Saatnya Media Cetak Berburu Iklan Multichannel

Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara, mengatakan, kini saatnya perusahaan media cetak tidak hanya mengandalkan pendapatan iklan secara konvensional. “Saatnya berubah untuk mampu menghadirkan model pemasaran multichannel, termasuk pemasaran digital untuk mendapatkan iklan. Media cetak juga harus mampu mengintegrasikannya pada platform media sosial seperti Facebook, Twitter, YouTube, dan lainnya,” katanya di sela-sela acara talkshow kelahiran kembali Majalah Sinyal di Djakarta Theater XXI Jakarta.

Menurut Rudiantara, teknologi digital kini sudah menjadi subyek bagi industri media cetak karena kini informasi makin cepat, akurat, dan dapat diakses dimana saja berada. “Yang dibutuhkan media cetak saat ini adalah economic of scale dan mesti dikelola secara professional,” tambah Chief RA, panggilan akrab Rudiantara. Artinya, media cetak butuh adaptasi pada kemajuan teknologi digital.

Talkshow tersebut mengambil tema “Teknologi Digital Membuat Media Lebih Hidup”. Hadir sebagai pembicara dalam acara ini Rudiantara , Menteri Komunikasi dan Informasi; Merza Fachys, Ketua ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia) sekaligus CEO Smartfren; Dahlan Dahi, Executive Director Kompas Gramedia Majalah.

Merza Fachys menyatakan dari sebuah studi ia meyakini masih ada ceruk pasar yang dapat dimanfaatkan oleh media cetak. “88% responden dari suatu penelitian melihat bahwa membaca produk cetak akan mendapatkan pengetahuan lebih mendalam daripada online. Sementara 64% pemasang iklan belum mau meninggalkan media cetak,” kata Merza. Menurutnya, media yang menekankan perlunya media cetak melakukan integrasi dengan dunia digital. “Printing jadi jendela online, sebaliknya online juga jadi jendela printing,” tambahnya.

Dahlan Dahi menambahkan, dari pengamatannya bahwa media cetak harus menyesuaikan konten yang relevan ke pembacanya. “Berbagai data dari online perlu dilihat seperti 91% pengguna online datangnya dari mobile. Perlu ada penyesuaian ketika konten dialirkan lewat smartphone,” tambahnya. Adaptasi terhadap perilaku konsumen menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar agar informasi yang disajikan dapat dinikmati oleh kebanyakan pengguna.

Industri media cetak harus dapat menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen sambil tetap melakukan inovasi bisnis. Pendapat Robert G. Pickard, professor bidang ekonomi media dan manajemen sekaligus peneliti senior di Reuters Institute, University of Oxford yang menyatakan bahwa industri media cetak tidaklah mati karena gempuran digital ternyata relevan.

Tantangan terbesar yang dihadapi oleh pebisnis media cetak adalah bagaimana menjadikan teknologi digital menjadi cara baru dalam mengoperasikan bisnis serta menjadi peluang untuk berkembang dan tumbuh. Karena itu butuh visi yang jelas untuk menjadikan teknologi digital mampu membuat media cetak hidup lebih berwarna. Pada saat yang sama, butuh tebaran optimisme bahwa adanya teknologi digital adalah keniscayaan dan menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan cerdik dan kreatif.

Untuk dapat beradaptasi dan dapat terus bertahan sejumlah tahapan perlu dilakukan melalui transformasi bisnis. Pendapatan yang diperoleh untuk kelangsungan bisnis media adalah dari konsumen dan pengiklan. Konsumen punya banyak pilihan dalam berlangganan misalnya dapat berlangganan versi digital tanpa perlu menggerus versi cetaknya.

“Yang jelas, ketika media cetak dapat mengisi kebutuhan konsumen, mendengarkannya, dan memberikan mereka peluang untuk berkomentar secara aktif baik di cetak maupun online. Kesempatan untuk berkomentar dan menganalisis membuat media cetak semakin erat ikatannya dengan pembacanya,” tambah Dahlan.

Transformasi bisnis media cetak tidak hanya melibatkan perusahaan media tetapi juga orang, organisasi, dan budaya perusahaan. Kebutuhan pada analis data dan mengintegrasikannya ke dalam organisasi contohnya akan membawa perusahaan dapat mengambil keuntungan dari analisis data terkait bagaimana mengakusisi pelanggan, dan melakukan monetisasi.

Dengan data yang cukup membuat insight yang menyeluruh ketika akan membangun konten bagi konsumen. Kebutuhan kecepatan di era digital juga harus diadaptasi sehingga tidak sekadar memberikan konten dengan cepat tapi juga membungkus ide-ide segar dengan lebih cepat.

“Kehadiran kami dengan bentuk majalah dengan tampilan baru diharapkan mampu memenuhi kerinduan para pembaca yang ingin mendapatkan ulasan lebih dalam seputar teknologi, gadget dan telekomunikasi . Di sisi lain, kami juga melakukan integrasi dengan tren teknologi yang sedang berkembang,” ungkap Moch. S. Hendrowijono, Pemimpin Redaksi Sinyal Magz.

Menurut Hendro, pada Maret 2017, pihaknya memutuskan untuk menerbitkan kembali Sinyal Magz. Namun, tidak dalam bentuk tabloid yang terbit dua mingguan, melainkan format majalah bulanan.

Tidak ada yang berubah dari target market Sinyal, yakni remaja dan dewasa yang berusia 30-40 tahun. Selain itu, penerbitan Sinyal tidak lagi dilakukan oleh Gramedia Majalah. Akan tetapi, penerbitan dilakukan PT Kreasi Komunika Gitamedia, yang dibentuk oleh beberapa wartawan senior. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)