Prasmul Bangun Empati Mahasiswa Lewat Bisnis Sosial

Direktur Kemahasiswaan Universitas Prasetiya Mulya (UPM), Dr Rudy Handoko, mengatakan,  pihaknya ingin menghasilkan lulusan yang tidak hanya berkualitas secara akademik tetapi juga memiliki kepekaan sosial.  “Banyak orang cerdas tetapi yang paling penting adalah cerdasnya bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya,”ujarnya.

comdev-prasmul-img_20160926_143202

Oleh karena itu, UPM membuka program Community Development (Comdev) yang telah dijalankan sejak tahun 2008. Lewat program ini mahasiswa diharapkan akan mampu membuat konsep-konsep bisnis yang tidak hanya mecetak profit tetapi juga membawa dampak sosial yang prositif bagi lingkungan disekitar bisnis tersebut dibangun.
Seluruh mahasiswa yang menempuh pendidikan jenjang strata satu di UPM diwajibakan mengikuti program ini. Rudy mengklaim, program Comdev yang dijalankan universitasnya ini berbeda dengan program kuliah kerja nyata (KKN) yang umum diselenggarakan perguruan tinggi di Indonesia.

“Umumnya program KKN membawa rencana kerja dari kampus ke desa, sehingga seringkali tidak sesuai kebutuhan di desa. Kami melakukan sebaliknya, kami turunkan mahasiswa ke desa untuk mencari tahu apa masalah atau kebutuhan disana terutama di kalangan pengusaha mikronya, dari sana kemudian dibantu dicarikan solusinya,” jelasnya.

Salah satu contoh sukses dari program comdev tersebut adalah Herawandi, pengusaha kripik pisang dari Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Ia menjadi salah satu pengusaha mikro binaan mahasiswa UPM yang menjalankan program Comdev di desanya.

Herawan mengaku awalnya omset kripik pisangnya hanya Rp 10 ribu per hari, tetapi setelah dibina dan dibantu mulai dari kemasan, pemasaran hingga manajemen keuangan kini omsetnya bisa Rp 12 juta per bulan. Melihat keberhasilan itu, kini beberapa warga di d ilingkungannya juga bersedia dibina oleh Program Comdev Universitas Prasetiya Mulya.

“Strategi kami memang membina satu atau dua pengusaha mikro dalam satu desa sebagai contoh, karena karakter warga di desa adalah tidak mau beruba kalau belum ada contoh sukses sebagai bukti, memang cukup sulit untuk mulai mencari calon role model tetapi jika sudah berhasil maka banyak yang akan mau ikut dibina,” ungkap Rudy.

Ke`depan pihaknya akan memberikan para pengusaha mikro tersebut ketrampilan yang lebih lengkap, tidak hanya manajemen bisnis dan keuangan saja, tetapi juga ada teknologi pangan, teknologi energi terbarukan dan teknologi terapan lainnya. “Ini akan membantu mereka (usaha mikro) berkembang khususnya ke arah hilir,” ujarnya. Tak hanya itu, kedepannya Program ini juga akan mendorong para pelaku usaha mikro tidak hanya yang bergerak di produksi produk tetapi juga jasa.

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Sektor Infrastuktur di UUS Maybank Indonesia Capai 90%

Maybank memprediksi belanja modal infrastruktur Indonesia untuk 2016-2020 mencapai US$ 264 miliar atau setara 30-35 produk domestik bruto (GDP) negara....

Close