Bagaimana Peran Corporate dalam Menciptakan Perdamaian Dunia?

International Peace Foundation (IPF) bekerja sama dengan Universitas Prasetya Mulya mengadakan kuliah umum bertajuk “From National to Regional and Global Governance”. Kuliah umum ini merupakan bagian dari rangkaian acara IPF sendiri di berbagai negara ASEAN yaitu “Bridges – Dialogues Towards a Culture of Peace” yang memiliki tujuan untuk mempromosikan kultur perdamaian.

Pembicara utama dalam kuliah umum ini adalah HE Jose Manuel Barroso, peraih Nobel Perdamaian dan Presiden European Comission. Dalam menciptakan kultur perdamaian, Barroso menekankan perlunya kerja sama lintas sektor, geopolitik, pemerintahan, pengetahuan, teknologi, dan ekonomi, semua ini bisa menjadi katalis.

“Tujuannya untuk memfasilitasi dan memperkuat dialog antara masyarakat di ASEAN dan meningkatkan rasa saling memahami antara orang-orang di seluruh dunia. Membangun kultur perdamaian di dunia yang telah terglobalisasi pastinya memiliki tantangan dan dampaknya terhadap politik, ekonomi, pengetahuan, dan kesehatan,” ujar Barroso di Kampus Prasetiya Mulya, BSD, Rabu (25/1).

Pergerakan ekonomi juga disebut berpengaruh terhadap kondisi perdamaian di dunia. Mari Elka Pangestu, mantan Menteri Perdagangan RI dan pengajar senior di Universitas Prasetiya Mulya, yang juga hadir dalam acara tersebut berpendapat bahwa perusahaan bisa berperan dalam hal-hal negatif yang terjadi dalam globalisasi.

“Kita tidak bisa taken for granted peace, karena ekonomi bisnis itu tidak akan jalan kalau tidak ada perdamaian. Di dalam konteks bisnis, sejauh mana perusahaan bisa berperan, dalam perusahaan besar biasanya memiliki banyak supplier, atau UKM, mereka harus bisa mengembangkan ini sehingga tenaga kerja yang ada juga ikut berkembang. Memperluas lapangan kerja. Ini bisa m
eredam inequity, di sinilah kontribusi corporate,” ungkap Mari Elka.

Selain itu Mari Elka juga berpendapat bisnis harus memberi manfaat bagian masyarakat dan lingkungan, sehingga yang paling penting adalah bagaimana menciptakan sustainable business. “Berbisnis jangan hanya mencari keuntungan semata, tapi juga harus memikirkan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Kalau bisnis yang sustainable, dalam arti dia memperkerjakan banyak orang dan memperhatikan lingkungan dia bisa lebih sustainable. Barroso mengatakan, intinya ada di leadership.

Untuk Good Corporate Governance (GCG), menurut Mari Elka lebih kepada urusan manajemen dan transparansi. Sementara untuk lebih berperan dalam hal ini adalah perlunya perusahaan memikirkan sustainable goal tadi. “Corporate governance ini masih terlalu sempit, yang paling penting itu adalah sustainable business. Sustainable goals ini sedang berkembang sekarang dalam konteks ini. Diperhitungkan dalam keuangan perusahaan,” tambahnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Transmart Carrefour dan Honestbee Layani Belanja Kebutuhan Harian Secara Online

Kini, berbelanja di Transmart Carrefour tidak harus datang ke outlet atau tokonya. Sebab, mulai hari ini secara resmi diluncurkan kerja...

Close