Langkah Nekad Vincentius Lianto Berbuah Manis | SWA.co.id

Langkah Nekad Vincentius Lianto Berbuah Manis

Sangat jarang terdapat orang yang bersedia meninggalkan kemapanan di daerah asalnya untuk bertaruh nasib di tempat baru. Vicentius Lianto (kini 50 tahun) merupakan satu dari segelintir sosok langka tersebut. Delapan belas tahun silam, dirinya meninggalkan Jawa Tengah, daerah yang relatif sudah dikuasainya dalam bidang pemasaran alat kesehatan (alkes).

Bersama keluarganya, dirinya malah bertaruh nasib dengan hijrah ke Pulau Dewata demi membesut bisnis serupa. “Secara geografi Semarang dan Jawa Tengah saya kuasai dengan baik. Tetapi saya akan berhadapan dengan gajah sementara saya hanya seekor semut kecil. Saya memilih menjadi semut yang berjalan di depan gajah yang akan selalu memberi dukungan, Lianto mengenang dasar keputusannya saat itu. Ditambah lagi, dirinya ingin menjaga hubungan baik dengan perusahaannya yang lama.

Kala itu, Lianto mempertaruhkan segalanya saat memulai kembali dari titik nol. Rumahnya di Semarang pun dijual demi mendirikan CV Surya Bali Makmur (SBM), perusahaan distribusi alkes bermodal Rp 198 juta. Meski harus merintis dari nol di wilayah yang baru, namun Lianto tak gentar. Reputasinya yang tanpa cela di kantor sebelumnya menjadi andalannya dalam menggaet klien dan prinsipal baru. Benar saja, satu per satu klien berhasil digaetnya.

Hingga akhirnya lompatan besar terjadi saat SBM berhasil memasarkan perangkat ventilator ICU (intensive care unit) produk Siemens ke sebuah rumah sakit. Prestasi tersebut membuat SBM ditahbiskan sebagai diler resmi Siemens Medical Solution untuk wilayah Bali, NTB, NTT dan Indonesia Timur. Sejak itulah bisnis SBM mulai berlari kencang.

DV Medika

Vicentius Lianto, Pendiri PT DV Medika

Seiring membesarnya perusahaan, Lianto pun mulai memperkenalkan merek DV Medika di bawah naungan PT D&V Medika Makmur Gemilang. Merek yang bermakna dream and vision itu mulai diperkenalkan ke publik dengan membuka ruang pamer di daerah Sunset Road, Kuta, Bali. Ruang pamer yang beratmosfir futuristik itu dirancang sebagai pusat belanja serba ada untuk berbagai alkes dan perlengkapan kantor modern .

Sementara itu, entitas lamanya SBM, ditingkatkan statusnya dari CV menjadi PT (Perseroan Terbatas). Segmen bisnisnya pun dipertajam, yakni untuk menangani pelanggan korporasi dan memegang keagenan merek-merek alkes terkenal dunia seperti Siemens, Draeger, Linet dan sebagainya. Berbagai produk alkes yang didistribusikannya mencakup hospital bed, furnitur rumah sakit, perangkat monitor pasien, aspirator, meja operasi dan lain sebagainya.

Pada pertengahan 2007, Lianto kembali membuka babak baru bisnisnya dengan memancangkan kantor pertama di luar Bali, tepatnya di Serpong, Tangerang, yang notabene merupakan kota kelahirannya. Terdapat dua peran penting kantor Serpong. Pertama memperluas jangkauan pemasaran dan kedua mengendalikan semua kegiatan ekspor dan impor di bawah bendera PT D&V International Makmur Gemilang (DV International).

Setahun berikutnya, Lianto menggunting pita show room retail alkes DV Medika yang setinggi tiga lantai di Jl Diponogoro, pusat kota Denpasar. Show room merangkap kantor tersebut juga menjadi pusat berbagai aktivitas ritel, pemasaran, keuangan dan akuntansi untuk bisnis DV Medika Group di kawasan Bali, NTB, NTT dan Indonesia Timur.

Adapun untuk memperlancar distribusi alkes di Indonesia dibangun pusat logistik di jalan Gatot Subroto, Denpasar. Kantor tersebut sekaligus menjadi sentra pelayanan dan perawatan alkes 24 jam untuk kawasan Bali, NTB dan NTT.

Masih di tahun yang sama, 2008, DV Medika kembali menorehkan pencapaian dengan meraih sertifikat ISO 9001-2000 sistem manajemen kualitas. Atas prestasi tersebut DV Medika pun diganjar sertifikat MURI dan tercatat di Museum Rekor Indonesia sebagai perusahaan yang memiliki show room retail alkes pertama di Indonesia yang bersertifikat ISO 9001-2000. “Ini merupakan vitamin penyemangat untuk terus melakukan inovasi,” kenang Lianto.

