Gairah Seira Meutia Memoles Produk Online | SWA.co.id

Gairah Seira Meutia Memoles Produk Online

Di jagat perdagangan dunia maya, penampilan adalah hal utama. Maka, foto produk yang ciamik menjadi resep unggulan untuk menarik netizen agar mengklik barang-barang yang dijajakan pedagang dalam jaringan (daring/online). Namun, tak semua orang yang mencari nafkah di dunia maya memahami atau menerapkan jurus itu. Kerap kali mereka memajang foto produk ala kadarnya. Alhasil, netizen pun ogah singgah ke lapak mereka.

Kondisi itu ditangkap Seira Meutia, CEO PT Pijar Imaji Indonesia, yang fokus memproduksi konten visual alias memotret tampilan sekaligus narasi untuk produk para pebisnis di dunia maya. Dengan cekatan, alumni Jurusan Desain Interior Institut Kesenian Jakarta dan S-2 London Institute of Communication itu sukses meraih kepercayaan merek-merek besar yang perlu memoles tampilan produk mereka untuk dipajang di dunia maya.

Mantan fashion stylist Majalah Femina itu mengawali bisnisnya setelah berkarier di berbagai startup situs dagang seperti Berrybenka, Shopdeca dan Zalora. Pengalamannya mengonsep foto produk, mengategorisasi item produk, hingga merancang konsep visual produk membuatnya tergelitik memberikan layanan serupa kepada pebisnis yang hendak memasarkan produknya ke ranah maya. Pasalnya, saat di Zalora, Seira melihat adanya kesulitan yang dialami para pebisnis untuk menyesuaikan foto produk mereka dengan standar yang disyaratkan. Dari 100%, yang bisa go live hanya 30%. “Sebagian besar ditolak karena foto tidak sesuai dengan guideline Zalora,” ungkap ibu empat anak kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, 19 Maret 1977, ini.

Seira Meutia

Seira Meutia, CEO PT Pijar Imaji Indonesia

Intinya, semakin tidak menarik foto dan konten produk, semakin minim pula pengunjung lapaknya, yang ujung-ujungnya bisa menurunkan kunjungan ke para penyedia jasa situs dagang seperti Zalora. Kondisi ini menyulitkan kedua belah pihak. Penyedia situs dagang tidak mungkin memproduksi sendiri konten visual setiap produk karena dalam sehari minimal ada 450 produk varian baru yang ditampilkan, sehingga akan sangat menguras tenaga, waktu dan biaya. Sementara jika diserahkan ke pemilik merek, biaya produksi konten visual terlalu besar. Pengalaman Seira, satu proyek pemotretan produk kerap menelan biaya Rp 5 juta-10 juta, untuk biaya fotografer, properti dan modelnya. Padahal, sering kali pemilik merek atau produk hanya perlu menampilkan sedikit item.

Masalah itu coba dijawab Seira dengan merancang jasa produksi visual konten lengkap dengan harga terjangkau di bawah bendera PT Inbound Indonesia yang dia didirikan bersama dua mantan karyawan Zalora, Ginanjar Triwidodo dan Ilayasina Sitepu, pada Juli 2015.

Berkat Inbound, pemilik merek hanya perlu mengirim produk mereka disertai deskripsi produk. Tim Inbound yang kemudian memotret, mengedit foto, menamakan produk sesuai dengan SKU penyedia jasa situs dagang, memoles konten, menulis deskripsi produk dengan lengkap dan memikat, sampai menyediakan model, make-up artist dan fashion stylist.

Singkatnya, seluruh kebutuhan konten visual disediakan Inbound dalam satu atap. “Dengan demikian, e-commerce yang kami sediakan visual kontennya juga jadi lebih fokus ke sales, promo dan marketing. Mereka tinggal kirim ke kami semua produknya,” ungkap Seira kepada SWA di kantornya, Jalan Benda 70, Jakarta Selatan.

Ketika mendirikan Inbound, Seira masih bekerja di Zalora. Belakangan, ia menyadari, menyeimbangkan dua kaki di atas dua kursi memang riskan. Akhirnya, setelah enam bulan bekerja ganda, dia memutuskan sepenuhnya berkarya di Inbound. Kesunggulan Seira dkk. membuat Inbound melesat. Meski baru setahun, Inbound sudah menangani 200 merek, antara lain Go-mart, Hypermart, Anye (by Agnezmo), Lois Jeans, Lee Cooper, Etos Indonesia, Point One, Ripcurl Indonesia, Romantic Cotton, Contempo, Batik Waskito, Buon Giono, Cufflink Store, Senswell dan Alisan.

