LabConX Berganti Nama Menjadi PesanLab

LabConX  yang didirikan oleh Dimas Prasetyo tahun 2015, berganti nama menjadi PesanLab.com. Labconx merupakan e-commerce yang khusus melayani mereka yang ingin melakukan tes laboratorium dan mengetahui secara jelas berapa biayanya. Pergantian nama menjadi PesanLab menurut Dimas baru 4 bulan lalu dengan alasan nama lama tidak terlalu menjual dan tidak nyaman disebutkan.

Bersamaan dengan perubahan nama ini, Dimas juga menyampaikan sejak awal tahun ini e-commerce ini sudah di bawah bendera PT Mitra Digital Laboratorindo. Layanan PesanLab pun lebih luas, meski saat ini e-commerce ini masih dalam bentuk website, belum ada aplikasinya. PesanLab adalah platform tes lab medical check up, pemesanan, pembayaran dan hasilnya bisa dilihat secara online. Perubahan nama ini juga terkait penanam modal baru di PesanLab yang juga pendiri HaloDoc.

pesanlab

Menurut Dimas, sebelum mendirikan e-commerce ini, ia berkarier di sebuah perusahaan laboratorium klinis besar. Selama itu, ia melihat banyak pasien harus mondar-mandir, untuk sekadar menanyakan harga sebuah tes lab, lalu melakukan tes dan mengambil hasilnya. Pria kelahiran 1985 lulusan sebuah politeknik kesehatan ini kemudian mencetuskan ide e-commerce ini. “Masalah klasik yang ditemui, pasien untuk tes lab, tahapannya harus ke dokter, tes lab, antri, tidak tahu barapa harganya, baru kemudian tes lalu balik lagi ambil hasil,” ujarnya.

PesanLab diharapkan menjawab masalah tersebut. Pasien bisa mengetahui di mana laboratorium terdekat dengan rumahnya. Bahkan pasies bisa menggunakan jasa tes laboratorium di rumah atau kantornya, terutama untuk tes-tes lab dengan bahan tes urine atau darah seperti kolesterol, gula darah atau asam urat. “Pasien juga bisa mengetahui harga tes lab di web PesanLab,” imbuhnya. Hasil lab bisa dikirim ke email pasien.

Dimas meyakinkan, dengan PesanLab pasien bisa merasakan layanan yang lebih transparan, mudah, dan nyaman, dengan pilihan laboratorium-laboratorium terbaik di Indonesia. Saat ini ada 9 laboratorium klinis terbaik dengan standar ISO yang sudah bekerja sama dengan PesanLab. Sayangnya saat ini wilayahnya baru di Jabodetabek. Nama-nama itu antaranya Prodia, Laboratorium Kimia Farma, Path Lab, Biotest, Parahita.

“PesanLab ini masih baru, terlebih sebelumnya namanya berbeda. Maka itu fokus kami saat ini membangun brand awareness. Targetnya tiga bulan lagi bisa merambah 5 kota besar, setelah di banyak kota bisa lebih banyak lab yang bisa kami ajak kerja sama,” jelasnya.

Dimas mengaku respon masyarakat pada PesanLab cukup bagus meskipun baru berusia setahun, ini dilihat dari banyaknya pasien yang berulang menggunakan layanan ini terutama untuk melakukan tes diabetes,tiroid dan koleaterol yang dilakukan per 3 bulan sekali. “Untuk menarik minat, kami menawarkan ke konsumen diskon khusus, jadi bisa lebih murah harga yang kami pampang di PesanLab,” katanya.

Rencananya pada bulan Oktober tahun ini aplikasinya sudah diluncurkan di Google Playstore agar konsumen lebih mudah lagi mengakses PesanLab. Sejak diluncurkan dengan nama baru PesanLab lebih dari 500 jenis tes dari mobile web ini. Dan lebih dari 200 orang per bulan yang mencoba layanan ini. “Targetnya user bisa lebih dari 1000-2000 pengguna dan bisa memperoleh lagi sit funding dari lokal untuk development teknologi dan man power kami,” katanya.

Dimas mengatakan, PesanLab yang fokus pada diagnostik umum, menyasar pelanggan dari pasien sendiri ingin tes lab atas kesadaran sendiri, pasien yang direkomendasikan dokter, dan pasien korporat. Saat ini PT Adhi Karya (Persero) Tbk merupakan salah satu klien korporat PesanLab. “Kami bekerja sama dengan tim marketing partner laboratorium PesanLab untuk menggarap klien B2B ini,” ujarnya.

Lalu darimana pendapatan PesanLab? Monetasi PesanLab dari diskon channel yang ditawarkan para partner laboratorium klinis. “Kami didukung medical advisor, dokter pathology clinic agar flow tes lab PesanLab dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya. Dengan kemudahan yang ditawarkan PesanLab Dimas berharap kesadaran masyrakat makin meningkat untuk mendeteksi secara diri kondisi kesehatannya. “Penanganan kesehatan yang tepat itu 70 persen diambil dari tes lab,” ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Potensi Pajak Perusahaan Virtual Capai US$ 120 Juta

Isu mengenai ketidakpatuhan pajak mulai menerpa beberapa pelaku usaha berbasis virtual, salah satunya adalah Google. Kabar bahwa saat ini Google...

Close