Di tahun 2011, Lianto kembali melakukan terobosan besar. Kala itu dirinya meresmikan pabrik hospital bed di Tangerang di atas lahan seluas 7000 m2. Kapasitas produksi untuk tahap awal itu pun cukup besar, 3 ribu unit pertahun dengan menggunakan brand sendiri yang telah dipatenkan, Platinum dan Platinum Inspiration.

Dengan kualitas produk yang dijaga ketat dan jaringan pemasaran yang luas, dalam tempo singkat Platinum sukses menerobos posisi 3 besar produsen hospital bed di Indonesia. Kapasitas produksinya pun melonjak tiga kali lipat lebih hingga mencapai 10 ribu unit per tahun. “DV Medika berhasil tumbuh dengan baik di atas rata-rata industrinya dalam skala nasional,” papar Lianto, bangga.

DV Medika pun terus mencetak prestasi gemilang. Salah satunya menjadi distributor Siemens terbaik seIndonesia dengan penguasaan pasar mencapai 80% untuk produk Siemens di area pemasarannya. Setelah menjadi distributor tunggal produk hospital bed Linet di Indonesia sejak tahun 2012, DV Medika juga berhasil menjadi distributor terbaik Linet di kawasan Asia Pasific. Bahkan, penjualan hospital bed Linet yang terus melaju pesat di bawah komando Lianto membuat manajemen Linet di Eropa mempercayai DV Medika menjadi mitra produksinya di Indonesia.

Sejatinya tak hanya Linet yang mempercayakan penjualan produknya melalui DV Medika. Kini, tidak kurang dari 10 prinsipal besar alkes di dunia mempercayakan distribusi produknya kepada DV Medika.

Dalam perjalanannya, DV Medika juga mencatat prestasi sebagai 10 penyedia alat kesehatan dengan penjualan tertinggi melalui e-katalog LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah) pada 2015.Ini merupakan sebuah kebanggaan dan spirit untuk terus berkarya dan berbuat yang terbaik. Tidak pernah ada yang terbaik, tetapi selalu ada yang lebih baik, Lianto mengungkapkan kebanggaan sekaligus tekadnya untuk terus meningkatkan standard dan kinerja perusahaannya.

Tekad itu pun dituangkan dalam rencana bisnis untuk memproduksi berbagai peralatan medis lainnya di Indonesia. Bersama dengan berbagai prinsipal kepercayaannya, DV Medika berniat untuk memproduksi modular operating panel sheet, patient monitor, operating table and lamps dan autoclave. “Kami secara konsisten mengikuti garis kebijakan Pemerintah Indonesia untuk menjadi mandiri dalam pemenuhan kebutuhan akan peralatan kesehatan dari dalam negeri,” tegas Lianto.

Termasuk di antaranya membangun pabrik hospital bed tambahan berkapasitas 20 ribu unit per tahun di kawasan industri Kendal, Jawa Tengah. Investasi senilai USD 15 juta pun telah siap dikucurkan untuk merealisasikan rencana tersebut.

Perjalanan 18 tahun di bidang distribusi dan industri alat kesehatan memang telah memantapkan Lianto untuk terus konsisten melaju di jalurnya. Dirinya pun telah memancangkan tekad DV Medika Go 500, yang merujuk pada target omset Rp 500 miliar yang akan dicapainya pada tahun ini.

Lianto yakin DV Medika Group akan menjadi perusahaan nasional papan atas di bidang distribusi dan penyedia peralatan kesehatan dan rumah sakit bukan saja untuk pasar domestik, tapi juga untuk pasar internasional. Untuk merambah pasar internasional, strategi ekspor pun telah digarap dengan matang. Rencananya, di bulan Oktober tahun ini, ekspor perdana Platinum Inspiration akan diluncurkan, bertepatan dengan ulang tahun Lianto.

Reportase: Silawati/Riset : Irvan Sebastian Iskandar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
(Kiri ke kanan) Executive General Manager Divisi TV Video Telkom Aris Hartoni, CEO HOOQ  Peter Bithos, Vice President Marketing Management Telkom Jemy Confido dan Country Head HOOQ Indonesia Guntur Siboro saat peluncuran IndiHome HOOQ di Jakarta, Rabu (15/3).
Luncurkan IndiHome HOOQ, Telkom Hadirkan Pengalaman Terbaik Nonton Video bagi Pelanggan IndiHome dan WiFi.id

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) bersama dengan provider layanan premium video-on-demand HOOQ melakukan launching IndiHome HOOQ sebagai upaya menghadirkan...

Close