Seira rupanya masih haus bertualang dalam bisnis. Di tengah kemajuan Inbound, dia memilih merintis kembali dari nol. Bersama tiga rekannya, Simon Wijoyo, Alamanda Shantika dan Aditya Pandu Seira, dia membesut PT Pijar Imaji Indonesia, Agustus lalu. “Saya ingin bereksplorasi lebih luas dengan Pijar Imaji,” kata Seira memaparkan alasannya.

Menurut Seira, Pijar tidak semata-mata membidik laba, tetapi memiliki visi untuk mengedukasi khalayak luas mengenai visual yang baik untuk produk online berharga terjangkau. Perbedaan lainnya, sementara Inbound fokus menggarap ritel fashion, Pijar mencoba menyasar pasar yang lebih luas dengan menggarap UKM dan merek dari berbagai sektor.

Selain itu, Pijar menjadi laboratorium bagi Seira dkk. untuk mengeksplorasi berbagai media baru di ranah online. Salah satunya, pembuatan video. “Sejauh ini masih untuk video katalog. Ke depan, akan menyediakan konten video untuk YouTube,” ujarnya.

Dia pun kembali terjun langsung dari awal hingga eksekusi di lapangan. Dia bersedia membimbing setiap brand yang dikelola Pijar dari nol. Dari penggalian identitas sampai pembuatan panduan visual produk. “Istilahnya, kami seperti konsultan dan di Pijar ini servisnya lebih custom,” katanya.

Pijar membanderol Rp 50 ribu untuk foto produk per SKU (kode yang diberikan kepada setiap item barang), sedangkan untuk pembuatan video Rp 300 ribu/10 detik. Harga ini sudah termasuk penulisan deskripsi produk. “Ada pula paket untuk ghost mannequin dan kami juga sediakan paket social media. Tantangan untuk video adalah bandwidth para e-commerce kadang tidak cukup untuk video,” kata Seira.

Dia mengaku, Inbound dan Pijar dipasarkan dengan cara yang relatif serupa, yakni melalui media sosial dan jejaring bisnis, atau melakukan e-mail blast ke calon klien potensial. Dengan cara tersebut, 40% kliennya datang dari medsos. “Account manager kami sampai presentasi ke mana-mana. Lalu, ketika event Indonesia E-commerce Expo lalu, saya kebetulan jadi pembicara dan kami buka stand di sana. Dari situ kami juga dapat banyak klien,” Seira menjelaskan.

Di Pijar Imaji, saat ini Seira dibantu tiga fotografer dan seorang make-up artist. Dia pun menjadi fashion stylist jika diperlukan. Dengan kru tersebut, ia dan timnya bisa menangani hingga 350 SKU per hari.

Yang menarik, sejak Inbound berdiri, situs dagang seperti Zalora dan MatahariMall membuat sendiri lini visual konten internal. “Semenjak ada Inbound, MatahariMall buat MatahariMall Production, Zalora pun begitu,” kata Seira blak-blakan.

Meski begitu, Seira mengaku tidak khawatir bersaing dengan para raksasa situs dagang. Ia yakin, dengan kecintaan dan gairah pada bisnis konten visual, perusahaannya akan terus melaju. “Saya ingin Pijar bisa hadir di semua kota di Indonesia membantu secara visual para pengrajin dan UKM untuk go online dan go international,” ujar Seira penuh harap.

Salah satu pebisnis online yang menggunakan jasa Pijar adalah Aimee Jovia. Aimee yang berjualan busana melalui Instagram dan situs web mengaku telah tiga kali menggunakan jasa Pijar Imaji. Dari kerja samanya selama ini, Aimee melihat kualitas foto Pijar sangat memuaskan. Selain itu, Pijar dirasa cukup fleksibel memenuhi keinginannya. “Jika saya bisa memberi saran, sebaiknya turunkan harga sedikit agar lebih sempurna. Kualitas prima dan harga murah, mantab bukan?” kata Aimee. (Riset: Sarah Ratna Herni)

 

Editor : Harmanto Edy Djatmiko
Journalist : Maria Hudaibyah Azzahra

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
6 Langkah Bos Baru Facebook Indonesia Kembangkan Bisnis Pengguna

Memiliki pengalaman selama hampir 20 tahun dalam pemasaran produk konsumen di Asia, Facebook menunjuk Sri Widowati sebagai Head of Facebook...

Close