Centro, Sang Raja Keramik Outdoor 

 

Kecintaan Sharif Said pada bisnis keramik memunculkan inovasi dan kejelian membaca peluang. Berawal sebagai peritel produk keramik dan aksesorinya di era 1980-an, kini Grup Kemenangan Jaya menjadi salah satu produsen keramik yang disegani di Indonesia dan mancanegara. Lewat brand Centro Ceramic, ia telah berhasil mendobrak kemapanan selera pasar keramik. Perusahaan tersebut muncul sebagai pelopor keramik bermotif batu alam dengan mengklaim penguasaan pasar 70% lebih.

Centro Jusmery Chandra, Presiden Direktur PT Puri Kemenangan Jaya

Presiden Direktur PT Puri Kemenangan Jaya, Jusmery Chandra, bercerita awalnya tidak ada pelaku bisnis di Tanah Air yang berani fokus di pasar keramik outdoor. Bahkan, tak jarang perusahaannya ditertawai para pesaing karena dianggap membuang-buang tenaga lantaran ketika itu pasar keramik luar ruang belum terlalu seksi seperti saat ini. “Mereka bilang, ‘Ngapain Kemenangan Jaya fokus ke keramik outdoor, paling satu rumah pakai 5-10 dus saja. buang-buang uang dan energi buat R&D segala,” ujarnya menceritakan ledekan para pesaingnya ketika itu.

Namun, Kemenangan Jaya tidak goyah. Sharif, sang pemilik KJG, melihat peluang penggunaan batu alam untuk mempercantik eksterior dan interior bangunan bisa digantikan dengan keramik. Apalagi, pada tahun 2000-an penggunaan batu alam untuk mempercantik eksterior dan interior bangunan mulai populer.

Melalui riset hingga enam bulan, pada 2008 meluncurlah generasi pertama produk Centro yang dinamai Maestro. Saat itu ada lima motif Maestro yang dikeluarkan dengan menggunakan nama-nama branded fashion, yaitu Armani, Bottega, Chloe, Dior dan Escada. “Respons pasar bagus, luar biasa. Ada juga buyer dari Korea dan Malaysia yang tertarik. Ini membuat kami percaya diri,” kata Mery, panggilan akrab Jusmery.

Kini, setelah hampir satu dekade, Centro telah mempunyai 13 seri keramik dengan lebih dari 300 motif. Dengan tiga pabrik, perusahaan ini dapat memproduksi keramik seluas 1 juta m2 per bulan. “Tahun depan, kami akan ekspansi pabrik lagi dan menambah kapasitas sebesar 300-500 ribu m2,” ujar Mery.

Meskipun kelesuan ekonomi Indonesia beberapa tahun sempat menyulitkan industri keramik, Centro tetap kokoh. Bahkan, tetap bisa mempertahankan pertumbuhan sebesar 20% pada 2014-15. Tahun lalu pun masih bisa tetap tumbuh di kisaran 7%. “Meskipun kecil, kami berhasil tumbuh dibandingkan kompetitor yang umumnya minus 20%-30%,” ungkap Mery.

Keberhasilan ini, menurut dia, lantaran kerja keras seluruh tim di perusahaan untuk menghasilkan inovasi, baik inovasi dalam hal produk maupun pemasaran. Dibandingkan dengan kompetitor yang hanya memiliki puluhan desain, ia mengklaim Centro memiliki hampir 300 desain. Pilihan produk yang beragam menurut dia menjadi senjata utama untuk tetap menggerakkan permintaan.”Adanya variasi produk ini sangat membantu kami tetap tumbuh di era perlambatan.”

Lihat saja, ada keramik yang bentuknya tidak beraturan, sisi tepinya tidak lurus tetapi bergelombang. Ada keramik yang berbentuk segi delapan, dan permukaannya mempunyai kedalaman cukup tinggi. Ada juga desain yang menyerupai bambu serta desain kepingan serupa puzzle, serta motif-motif rustic yang tak umum. Ukurannya pun bermacam-macam dan tidak biasa, mulai dari 20x40 cm2, 30x30 cm2, 33x33 cm2, 40x40 cm2, bahkan 25x25 cm2 dan 10x50 cm2. “Tidak banyak pabrikan yang menyediakan banyak variasi ukuran seperti yang dimiliki Centro saat ini,” ungkap Mery.

Sebagai distributor, PKJ memiliki lebih dari 100 dealer yang tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Satu dealer memiliki 100-200 subdealer.

