Hadi Wenas: Pola Perilaku Investor E-commerce Berubah | SWA.co.id

Hadi Wenas: Pola Perilaku Investor E-commerce Berubah

Nama Hadi Wenas di industri e-commerce sudah sangat dikenal. Ia telah malang melintang di berbagai perusahaan seperti Zalora, acommerce hingga saat ini di Mataharimall.com. Dari pengalamannya itu, ia mengeungkapkan bahwa telah terjadi pergeseran dari pola prilaku investor saat ini. Jika dulunya investor lebih menekankan tentang bagaimana perusahaan bisa tumbuh cepat, alias 3G growth, growth, growth, sekarang sudah tidak lagi.

Investor saat ini, kata dia sudah lebih kritis tenatang masa depan start-up. Bukan pertanyaan tentang growth, mereka, kata Hadi, sudah ke tahap selanjutnya, yaitu bertanya bagaimana start-up bisa making money atau menghasilkan uang. “Mereka bukan bertanya how fast can you go, tapi lebih ke how you make money, bagaimana exit plan dan sebagainya,” ujarnya di sebuah acara seminar di IPMI International Business School.

Lippo Group sebagai investor di Mataharimall.com sendiri ia katakan sudah sejak awal peduli tentang bagaimana starup bisa making money, alih-alih burning money. Banyak investor saat ini menurut dia, yang kembali ke titah tradisonal. “Dan saya rasa itu karena lebih sehat untuk start-upnya,” ujarnya.

~~

India, Amerika Serikat, ia katakan dulunya juga punya pola yang sama dengan Indonesia. Pada saat awal, mungkin banyak start-up bermunculan dengan random idea. Namun lama kelamaan, jumlah start-up tersebut akan semakin berkurang dengan adanya konsolidasi satu sama lain. Ia mencontohkan misalnya Bilna yang tadinya khusus menjual produk perlengkapan ibu dan anak, kini bergabung dengan perusahaan Thailand Moxy, yang punya segmen dan produk wanita.

Penggabungan keduanya, ia nilai sebagai, kebutuhan untuk menjadi ecommerce yang lebih besar.“Terlepas dari contoh tadi, terkadang ada foundernya good, tapi bisnisnya not good. Sebaliknya, bisnisnya good , foundernya tidak, dan itu akan saling berkonsolidasi,” ujarnya.

Ke depan ia harap kaum milenial bisa muncul mimpi-mimpi besar yang rasional secara bisnis. Karena untuk membangun start-up diperlukan sebuah keseriusan. “Kalau tidak serius akan berguguran,” ungkapnya.

Ia mencontohkan banyak perusahaan strat-up yang mulai berguguran satu per satu, yang bisa dijadikan bahan pembelajaran. “Eranya sekarang sudah berubah,” dia menegaskan.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Kiprah 60 Tahun Astra, dari 4 Karyawan Menjadi Ratusan Ribu

Lahir dari pasanggan Tjia Tjoe Bie dan Tan Hei Lan pada 20 Desember tahun 1922, William Soeryadjaya seolah ditakdirkan menjadi...

Close