Potensi Kursus Bahasa Online di Mata Tomy Yunus

Instrumen aturan pengetatan tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia yang dikeluarkan Kementrian Ketenagakerjaan dianggap Mariko Asmara Yoshihara, Chairman of JAC Recruitment Indonesia bisa memberikan peluang bagi tenaga kerja Indonesia.

Tomy Yunus Co-Founder dan CEO Squaline.com (kanan) Tomy Yunus Co-Founder dan CEO Squline.com (kanan)

“Tenaga kerja asing dibayar lebih tinggi daripada tenaga kerja Indonesia. Oleh karena itu orang Indonesia harus bisa membuktikan bahwa mereka juga memiliki kualifikasi yang sama dengan asing. Salah satunya melalui penguasaaan bahasa asing,” jelas blasteran Indonesia Jepang ini. Dengan begitu tenaga kerja Indonesia bisa memperoleh benefit yang lebih baik.

Di perusahaan Jepang misalnya, fresh graduate dengan kemampuan berbahasa Jepang bisa mendapatkan gaji kira-kira Rp 6 juta. Sementara karyawan dengan kemampuan bahasa Inggris hanya mendapat Rp 4,5-5 juta. Di Indonesia ada 1.700 perusahaan Jepang, sehingga Mariko memandang bahwa kesempatan tersebut, tak boleh disia-siakan.

Menurut Mariko, belajar bahasa asing dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui internet. Melihat potensi ini, Tomy Yunus Co-Founders dan CEO Squline.com pun mulai mengembangkan Squline.com di tahun 2013, yaitu kursus bahasa berbasis online.

Di tahun awal berdiri, website ini hanya memiliki 30 peserta dan di Desember 2016 sudah mampu mencapai 1.100 peserta dari Indonesia, Korea, Filipina, Jepang, dan US. Menurut Tomy dari tahun 2015 ke 2016 terjadi lonjakan peserta 200%. Peserta kursus merupakan anak muda di usia 22-35 tahun dan 70% di antaranya mengambil kursus bahasa Inggris.

Kursus berbayar ini bekerja sama dengan institusi di Manila untuk bahasa Inggris dan Universitas di Beijing untuk bahasa Mandarin. Di tahun 2016, Squline.com bekerjasama dengan Aki no Sora, yaitu lembaga kursus bahasa Jepang di Indonesia untuk memberikan layanan bahasa jepang.

Dengan adanya penambahan bahasa, ia berharap bisa menarik 300 peserta kursus baru di tahun 2017. “Kami juga memberikan harga yang terjangkau yaitu mulai Rp 500 ribu untuk bahasa Inggris dan Rp 800 ribu untuk Mandarin dan Jepang per bulan. Kami ingin menggapai seluruh kalangan, sehingga semakin banyak yang tergabung,” jelas Tomy.

Dengan 70 pengajar, setiap peserta bisa belajar langsung melalui Skype melalui 1 on 1 class. Selain itu setiap peserta juga diberikan e-book dan waktu belajar yang bisa disesuaikan. Tiap hari siswa bisa belajar mulai dari 30-60 menit. Setiap level memiliki waktu belajar 100 jam, untuk naik level setiap peserta wajib melewati ujian.

Namun, waktu 100 jam  dihabiskan dalam waktu satu bulan. Oleh karena itu di bulan berikutnya peserta wajib membayar biaya kursus untuk menyelesaikan level yang diambil. Setiap peserta kursus akan mendapatkan sertifkasi dari Squline.com.

Meski memiliki potensi yang besar, Tomy mengaku belum bisa mengungkapkan berapa jumlah omset yang diperoleh Squline.com. Menurutnya, ia masih berfokus pada pengembangan marketing dan sosialisasi produk. Pihaknya memperoleh fee dari sistem bagi hasil dengan institusi atau universitas yang diajak bekerjasama. Namun meski begitu kedepannya ia berharap bisa menambah jumlah bahasa yang ditawarkan. Ia berharap setiap tahunnya bisa menambah satu bahasa asing lainnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)