Centro juga melakukan ekspor ke Malaysia, Filipina, Korea Selatan, Srilangka dan Vietnam dengan komposisi sekitar 10%. “Kami juga hadir di toko retail, seperti Depo Bangunan dan Mitra 10,” ujar Mery.

Selain memiliki dan memproduksi sendiri brand Centro, Kemenangan Jaya juga memproduksi keramik lain dengan merek Potenza Sultan, King, Omega Tile, Sahara, Stallion Ceramic, Star dan Vittoria.

Sharif Said sejatinya bukanlah orang baru di industri perkeramikan. Peranakan Arab-Betawi ini memulai terjun di dunia keramik dari sebuah toko material yang dibangun sang ayah, Said, pada 1970-an. Pergumulan Sharif di bisnis keramik bermula dari tawaran orang dari pabrik yang menawarkan keramik BS (barang sortiran) kepada ayahnya.

Said menerima tawaran itu dengan terbuka. Sampel keramik BS yang sudah berlumut itu disikat hingga bersih kemudian dipajang rapi di depan rumah, yang sekarang menjadi kantor Kemenangan Jaya. Ternyata, banyak orang tertarik pada keramik-keramik tersebut. Hampir setiap kali truknya tiba, keramiknya langsung diborong orang. Kala itu, 1.000 dus keramik BS pun terjual. Melihat animo pasar yang luar biasa itu, Said memutuskan fokus hanya menjual keramik BS. Dia tidak lagi menjual bahan material lainnya.

Pilihan itu tepat. Pasar makin bergairah menyambut keramik-keramik BS itu. Saat itu Sharif yang baru lulus SMA sudah mulai membantu orang tuanya. Maklum, dia anak laki-laki pertama dalam keluarga. Tiga kakaknya perempuan semua. Dia anak keempat dari tujuh bersaudara. Sharif dengan telaten ikut membantu membangun bisnis keramik ayahnya. Dia mengumpulkan keramik cacat lainnya yang masih layak digunakan. Dari sinilah tercipta pasar keramik dengan kualitas bawahnya, alias KW 2 dan KW 3, yang berharga miring.

Jusmery Chandra

Boleh dibilang, Sharif adalah orang yang mengubah para pedagang sepatu di Pasar Rumput, dekat Terminal Manggarai, Jakarta Selatan, menjadi pedagang keramik BS alias KW. Ia juga mengajari tetangganya di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, menjadi pedagang keramik. Tahun 1980-an, ia mulai mengambil peran pada bisnis yang dirintis ayahnya.

Lambat laun, Sharif kemudian tidak hanya fokus menggarap pasar keramik BS. Dia menjadi distributor dan produsen untuk banyak merek keramik. Pasarnya pun tidak sebatas Jabodetabek. Permintaan dari daerah lain mulai berdatangan, bahkan hampir dari seluruh Indonesia. Ketika permintaan akan keramik kian tinggi, dia memberanikan diri melakukan kontrak dengan pabrik, sebagai original equipment manufacturer (OEM), karena sering kekurangan barang.

Kini meskipun Kemenangan Jaya sudah menjadi besar, Sharif tidak menyombongkan diri. Alih-alih membusungkan dada, ia malah lebih senang bekerja di belakang layar, dan meminta Mery yang lebih banyak tampil ke publik.

Jika dilihat dari segi penjualan, keramik Centro bisa dibilang yang paling bagus penjualannya. Selain terkenal dengan produk keramik outdoor-nya, Centro sebenarnya juga memiliki produk keramik indoor. Hanya saja, keramik outdoor berkontribusi dominan, 80%-90%, terhadap penjualan. “Kami hanya punya dua seri keramik indoor,” ungkap Mery.

Untuk mengantisipasi adanya peniruan, Kemenangan Jaya selalu mendaftarkan desain dan pola keramik Centro ke Direktorat Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Kementerian Hukum dan HAM untuk dilindungi. Perusahaan tersebut juga rajin mengomunikasikan di media sosial peluncuran produk barunya. “Namun, nyatanya tetap saja ada yang nekat,” ujar Mery. Setidaknya ada empat perusahaan yang melakukan peniruan. Keempatnya secara sah dinyatakan melakukan peniruan oleh institusi resmi yang menangani hal tersebut.

Tahun 2017 ini, Centro menargetkan pertumbuhan penjualan 30%. Untuk mencapai pertumbuhan tersebut rencananya akan dilakukan peluncuran dua seri. Centro juga akan membuka factory outlet untuk menjual produk keramik cacat/BS. “Selain menjual produk yang berharga tinggi, kami luncurkan juga seri yang harganya murah,” kata Mery. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)