Pasien Perawatan Estetika Remaja dan Pria Meningkat

Kesadaran ingin tampil menarik ternyata melanda bukan saja di kalangan ibu muda. Bahkan sudah masuk ke remaja dan pria. Pilihannya pun menarik, mereka ingin bentuk wajah mereka lebih baik dari yang sudah dimiliki saat ini. Seperti ingin hidungnya lebih bangir, wajah lebih tirus, memperbaiki kekurangan di sekitar kantung mata, dagu lebih runcing dan sebagainya. Kemajuan kedokteran estetika memungkinkan semua itu perbaikan itu.

JAC

Dalam acara “Beautiful Transformation-Jakarta Aesthetic Clinic (JAC) Launch Party” kemarin, dr. Olivia Ong, dipl. AAAM menyampaikan fakta-fakta menarik tentang ini. Dokter yang memiliki passion ingin membantu orang terlihat lebih muda, sehat dan hidup lebih bahagia ini menuturkan range pasien yang datang ke kliniknya bukan lagi 35 keatas seperti sebelumnya. “Ada fenomena, pasien kurang dari 25 tahun, sampai lebih dari 55 tahun jumlahnya sudah duakali lipat dalam dua tahun terakhir, termasuk pasien pria,” ujar dokter kulit dan kecantikan lulusan Universitas Atmajaya, Jakarta ini.

Pasien di bawah umur 25 tahun naik 25%, yang 55 tahun ke atas naik 11 persen, sedang pasien laki-laki meningkat dua kali lipat. Kebanyakan dari mereka memilih perawatan fillier, botox dan skin tightening. Sejak mendirikan praktik tahun 2008, dr. Olivia menyebut ada sekitar 3300 pasien tetap di kliniknya.

Selain itu, dr. Olivia  menyampaikan perkembangan baru yang ia dapat sepulang dari Uppsala, Swedia, dalam kunjungannya ke Pusat Research and Development dan produksi filler hyaluronic acid pertama dan terbesar di dunia, Restylane. Bahwa sejak abad ke-21 orang yang terus melakukan prosedur estetik non bedah meningkat pesat hampir 10 kali lipat dibanding angka prosedur bedah itu sendiri. Hal tersebut karena orang mulai ada pilihan prosedur estetika tanpa operasi dan pengalaman yang dirasakan sendiri hasil yang instant namun berdampak positif bagi kehidupan mereka sehari-hari. Berdasarkan hasil riset ada 3 prosedur estetik yang paling banyak dilakuakn orang di dunia yaitu filler, botox dan skin tightening.

Menurut dokter yang rajin mengikuti seminar-seminar kedokteran estetik di luar negeri ini, JAC yang didirikannya pun melakukan transformasi dengan lebih ke arah non operasi. Terlebih pasien yang datang juga kini profilnya berbeda, terjadi peningkatan di pasien remaja. JAC lebih mengedepankan teknik estetika yang membuat pasien merasa sangat nyaman menjalani prosedur, termasuk mereka yang baru pertama kali melakukannya.

“Salah satu jasa yang kami tawarkan adalah teknik menyuntik satu titik untuk memancungkan hidung, lalu ada juga penggunaan catulla tumpul yang halus untuk memudakan kembali kulit wajah yang prosesnya sangat cepat dan nyaman sehingga pasien bisa langsung kembali ke aktfitasnya lagi tanpa mengambil cuti kantor,” ujar kelahiran Januari 1981 ini.

Johan Mandrawan, 35 tahun, salah satu pasien laki-laki JAC mengatakan dia bukan tipe yang mudah tertarik perawatan estetik. Pria yang punya usaha fashion ini mengatakan ketertarikannya menggunakan layanan JAC untuk botox dan filler karena melihat hasil dari temannya agar terlihat lebih fresh dan muda. “Saya lalu datang dan merasa nyaman konsultasi dengan dr. Olivia,” ungkapnya. Sebagai laki-laki tentu butuh pendekatan berbeda, Johan menuturkan dr. Olivia membuatnya memiliki prespektif berbeda tentang estetika.

Hal yang sama dirasakan Sarah Vi, artis yang kini lebih banyak waktunya menggeluti bisnis fashion ini, sudah dua tahunan menjadi pasien dr. Olivia. Ia yang memiliki masalah di seputar mata, yang terlihat seperti kantung itu, merasa nyaman dan cocok dengan produk-produk JAC. “Terutama produk krimnya yang menurut saya membuat saya lebih cantik, natural elegant dan timeless,” katanya mengakhiri pembicaraan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)