Viro Viber Kembangkan Bisnis Ritel

Ekonomi global yang belum pulih benar membuat banyak perusahaan mengubah strategi bisninya. Salah satunya, Viro Viber. Produsen produk rotan sintetis ini kian gencar menggarap pasar B2C seiring menurunnya ekspor. Ini karena banyak perusahaan yang menjadi pelanggannya menunda pelaksanaan proyek. Langkah ini diharapkan mampu mendukung target ekspor ke 30 negara.

"Produk kami digunakan kelas menengah ke atas. Kini, yang menjadi market leader adalah produk atap alang-alang," kata Peter Mulyadi, Manager Marketing Viro Viber (PT Polymindo Permata).

Polymindo

Menurut dia, upaya menembus pasar ritel juga tidak semudah membalikkan tangan. Mereka harus mengubah sistem seiring perubahan model bisnis dari B2B ke B2C. Langkah ini tidak bisa cepat mengingat mereka telah terbiasa menghadapi klien perusahaan yang biasanya sesuai proyek alias custom size. Di segmen ritel, mereka harus memiliki stok dan membuat kesepakatan dengan retail store di Indonesia dan berbagai negara lain. "Kami harus membuat standardisasi dan banyak belajar di internal Viro sendiri," kata dia.

Meski begitu, dia yakin perubahan ini bisa mendukung kelangsungan bisnis perusahaan. Untuk itulah, mereka agresif memperluas jangkauan distributor dan koneksi. Bahkan, hingga ke negara-negara di Afrika dan Eropa yang industri pariwisatanya tengah berkembang pesat. Produk Viro Viber kebanyakan digunakan untuk resort dan mendukung keindahan tempat wisata lainnya.

"Hambatan di dalam negeri ini adalah harga dan produk tersebut masih tersedia di Indonesia. Misalnya atap alang-alang yang barang aslinya masih tersedia banyak di pasaran Indonesia. Kalau di luar negeri, produk seperti ini sudah jarang ditemukan. Sehingga, mereka berani membeli dengan harga tinggi," kata dia.

Peter bersyukur tidak ada hambatan ekspor di Indonesia. Pemerintah justru sangat mendorong ekspor produk tersebut lewat beragam pameran untuk melestarikan kebudayaan Indonesia. Inilah yang membuat manajemen optimistis produk asli kebanggaan bangsa ini bisa laris-manis di luar neger. Hikmah yang dapat dipetik adalah orang Indonesia tidak boleh malu dengan kemampuan yang dimiliki. Indonesia dapat melakukan sesuatu yang dapat digali.

"Yang penting adalah konsistensi dalam menjaga kualitas. Tidak ada kunci lain untuk menembus ekspor ke pasar global. Kualitas tidak boleh berubah sedikit pun. Itu adalah harga mati," kata dia. (Reportase: M Nurhadi Pratomo)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)