Ini Jurus Baru Tanihub Gusur Tengkulak | SWA.co.id

Ini Jurus Baru Tanihub Gusur Tengkulak

Tanihub siap menerapkan jurus baru untuk memberangus peran tengkulak (middle man) di sektor pangan. Penyedia aplikasi perdagangan elektronik (e-commerce) untuk produk-produk pertanian tersebut akan membagi dua segmen pasar dalam aplikasinya, yakni Tanihub Ritel dan Tanihub Komoditas. Tanihub Ritel akan menyasar konsumen akhir (end user) dan Tanihub Komoditas akan menyasar pedagang di pasar tradisional sebagai konsumennya.

Visi misi Tanihub untuk mengangkat derajat para petani dan peternak dengan menggusur peran tengkulak selama ini telah mendapat respons positif. Saat ini, sudah 24 petani dan peternak yang bergabung dalam aplikasi Tanihub, mulai dari beras, sayuran, buah-buahan, hingga telur. Aplikasi rintisan perdagangan elektronik yang dibuat oleh Tanihub saat ini juga telah diunduh lebih dari 2.000 pengunduh dari sebelumnya hanya 1.040.

Michael Jovan, Pendiri TaniHub, E-Commerce untuk petani

Michael Jovan, Pendiri TaniHub, E-Commerce untuk petani

Michael Jovan, Founder Tanihub, mengatakan, visi misi awal Tanihub untuk membantu petani merasakan langsung menjual produknya ke konsumen telah tercapai. Petani dan peternak dengan produk apa pun bisa bergabung dalam aplikasi Tanihub, tentunya setelah memenuhi syarat kualitas dan kontinuitas dari Tanihub. Tanihub sendiri membeli harga produk petani atau peternak 10% lebih tinggi dari harga jual ke middle man. “Mereka bisa punya pengalaman berhubungan langsung dengan konsumennya di kota. Apa yang diinginkan konsumennya. Kami memberikan mereka pengalaman baru dan membuat mereka semangat untuk menjaga kualitas dan kontinuitasnya,” kata dia.

Namun mengingat saat ini masyarakat masih saja lebih senang berbelanja ke pasar tradisional dan supermarket, maka Tanihub akan membuat dua segmen dalam aplikasinya, yakni Tanihub Ritel dan Tanihub Komoditas.Tanihub Ritel akan menyasar konsumen akhir (end user) dan Tanihub Komoditas akan menyasar pedagang di pasar tradisional sebagai konsumennya. “Tanihub Ritel hanya akan fokus di kota-kota besar, karena kalau ke kota lapis kedua tidak akan laku, jadi dari petani langsung ke konsumen. Tanihub Komoditas nantinya dari petani ke pedagang di pasar tradisional, karena masyarakat masih ada yang tetap ingin ke pasar sebagai bagian dari kehidupan sosialnya,” kata Jovan.

Selain itu, Tanihub ke depan juga tidak hanya sebagai tempat petani menjual produk ke konsumen, tapi konsumen juga bisa menawarkan barang dan jasa yang dibutuhkan petani, sehingga terjadi perdagangan dua arah. “Produk petani juga akan kami pasarkan ke eksportir, hotel, dan restoran. Untuk menaikkan transaksi harian, kami juga akan fokus pada komoditas beras dan bawang sebagai produk utama, produk lainnya sebagai pendukung. Pembayaran juga dilakukan secara e-payment,” jelas dia.

Berdirinya Tanihub pada Agustus 2015 dilatarbelakangi oleh keprihatinan Jovan dan teman-temannya pada para petani tomat di Garut, Jawa Barat. Petani tomat hanya bisa menjual produknya Rp 500 per kilogram (kg), padahal di pasaran Rp 4.500 per kg. Setelah dianalisa, penyebab kondisi itu adalah manajemen usaha tani para petani yang kurang tepat dan rantai distribusi yang terlalu panjang sehingga biaya produksi menjadi tinggi yang mempengaruhi harga jual. “Inilah yang membuat saya dan teman-teman mendirikan Tanihub, kami ingin membantu petani menjual langsung produknya ke konsumen dan melepaskan diri dari peran tengkulak,” jelas Jovan. (Reportase: Arie Liliyah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Tahun 2017 Ekonomi Indonesia Diprediksi Lebih Baik

Kondisi makro ekonomi selama dua tahun terakhir yang kurang membaik ini, diperkirakan para pakar akan lebih baik di tahun 2017....

Close