Agustinus Pake Seko, Nakhoda Perubahan Bayu Buana

Tahun 2016 menjadi tahun istimewa bagi Agustinus Pake Seko. Pada tahun tersebut, pria asal Bali itu dipercaya menjadi Direktur Utama PT Bayu Buana Tbk, setelah sebelumnya mengemban jabatan sebagai Direktur Pemasaran.

Memulai karier di Bayu Buana sejak 16 tahun silam, ia mengatakan awalnya masuk sebagai salah satu kepala cabang. Pria kelahiran tahun 1973 itu, bercerita, sejak awal memang punya passion di industri pariwisata. Sebagai orang asli Bali, pariwisata sudah seperti sebuah panggilan. Maka itu, tak heran bila latar belakang pendidikannya juga dari pariwisata. “Saya lulusan Pariwisata di Udayana, Bali,” ungkapnya.

Pada 2016, ia telah berhasil membawa Bayu Buana menorehkan kinerja cemerlang. Walaupun pendapatannya tidak naik signifikan, yakni hanya 8 sampai 10 persen, namun laba Bayu Buana naik hingga kurang lebih 20 persen.“Itu karena kami melakukan efisiensi,” ujarnya. Kini,  Bayu Buana telah memiliki 21 cabang yang mana 18 milik sendiri dan 3 kemitraan. Tahun ini, pihaknya menargetkan cabang Bayu Buana bisa bertambah sekitar 7 sampai 8 titik. Sedangkan pendapatan ditargetkan mencapai Rp 1,8 triliun hingga akhir tahun 2017.

Adapun agenda besar di Bayu Buana menurut dia, menjadikan Bayu Buana tidak hanya travel agent semata, tapi juga sebuah perusahaan pariwisata yang terintegrasi. “Dalam jangka panjang, kami berencana masuk ke bisnis hotel atau properti, "ungkapnya.

Saat ini, perseroan sudah memiliki sejumlah aset lahan yang telah diakuisisi. Akan tetapi, perseroan masih enggan untuk mengungkapkan lokasi dan luasnya. Menurutnya, untuk membangun satu hotel, perseroan membutuhkan lahan sedikitnya 2.000 m2 hingga 3.000 m2. Bayu Buana  terbuka dengan semua kemungkinan, baik itu membentuk joint venture atau membangun sendiri dengan mengakuisisi lahan. “Kami sekarang masih ada beberapa aset yang lagi dijajaki untuk akuisisi," jelasnya.

Beberapa inovasi, telah dilakukan oleh pendahulunya. Ia mengatakan contohnya bisnis umroh yang mulai digeluti sejak tahun lalu. Ia berharap di akhir tahun nanti, kontribusi pendapatan dari bisnis umrah bisa mencapai 15%, dari total pendapatan pada tahun 2017 ini.

Meskipun saat ini marak onlinetTravel company, ia mengaku tak merasa khawatir. Musababnya, Bayu Buana memiliki basis konsumen yang berbeda. “Kalau kami lebih ke perjalan paket wisata, dan bussiness to business,” ujarnya. Meski begitu dalam waktu dekat Bayu Buana juga akan menjajaki penjualan melalui online. “Prospek bisnis pariwisata masih sangat menjanjikan," dia optimistis.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)