, Kementerian Pendidikan dan Kementerian Kesehatan Arab Saudi. Nilai proyeknya bervariasi, “Mulai dari US$ 10 juta hingga US$ 20 juta,” tutur ayah seorang putri ini.

Laju bisnis AMCO melejit dan diapresiasi oleh pemerintah dan dunia usaha di Arab Saudi dan Indonesia. Sebagai contoh, AMCO bermitra dengan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. pada 2010 di sejumlah proyek, antara lain pembangunan hotel, pusat perbelanjaan dan perkantoran di Arab Saudi. Awal kisah kerja sama AMCO-WIKA bermula dari proyek pembangunan konstruksi di lahan seluas 1 juta m2 yang dimiliki konglomerat Arab Saudi. Di atas lahan itu bakal dibangun apartemen sebanyak 16 ribu unit “Kami menggandeng partner property development di Adhafah, mereka dari Indonesia, yaitu Ibu Theresia Adiwidjaja dan Bapak Simon Duma,” ungkap pemegang gelar MBA dari Prince Sultan College ini.

Yang terbaru, pada 2 Maret 2017 Adil meneken nota kesepahaman bersama antara AMCO dan WIKA untuk menggarap proyek pembangunan rumah di Jeddah dan pembangunan rumah sakit. Adil berkata, nilai proyek yang dikerjakan kedua perusahaan itu berkisar US$ 500 juta-1 miliar. Kiprah Adil selama melakoni bisnis konstruksi itu semakin mempertebal reputasinya.

Sebelum usianya menyentuh angka 30 tahun, Adil menempati posisi strategis di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Arab Saudi, serta menjabat sebagai Ketua Kadin di Jeddah. Sejumlah pencapaian Adil di dunia usaha dan organisasi bisnis itu diapresiasi berbagai pihak, salah satunya Majalah Forbes Timur Tengah yang memberikan penghargaan kepada Adil sebagai The Most Inspiring Kingdom Leaders di 2014. Wajahnya yang khas Asia menghiasi sampul depan Majalah Forbes yang terbit pada 13 Desember 2014 itu.

(Foto: Ino)

Tanpa bermaksud memamerkan berbagai prestasinya tersebut, Adil mengatakan, dirinya adalah contoh pengusaha keturunan Indonesia yang berprestasi di Arab Saudi.

Namun, kesuksesan Adil itu bukan jatuh dari langit. Sejak 2005 dia menempa insting bisnisnya sebagai pegawai di Grup Almunief, perusahaan milik ayahnya. Ketika itu, dia masih kuliah S-1 Jurusan Bisnis Internasional di King Abdul Aziz University. “Saya belajar bisnis dari pengalaman Bapak dalam mengembangkan Almunief Group, kemudian saya berbisnis sendiri di tahun 2008,” ujarnya. Bisnis perusahaan ayah Adil adalah biro perjalanan haji dan umroh, penginapan, katering dan logistik. Munief menuturkan, bisnis AlMunief dirintis sejak 1910 oleh bapaknya, Syaikh Moh. Makki. Kunci keberhasilan bisnis keluarga tetap berkesinambungan, menurut Munief, adalah pantang menyerah dan tulus melayani kebutuhan para jemaah.

Sebagai contoh, lanjut Munief, walau masih berumur 28 tahun, dia memberanikan diri menyewa pesawat terbang dari Belanda. Peristiwa ini dikisahkan kepada Adil untuk memompa motivasi anaknya menjadi pengusaha yang lebih sukses daripada dirinya. “Saya memberi tantangan ke Adil untuk menjadi pengusaha yang lebih maju, apalagi dia lulusan S-2,” kata Munief yang kini berusia 66 tahun. Adil mampu menjawab tantangan sang ayah. Bisnisnya kini sudah merambah sektor properti, restoran dan biro perjalanan. Bisnisnya itu, termasuk AMCO, merupakan entitas bisnis yang terpisah dari Grup Almunief.

Ke depan, Adil ingin membuka kantor perwakilan dan menambah mitra bisnis di Indonesia untuk mengepakkan sayap bisnis di biro perjalanan haji dan umroh. Setiap tahun, perusahaannya melayani 20-50 ribu jamaah haji dan 5-10 ribu jamaah umroh. “Saya ingin memperkuat hubungan perdagangan antara Indonesia dan Arab Saudi. Akan tetapi, tujuan berbisnis bukanlah semata-mata demi uang, Bagi saya, tujuan yang lebih utama adalah memberi manfaat, the more I can serve, the more I satisfied,” ia menandaskan. Munief menimpali, dia mengajarkan etika bisnis dan sopan-santun kepada Adil. Di Indonesia, keluarga Adil memiliki Al Munief Travel Haji dan Umroh, perusahaan biro perjalanan milik keluarga Munief, yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat, serta mengelola pondok pesantren. “Saya memiliki pesantren seluas 2 hektare, sekolah menghafal Al-Quran, dan panti asuhan yatim piatu di Jatibarang. Namanya, Yayasan Muhammad Makki Banten,” kata Munief. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)