Shintawaty Lee Jeli Lihat Peluang Saat Krisis Moneter | SWA.co.id

Shintawaty Lee Jeli Lihat Peluang Saat Krisis Moneter

Krisis moneter di tahun 1998 membuat banyak para importir di Indonesia menyetop bisnis mereka karena kurs dolar yang melambung tinggi. Sebaliknya, Shintawaty Lee Honda melihat peluang untuk mendatangkan barang dari Jepang. “Awalnya karena saya suka jalan-jalan dan berbelanja. Di Jepang, saya sangat betah jika ada di toko perlengkapan rumah tangga. Di tahun itu, importir juga banyak yang gulung tikar, selepas kuliah pun saya susah dapat kerja. Akhirnya saya beranikan diri untuk impor barang dari Jepang. Dulu impornya hanya sedikit-sedikit saja, sekarang sekali datang produk bisa banyak kontainer,” ujar Managing Director PT Anugerah Satu Talenta ini.

Awalnya, Shinta memasarkan produk yang didatangkannya melalui pameran di Plaza Indonesia. Tak disangka, respon yang didapat sangat baik. “Mungkin karena saat itu tidak ada barang impor yang bagus jadi konsumen di Indonesia tidak bisa dapat barang bagus,” kenangnya. Permintaan untuk menyuplai produk pun mulai berdatangan dari supermarket-supermarket besar seperti Sogo, Metro Departmet Store, Food Hall, Ranch Market, Transmarket, dan lainnya.

Selama 12 tahun berada di balik layar, di tahun 2010 Shinta membuka Tokyo 1. “Alasan kenapa saya membuka toko sendiri karena saya ingin lebih banyak mendatangkan barang-barang unik dari Jepang. Supermarket kan kadang tidak mau barang yang aneh-aneh, di Tokyo 1 ini saya bebas mau mendatangkan barang apa saja mulai dari stiker, balon, perlengkapan menjahit, dan lain-lain. Satu toko saja biasa ada 5.000 SKU,” ujar perempuan kelahiran Medan, 22 Desember 1975 ini.

Kini, Shinta telah bekerja sama dengan beberapa pabrik di Jepang sebagai suppliernya. Setiap bulannya, Shinta mendatangkan barang dari Jepang untuk mencegah terjadinya penurunan sales. “ Sales kami turun jika ada barang yang kosong. Jadi setiap bulan kami impor barang. Dulu, untuk impor kami pakai jasa orang lain, sekarang kami impor sendiri,” jelas Shinta.

Memulai bisnis dari umur 22 tahun, kini Shinta dibantu oleh keluarga dan 1.000 karyawan dalam mengembangkan PT Anugerah Satu Talenta. Berfokus di peralatan kebutuhan rumah, kini Tokyo 1 hadir di 15 tempat di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Harga yang ditawarkan relatif terjangkau mulai dari Rp5-49.900 ribu. Setiap harga diakhiri dengan angka 900 perak untuk membuat kesan lebih murah. Lulusan desain grafis dari Nanyang Academy of Fine Arts di Singapura ini mengaku mendapat kenaikan sales 20% setiap tahunnya.

Ke depan, Shinta merencanakan untuk mewaralabakan Tokyo 1 sebagai salah satu startegi ekspansi ke daerah lain. “Paling enak sebenarnya ekspansi ke daerah karena di sana konsumennya jarang menemukan barang yang bagus. Tapi, jika kami sendiri yang mengelolanya sepertinya agak repot. Jadi kami sedang merumuskan untuk sistem waralabanya. Saya inginnya biaya waralabanya tidak terlalu tinggi agar bisa fokus ke produk. Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa terealisasi,” ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Hellen Katherina
Gen Z: Generasi Terbaru dengan DNA Digital

Oleh: Hellen Katherina, Executive Director, Head of Media Business Nielsen Indonesia Siapakah Generasi Z? Sebagian di antara mereka masih berada...

Close